It’s Love

Title:

[ONESHOOT] It’s Love

Auhtor:

Soshinism

Cast:

Choi Sooyoung and Shim Changmin as main casts, Choi Siwon and Song Qian as     supporting casts

Genre:

Sad romance

Rating:

PG-13

Length:

Oneshot

Note:

Annyeonghashimnikka J

Prior, I was a reader here. Hehe, kali ini –setelah pengalaman banyak baca story– aku mau ngasi cerita ke kalian semua, readers di sini. Atau mungkin, ada author juga yang baca? FF ini sebenernya udah pernah dipost di Kyuyoungshipperindo.wordpress.com tentunya dengan Kyuhyun-Sooyoung sebagai pemeran utamanya, mereka juga original casts ff ini. Ngga papa kan ya? Aku Cuma mau tau gimana bedanya reaksi pembaca ff ChangSoo dan KyuYoung dengan story yang sama, cuma aku ubah beberapa alurnya.

Ada beberapa lagu yang bisa kalian dengerin waktu baca story ini. Sebenernya sih aku ngga nemu yang pas banget buat ff ini, jadi yaudahlah dengerin aja lagu-lagu ballad nan sedih kayak lagu-lagunya Davichi. Terus kalo lagu dari SNSD bisa yang Complete atau Forever, atau TaeNy yang Lost in Love._.

Just read it CAREFULLY, karena tanggal-tanggal di story ini sangat penting to understand gimana cerita ini alurnya. Kalo kecepetan alurnya, tolong bilang ya. Soalnya memang aku buat sepotong-sepotong gitu, not in detail. Critics needed! Comment and tell me what you think about my story, thanks! XD

HAVE A GOOD READ~

Winter, February 2013

Today

07.09 A.M. KST

Lelaki itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Wajahnya pucat, matanya yang sudah bengkak masih juga dihiasi dengan lingkaran hitam yang tak terlalu jelas terlihat, sedangkan bibir indahnya yang biasa tersenyum sekarang menekuk ke arah bawah. Tidak, tidak pernah lagi terlihat keceriaan di wajahnya. Tidak pernah lagi ia tersenyum sumringah seperti dulu.

Tidak pernah lagi.

Ia tetap bekerja, bagaimanapun Ia adalah seorang direktur. Ia hanya, kehilangan semangat bekerja.

Lelaki itu sudah sampai di tempat tujuannya. Ia keluar dari mobil dan duduk di salah satu bangku di taman yang menurutnya sangat indah itu. Taman ini sepi, bahkan hanya satu-dua pasangan atau keluarga yang datang ke taman ini, itupun hanya saat weekend. Ia menatap kosong ke arah danau di depannya. Merasakan hembusan angin yang dengan tidak sopannya menyentuh kulit tidak-terlalu-putih miliknya.

Di taman ini, ia kembali mengingat semuanya.

Winter

February 10, 2010

10 menit sudah lelaki itu menunggu wanita yang sedari tadi belum juga keluar dari kamarnya. Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya pertanda bosan. Tak berselang lama, wanita itu keluar dengan dress panjang berwarna biru muda miliknya. Ia hanya sedikit memoles wajahnya, tidak berlebihan. Natural. Oh, wanita itu juga memakai sweater panjang berwarna coklat tua karena malam ini tanpa didugatemperatur sedang tidak bersahabat.

“Changmin Oppa jeongmal mianhae, apa kau menunggu lama?”

“Hm bisa dibilang begitu.” Lelaki itu membalasnya dengan berpura-pura kesal. Membuat wanita di depannya itu mengerucutkan bibirnya sebentar.

“Hahaha kau lebih cantik jika seperti itu.” Pujian yang keluar dari bibir lelaki itu membuat wanita tadi mau tidak mau sedikit menaikkan feromonnya. Pipinya memerah menahan malu sekaligus senang karena jarang-jarang lelakinya mengucapkan hal seperti itu kepadanya.

“Kajja. Aku sudah tidak sabar.”

“Kajja Oppa.”

***

“Aku mau mengatakan sesuatu padamu.”

“Katakan saja.” Ucap wanita itu dan tersenyum sembari menggosok tangannya satu sama lain karena angin di taman itu benar-benar menembus tulangnya. Ia sebenarnya sedikit terkejut karena lelaki di depannya itu malam ini lebih serius daripada biasanya.

“Mmm.. A-Apa..” Wanita itu hanya diam, Ia tidak ingin memotong perkataan lelaki yang menurut perkiraannya sedang gugup itu.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

“Apakaumaumenjadiistriku.” Ia mengucapkan keinginannya dalam satu tarikan nafas, wanita itu benar, Changmin terlalu gugup.

“Apa– apa?! Yya! Jangan cepat-cepat bodoh!”

“Aku. Mau. Kau. Menjadi–“ Changmin berhenti sejenak, ia memandang mata wanitanya dalam.

“Lanjutkan atau kau akan kutinggal di sini.”

“Yya! Andwe!”

“Cepat katakan.” Changmin kemudian menggenggam tangan wanitanya tersebut dengan lembut.

“Sooyoung-ah, tidak ada penolakan untukmu menjadi istriku.”

Wanita cantik itu bersumpah hari itu adalah hari ulang tahunnya yang paling indah.

Winter, February 2013

Today

Kejadian itu kurang lebih tiga tahun yang lalu. Hari yang sangat membahagiakan baginya dan juga bagi wanitanya. Sungguh, Ia merindukan sosok Sooyoung yang selama ini menggerayangi pikirannya. Tak terasa, air mata lelaki itu meluncur dengan bebas di permukaan wajahnya. Inilah yang Ia lakukan jika sedang sendiri, membuat pertahanannya sebagai seorang lelaki hancur seketika. Ia tidak peduli apa yang orang katakan tentang dirinya, Ia hanya ingin mengeluarkan isi hatinya saat ini.

Ia berdiri dan mengitari taman itu. Kebiasaannya bersama Sooyoung, dulu. Ah tidak, sebenarnya itu kebiasaan Sooyoung yang ia tiru. Setelah itu Ia duduk lagi di bangku yang tadi didudukinya. Changmin mengambil sesuatu dari dalam dompetnya, sebuah foto. Fotonya bersama Sooyoung saat berada di taman ini. Wanita itu terlihat cantik dan manis di saat yang bersamaan meskipun Ia hanya tersenyum tipis, sedangkan Changmin hanya memasang wajah datarnya sambil memeluk Sooyoung dari belakang di foto itu.

Spring, May 2011

“Kenapa sih kau suka sekali berjalan mengitari taman ini kemudian kembali duduk di bangku yang sebelumnya sudah kau duduki?”

“Memangnya kenapa? Aku suka saja melakukannya. Apalagi ini Musim Semi, pemandangan indah dimana-mana, Oppa.”

“Cih. Aneh.”

“Hey Oppa, kaulah yang aneh.” Sooyoung kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena interupsi dari lelaki yang menemaninya tadi. Ia sangat menyukai kegiatan ini, entah kenapa rasanya menenangkan.

Ia merasakan seseorang berjalan di sampingnya.

“Hah. Akhirnya kau juga tetap mengikutiku kan Oppa.”

“Aku tidak bisa berjauh-jauh darimu, yeobo.”

“Eww menjijikkan! Jangan panggil aku dengan sebutan itu Shim Changmin!”

Sooyoung mempercepat langkahnya. Ia memang tidak suka dipanggil seperti itu, meskipun Changmin sudah sah menjadi suaminya, panggilan semacam yeobo atau chagi tetap terdengar aneh di telinganya.

“Yya! Aku ini suamimu! Masa aku tidak boleh memanggilmu seperti itu?”

Sooyoung tidak mengindahkan apa yang dikatakan Changmin. Wanita itu berjalan mendekati sebatang pohon Sasunyu yang sedang bersemi bunganya.

“Oppa lihatlah. Bunga Sasunyu itu indah bukan? Warna kuningnya sangat menarik!” Changmin hanya bisa tersenyum melihat bagaimana istrinya sangat menyukai pohon itu.

“Oppa, kemarilah.” Changmin mendekat ke arah Sooyoung dan Sooyoung sudah siap dengan kameranya. Tau arti kamera itu, Changmin langsung memeluk Sooyoung dari belakang dan melingkarkan tangannya di perut rata istrinya. Segera wanita itu mengambil foto mereka berdua dengan latar pohon Sasunyu di belakangnya.

“Biar aku yang mencetaknya nanti Sooyoung-ah.” Sooyoung tersenyum dan setelahnya kembali melanjutkan ritual mengitari taman-nya dengan Changmin tetap menguntit di samping wanita itu sambil merangkul bahunya mesra.

 

Winter, February 2013

Today

09.23 A.M. KST

Jicheyoitdeon gaseumi dashi sumshwigo

Gananhaejin maeumi bicheul chajasseo

Yeongwontorok ireohke neoui sonjabgo gatchi geotgo shipeo

Uri dul manui sesange saranghaneun nae saramgwa hamgge

Sepenggal lagu yang sedang ia dengarkan itu mengingatkannya pada Sooyoung. Ia ingat Sooyoung sangat menyukai lagu itu. Sooyoung pernah mengatakan padanya bahwa lagu itu sangat mencerminkan cintanya pada Changmin.

Lagi, lelaki itu menangis lagi.

“Mana janjimu untuk bersamaku selamanya, Sooyoung-ah..” Ucap lelaki itu lirih.

Summer, June 2012

“Musim Panas.. Summer.. Bukankah kau dipanggil Summer oleh temanmu yang pirang itu?”

“Jika yang kau maksud Jessica, maka itu benar.”

“Ah ya, Jessica! Mengapa dia memanggilmu Summer?”

“Tidak tau, dia bilang aku ini ceria, seceria orang-orang saat Musim Panas tiba.”

“Aku setuju dengannya. Kau itu wanita paling ceria yang pernah kutemui.” Changmin tersenyum senang dan mencubit pipi tembam Sooyoung setelahnya. Ia begitu mengagumi keceriaan yang dimiliki wanita yang berbaring di sampingnya ini.

“Yya! Appo Oppa!”

“Hehe biarkan saja, salah siapa kau punya pipi yang sangat bulat seperti itu.” Sooyoung mendengus kesal mendengar jawaban yang Changmin berikan. Ia kembali memandangi pohon tempat di mana Ia dan Changmin berbaring di bawahnya saat ini. Cuaca tidak begitu panas karena pohon rindang tersebut sedikit menutup akses masuk cahaya ke area di sekitarnya. Yang pasti, kali ini bukan Sasunyu lagi.

Sooyoung memasang headset ke telinga kirinya dan telinga kanan Changmin. Ia menekan tombol play pada Ipod putihnya. Changmin yang terkejut hanya diam dengan perlakuan Sooyoung. Ia mendengarkan lagu yang sekarang berputar memenuhi telinganya. Changmin melirik wanita di sampingnya ini sekilas, Sooyoung begitu menikmati lagu yang Ia setel barusan. Wanita itu memejamkan mata besarnya sembari mengetuk-ngetukkan jemari lentiknya mengikuti irama lagu.

“Oraen sewori hulleodo yeongwonhi neowa ggumggugo shipeo…” Sooyoung sedikit mengikuti lirik lagu itu di bagian akhir. Ia tersenyum dan menatap Changmin.

“Aku ingin selamanya seperti ini  Oppa. Aku ingin terus bermimpi denganmu dan bermain dengan anak-anak kita nanti. Aku ingin selamanya bersama denganmu, dan aku berjanji akan hal itu.” Changmin tersenyum lembut memandangi wajah cantik istrinya. Ia kemudian mengecup bibir Sooyoung agak lama, menyalurkan perasaan cintanya kepada wanita yang sudah beberapa tahun ini menemani dirinya.

“Aku juga berjanji akan menjaga dan mewujudkan janjimu itu, Sooyoung-ah.”

Winter, February 2013

Today

“Maaf.. Maaf.. Maafkan Oppa, Oppa mengingkari janji Oppa.. Maafkan Oppa, Sooyoung-ah..” Lelaki itu tertawa miris, Ia dan istrinya sama saja. Keduanya gagal mewujudkan janji yang mereka buat.

Changmin mengeluarkan sesuatu dari kantong bagian dalam coat musim dinginnya. Sandwich. Ia menggigit sedikit sandwich itu, tidak berniat mengenyangkan perutnya. Setelah itu, Ia meminum Darjeeling Second Flush-nya yang masih utuh, yang sedari tadi setia berdiam di bagian kosong bangku yang Changmin tempati.

Autumn, November 2012

“Yaa Oppa, akhirnya kita kembali ke pohon Sasunyu ini lagi!” Sooyoung berteriak senang saat dirinya dan Changmin sampai di taman langganan mereka. Sooyoung mengajaknya ke bawah pohon Sasunyu kesukaannya yang akan berubah kemerahan saat Musim Gugur seperti ini. Wanita itu mendudukkan dirinya kemudian mengeluarkan beberapa makanan yang sudah Ia siapkan dari rumah.

Sandwich?

“Yeah. Sudah lama aku tidak makan Sandwich.”

“Dan itu, apakah Darjeeling lagi?”

“Yap hahaha. Second Flush.” Changmin hanya diam. Ia jujur saja, lebih menyukai wine daripada teh maupun kopi.

“Kau tidak tertarik mencobanya?” Ujar Sooyoung sambil sedikit menaikkan alisnya.

“Tidak. Beda lagi jika kau membawa Campogiovanni Brunello kesukaanku.” Sooyoung hanya tertawa kecil sebagai balasannya. Ia heran juga mengapa suaminya ini sangat menyukai wine.

Darjeeling itu berbeda dari teh hitam yang lain.” Ujar Sooyoung.

“Maksudmu?” Changmin hanya menatapnya aneh. Hampir 5 tahun bersama Sooyoung tetap tidak membuatnya mengerti hal-hal berbau teh, minuman favorit Sooyoung.

“Kau bisa lihat kan warna teh ini terang? Itulah yang membuatnya berbeda dari teh hitam lain. Selain itu, aromanya juga lebih harum.” Ujar wanita berkaki jenjang itu menjelaskan. Ia memandang wajah Changmin yang sedang berpikir. Sooyoung tersenyum.

“Bolehkah aku mencobanya?” Ucap Changmin.

“Tentu.”

Changmin meminumnya sedikit. Raut muka lelaki itu yang awalnya terlihat antusias berubah menjadi kebalikannya saat cairan coklat kekuningan itu meresap di lidahnya.

“Kenapa teh ini tidak ada rasanya?!” Changmin sedikit kesal karena Sooyoung tidak memberitahukannya bahwa Darjeeling yang baru saja Ia minum itu tidak berasa. Alias tanpa gula. Sooyoung tertawa kecil melihat wajah Changmin yang tertekuk.

Darjeeling memang lebih sering diminum tanpa tambahan gula ataupun susu sama sekali. Ah! Itu juga keunikan Darjeeling!”

“Aish nan jeongmal. Aku tidak akan mencobanya lagi, huh!”

“Hahaha Oppa, wajahmu lucu sekali saat kesal seperti itu! Hahahaha!”

Sooyoung masih tidak berhenti tertawa. Ia sampai memegangi perutnya untuk meredakan tawa melengkingnya tersebut. Tidak berhasil, tentu saja.

“Hentikan tawamu, Shim Sooyoung.” Seketika itu Sooyoung menghentikan tawanya. Sejenak keduanya terdiam.

“Oh ya Oppa, kau tau maksud dari Second Flush?” Sooyoung mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia menatap wajah Changmin yang sedang memandang ke arah danau. Sedangkan Changmin tidak membalas pertanyaan yang dilontarkan istrinya itu, Ia masih kesal karena Sooyoung menertawakannya.

Second Flush itu artinya pemetikan kedua. Darjeeling yang dipetik pada musim pemetikan kedua, tepatnya bulan Juni, akan menghasilkan teh dengan kualitas paling tinggi. Orang-orang menyebut aroma Second Flush Darjeeling ini dengan nama.. umm.. Muscatel!”

Changmin yang sedari tadi asik memandangi danau langsung menatap Sooyoung saat wanita itu mengucapkan satu kata yang sangat dikenalnya. Muscatel.

Muscatel? Bukankah itu bahan untuk membuat Muscat Wine?” Pantas saja Changmin tau. Muscat atau  Muscatel adalah salah satu varietas buah anggur tertua di dunia. Bahan untuk membuat minuman kesukaannya, wine.

“Ya, benar sekali. Aroma Second Flush Darjeeling ini sangat harum seperti buah Muscat itu.”

Changmin mengambil gelas yang berisi teh itu dari tangan Sooyoung. Ia kemudian menghirup aromanya. Benar. Aroma teh itu sama seperti aroma Muscat Wine.

“Anyway Sooyoung-ah, mana makanan untukku?”

Winter, February 2013

Today

“Apa jika aku menyukai Darjeeling tidak berasa ini kau akan kembali, Sooyoung-ah?”

Lelaki itu tertawa miris (lagi), kemudian tangisannya terulang. Kali ini lebih keras daripada sebelumnya. Beruntunglah, tidak ada orang di taman ini. Lagipula, ada atau tidak ada orang juga Changmin tidak akan peduli. Ia kemudian menghabiskan Sandwich dan Darjeeling-nya, masih dengan menangis. Ia bahkan tidak peduli rasa ketika makanan dan minuman itu tercampur rata di mulutnya.

“Satu gigitan lagi.. Sandwich ini akan habis, Sooyoung-ah.. Satu tegukan lagi.. Darjeeling ini akan habis, Sooyoung-ah..” Tangan lelaki itu gemetar hebat. Ia ingin mempunyai mesin pemutar waktu, agar dirinya bisa menikmati Sandwich dan teh tak berasa itu bersama Sooyoung, di bawah pohon Sasunyu, selamanya.

Dan, detik berikutnya.. Sandwich-Darjeeling itu habis.

“Aku sudah menghabiskannya, Sooyoung-ah.. Kembalilah.. Kumohon kembalilah..” Tangisannya semakin keras, lelaki kuyu itu sungguh berharap dengan menghabiskan kedua pengisi perut tadi, Sooyoung-nya akan kembali, dan sudah pasti.. tidak berhasil.

“KEMBALILAH CHOI SOOYOUNG!!!”

Kacau. Hanya itu kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana keadaan dirinya saat ini. Sekeras apapun lelaki itu berteriak tetap saja, Sooyoung-nya tidak akan kembali. Tidak akan pernah.

“Maafkan Oppa Sooyoung-ah.. Maafkan Oppa.. Maafkan lelaki brengsek ini Sooyoung-ah.. Sooyoung-ah Saranghae.. Saranghae.. Saranghandago..”

Ia masih menangis. Menelungkupkan kepalanya di pertemuan apitan kedua tangan dan kakinya. Ia mengacak rambutnya, Ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga Sooyoung-nya. Ia marah pada dirinya sendiri yang dengan mudahnya tertipu oleh sebuah foto. Ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga kebahagiaan Sooyoung-nya..

“Shim Changmin, bodoh bodoh bodoh!”

“NAEGA PABOYAAA!!!”

Winter

December 31, 2012

12.01 P.M. KST

Changmin memacu mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Perasaan marah sudah memenuhinya. Ia tidak peduli akan dianggap pengemudi gila oleh orang lain. Suara klakson mobil lain yang Ia salip juga tak dihiraukannya. Ia hanya ingin cepat-cepat bertemu istrinya.

***

30 minutes before

Akhir bulan Desember seharusnya tidak dihabiskan dengan bekerja. Apa daya pekerjaannya terlalu menumpuk sampai Ia tidak meliburkan diri sementara karyawan –yang tidak berurusan langsung dengannya– di kantornya sedang libur. Changmin yang sedang serius dengan pekerjaannya dikejutkan oleh ketukan pintu ruangannya menandakan seseorang ingin berkunjung. Sekretaris pribadi sekaligus sahabatnya datang dan menyerahkan sebuah amplop coklat yang sangat tipis, bahkan seperti tidak ada isinya. Changmin berpikir amplop itu hanya berisi surat dari perusahaan lain.

“Seseorang mengirimkan ini barusan, Changmin-ah. Bisa dipastikan ini bukan dari sebuah perusahaan.”

Changmin mengerutkan keningnya. Bukan dari perusahaan? Lantas?

“Keluarlah, Qiannie.” Dengan gerakan cepat sekretaris seksi itu meninggalkan ruangannya. Changmin yang tidak sabar langsung merobek amplop itu dan di dalamnya terdapat selembar foto. Matanya membelalak sekaligus menahan amarah melihat siapa dan apa yang ada di dalam foto tersebut. Secepat kilat ia menyambar jas dan coatnya kemudian menuju ke rumahnya tanpa meninggalkan pesan apapun pada pihak kantor. Ia terlanjur dikuasai amarah.

***

Setelah memarkirkan mobil, Changmin langsung melangkahkan kaki panjangnya masuk ke rumah. Menemui istrinya. Ia membuka pintu rumah itu dengan kasar, kemudian meneriaki nama istrinya dengan sangat keras.

“SHIM SOOYOUNG KELUARLAH!”

“DIMANA KAU?!”

Tak lama, Sooyoung muncul. Ia sedikit ketakutan saat melihat wajah suaminya itu. Namun, Sooyoung sama sekali tidak tau apa yang menyebabkan suaminya seperti itu, Ia berusaha tenang.

“Ada apa, Oppa?” Changmin hanya memandangnya sinis.

“Jelaskan apa maksud foto ini.” Ujar Changmin dingin dan penuh penekanan.

Sooyoung kemudian melihat foto yang dibawa Changmin. Seketika matanya membulat dan tangan kirinya menutupi mulutnya. Ia sangat terkejut.

“Siapa lelaki itu?!”

Sooyoung diam. Ia masih terlalu terkejut. Bahkan matanya masih menatap dua orang dalam foto itu. Dirinya, dan seorang lelaki.

“Jawab aku Choi Sooyoung!”

Sooyoung beralih menatap Changmin. Suaminya sudah marah besar jika Ia sampai memanggil Sooyoung dengan marga aslinya, bukan Shim.

“A-aku sama sekali t-tidak melakukannya Oppa..”

“Hah! Kau bilang tidak melakukannya?! Jelas-jelas wanita itu adalah kau, Choi Sooyoung!”

Sooyoung runtuh. Pertahanannya tidak kuat, Ia sebenarnya tidak ingin menampakkan kelemahannya di depan suaminya itu. Ia sendiri juga kaget, mengapa ada foto seperti itu. Foto dirinya dan seorang lelaki sedang berciuman di sebuah bar.. Yang pasti, lelaki itu bukan Changmin-nya.

“Kau. Berselingkuh. Choi Sooyoung.”

Sooyoung menatapnya terkejut. Sungguh, wanita itu tidak pernah sedikitpun berpikir untuk mengkhianati suaminya.

“Kenapa kau tidak bicara? Apa kau terlalu malu untuk mengakuinya di hadapanku?” Lagi, Changmin memandangnya sinis. Senyum meremehkan yang tidak pernah lelaki itu tunjukkan kepada Sooyoung, akhirnya keluar juga.

“Changmin Oppa.. Aku bukan wanita seperti itu.. Kumohon, percayalah. Aku juga tidak tau mengapa ada foto seperti itu. Kumohon Oppa, percayalah aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu.” Ujarnya sambil terisak.

Sekelebat memori mengingatkan Sooyoung akan suatu kejadian..

“Seseorang menjebakku, Oppa.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir ranumnya. Ia mengingat saat itu Ia sedang bersama teman-temannya di bar. Kemudian Victoria yang saat itu sedang bersama Sooyoung mengajaknya untuk ke lantai atas bar tersebut, wanita itu berkata bahwa Changmin datang dan menunggunya di sebuah private room yang ada di bar tersebut. Ia masuk dan tak menemui Changmin di sana, seketika itu pandangannya gelap dan ia tidak lagi merasakan berat tubuhnya.

“Ya, pasti wanita itu yang menjebakku.” Gumam Sooyoung yang masih sangat jelas didengar Changmin. Namun, laki-laki itu tidak percaya. Ia berpikir ini hanya akal-akalan Sooyoung untuk mengkambinghitamkan seseorang.

“Cih. Tak usah mencari mangsa, Sooyoung.”

Changmin sudah hendak berbalik pergi ketika Sooyoung mengatakan sesuatu yang bagi dirinya sangat tidak mungkin.

“Tunggu Oppa, wanita itu… Victoria Eonnie…”

“Bicara apa kau?! Victoria sahabatku sejak kecil dan dia tidak mungkin melakukan hal jahat itu pada istri sahabatnya sendiri!”

“Tapi memang begitu kenyata–“

“Jangan pernah temui aku lagi.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Changmin pergi. Bahkan lelaki itu pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan pada Sooyoung. Sementara Sooyoung tidak tinggal diam. Ia berlari mengejar Changmin yang sudah masuk ke mobilnya. Wanita itu tetap berlari, Ia tidak mau tau pandangan orang-orang yang menatapnya aneh karena mengejar sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang tentu saja tidak akan terkejar. Matanya terfokus pada mobil yang dikendarai Changmin. Saat tiba di perempatan, mobil hitam suaminya itu tetap tidak berhenti meskipun lampu sedang berwarna merah. Seketika itu Sooyoung tersadar sesuatu..

BRAK!

Sooyoung berlari menuju mobil Changmin yang sudah tidak berbentuk. Mobil itu terjungkir menyebabkan kaca depannya pecah. Ia segera menelepon ambulans meminta pertolongan. Lidahnya kelu, Sooyoung bahkan tidak bisa mengeluarkan air matanya saat Ia melihat pecahan kaca depan mobil itu menancap sempurna di kedua mata Changmin. Ia juga tidak mendengar suara berisik orang-orang yang tengah mengerubungi tempat kecelakaan itu.

“Permisi Agasshi.” Suara seseorang menyadarkan Sooyoung dari semua lamunannya. Ia sedikit terkejut kemudian kembali tenang saat tau orang tadi hanya petugas ambulans yang meminta akses jalan darinya.

“Apakah Agasshi yang tadi menelepon kami?”

Sooyoung hanya mengangguk. Ia kehilangan kekuatan sekedar untuk berbicara.

“Sebaiknya Agasshi ikut kami dengan ambulans.”

Lagi, wanita itu hanya mengangguk dan mengikuti petugas ambulans memasuki kendaraan putih itu. Di dalam, Ia memandangi wajah tampan Changmin yang dipenuhi darah dimana-mana.

Pergantian tahun kelabu.

***

 

 

WINTER

January 30, 2013

“Tuan Shim, apakah Anda siap membukanya?”

“Ne, saya siap dokter.”

Dokter itupun membuka perban di mata Changmin. Ia kembali meyakinkan Changmin saat lapisan terakhir perban itu akan Ia gunting.

“Saya akan melepas kapasnya setelah ini, Tuan. Bukalah mata Anda pelan-pelan, tidak usah terburu-buru.”

Dokter itu membuka kapas yang masih sempurna menempel di mata Changmin. Setelahnya, Changmin mencoba sedikit membuka matanya, kemudian menutupnya lagi. Mungkin Ia belum terbiasa dengan cahaya. Setelah beberapa kali mengulang gerakan itu, mata kecilnya kini terbuka sempurna.

“Bagaimana Changmin-ah? Kau bisa melihatku kan?” Suara seorang wanita yang sangat dikenal oleh Changmin menggema di telinga lelaki itu. Changmin tersenyum, manis sekali.

“Akhirnya aku bisa melihat wajah jelekmu lagi, Qiannie.”

January 31, 2013

“Bagaimana keadaanmu, Sooyoungie?”

“Lebih baik, Oppa. Hanya sedikit lebih gelap.” Wanita itu tersenyum. Ia berharap Ia bisa melihat lesung pipi Oppanya yang sedang berada di depannya itu.

Siwon tersenyum miris.

“Kau sungguh wanita yang baik, Soo. Aku bangga mempunya adik seperti dirimu.”

Sooyoung hanya tersenyum. Itu kebiasaannya sejak beberapa minggu yang lalu, setidaknya tersenyum dapat menutup luka di hatinya.

“Kau.. tidak berencana menghubungi Changmin?”

“Dia saja tidak mau kujenguk Oppa.”

Siwon tersenyum dan mengacak rambut Sooyoung, berusaha memberi ketenangan dan semangat untuk adik satu-satunya itu. Kemudian Ia beranjak ke dapur di apartemennya untuk mengambilkan sedikit cemilan untuk Sooyoung. Ia kembali ke ruang tv dengan gembira.

Namun, saat itu juga kegembiraannya hilang.

February 18, 2013

07.49 P.M. KST

“Saengil chukha hamnida.. Saengil chukha hamnida.. Saranghaneun uri Changmin.. Saengil chukha hamnida!”

Hari ini ulang tahunnya. Lelaki yang hari ini berumur 26 tahun tu tersenyum senang, Ia dan teman-temannya merayakan pertambahan umurnya itu di rumahnya. Namun, senyum itu lama kelamaan semakin pudar ketika Ia sadar masih ada seseorang yang belum mengucapkan apa-apa padanya. Wanita yang selama satu bulan ini tidak pernah Ia temui. Salahnya juga sih, melarang wanita itu untuk menemuinya.

Mungkin in karma untukku karena melakukan hal yang sama saat Sooyoung berulang tahun delapan hari yang lalu.

Perasaan rindu pada wanita sudah benar-benar menggila. Tidak dipungkiri, ucapan ‘selamat’ dari wanita itulah yang paling Ia tunggu. Ia tersadar saat seseorang menepuk bahunya. Victoria. Atau yah, yang sebelumnya Changmin panggil dengan nama Qiannie. Victoria atau Qiannie adalah sahabat sejak kecil Changmin, hubungan mereka mulai mengendur semenjak Changmin berpacaran dengan Sooyoung dan akhirnya menikah dengan wanita itu. Dan sekarang, hubungan keduanya kembali terajut semenjak… Changmin meninggalkan dan tidak memperbolehkan Sooyoung yang notabene masih istri sahnya untuk menemuinya.

Tersirat kesedihan yang sedikit dipaksakan di wajah wanita itu.

“Ada apa, Qiannie?”

Changmin menunggunya bicara.

“Changmin-ah.. Sooyoung..”

“Meninggal..”

***

Changmin langsung menghubungi kakak Sooyoung satu-satunya. Siwon. Dan sekarang, kedua laki-laki itu berada di sebuah coffee shop. Keduanya masih terdiam jika Siwon tidak memecah keheningan yang terjadi di antara dirinya dan Changmin.

“Ada apa kau menemuiku?” Siwon tau itu pertanyaan retoris, dia hanya ingin sedikit berbasa-basi dengan bajingan-bedebah-keparat di depannya ini.

“S-sooyoung.. K-kenapa?” Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya. Ia ingin sekali bertanya, Kenapa dia meninggal?. Namun lidahnya benar-benar tidak kuat mengucapkan kata meninggal sekalipun.

“Komplikasi.”

“K-komplikasi?” Changmin sedikit menaikkan suaranya. Sepanjang yang Ia tau, Sooyoung tidak pernah memiliki penyakit apapun.

“Pasca operasi. Sooyoung komplikasi setelah menjalani suatu operasi.”

“O-operasi?” Changmin masih tidak mengerti, Ia benar-benar bingung apa yang dikatakan Siwon. Namun, ketakutan dan kepanikan terpancar jelas di matanya.

“Ck. Apa kau terlalu bodoh sampai tidak menyadarinya, Shim Changmin?!”

Changmin masih terdiam. Ia masih mencerna seluruh perkataan Siwon.

CORNEAL TRANSPLANTATION!”

Seketika itu Changmin merasa jantungnya tak bekerja. Nafasnya tercekat. Seluruh sistem sarafnya berhenti bekerja untuk sepersekian detik.

“Tra..Transplantasi k-kor..kornea?”

“Ya. Korneamu sekarang.. milik Sooyoung.” Jika bunuh diri tidak berdosa, Changmin lebih memilih membunuh dirinya sendiri sekarang juga.

“Dia mengejarmu saat kau meninggalkannya begitu saja. Dia benar-benar kalut saat melihat mobilmu menerobos traffic light yang sedang merah, dari arah kanan mobil lain melaju kencang dan sepersekian detik setelah Sooyoung menyadari hal itu, kecelekaan terjadi.”

Changmin diam dan menatap Siwon dengan, entahlah apa nama ekspresinya saat ini. Ingin sekali Ia tertawa karena gurauan Siwon, meskipun Ia tau itu bukanlah sebuah gurauan.

“Saat dia tau kau.. sudah tidak bisa melihat lagi, without no doubt she decided to transplant her cornea for you. She thought it would be okay at the end, tapi.. dia salah. A complication occurred..

“Kemungkian dirinya untuk tetap hidup memang masih sangat banyak, Shim. Namun, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya.. Komplikasi.”

Changmin diam. Ia sama sekali tidak tau apa yang harus Ia katakan untuk membalas penjelasan panjang lebar dari Siwon. Matanya memanas, Ia bahkan sudah tidak peduli akan dikatakan apa oleh Siwon jika air matanya keluar saat ini juga. Terserah.

“J-jadi? Korneaku se..sekarang?”

Siwon hanya mengangguk sebagai balasannya. Lelaki itu sungguh ingin menghabisi nyawa Changmin saat ini juga. Apa daya Ia tidak ingin membuat Sooyoung bersedih jika Ia benar-benar menghabisi Changmin.

“Aku tidak pernah menyalahkanmu atas kematian Sooyoung, adikku satu-satunya. Namun, ada satu hal yang tidak aku mengerti darimu, Changmin-ah.”

“Mengapa kau tidak mau mendengar penjelasan Sooyoung tentang foto itu dan malah lebih membela Victoria-Victoriamu itu? Kau tau, Sooyoung menceritakan sendiri peristiwa itu padaku. Dia bahkan sampai menghubungi Jessica yang saat itu juga sedang bersamanya untuk meyakinkan diriku, aku yang awalnya tidak percaya akhirnya luluh juga ketika Jessica berkata bahwa malam itu memang Victoria mengajak Sooyoung ke lantai atas bar tersebut. Kau punya komentar apa?”

Siwon menatap tajam lawan bicaranya saat ini. Persetan dengan pancaran ketakutan dari mata Changmin, Ia hanya ingin mendengar alasan Changmin meninggalkan Sooyoung selama satu bulan dan tidak memperbolehkan wanita yang notabene masih berstatus istrinya itu untuk menemuinya.

“A-aku tidak tau, hyung. Aku sungguh kalut saat itu. Aku benar-benar marah padanya sampai tidak mau tau apa yang Sooyoung bilang saat itu. Saat dia berkata Victoria yang menjebaknya, aku hanya menganggap itu adalah bualan Sooyoung. Ya Tuhan, hyung. Aku sangat bersalah padanya. Eottokaji, hyung?” Ucapannya terdengar bergetar. Changmin sungguh merasa meninggalkan Sooyoung adalah sebuah kesalahan terbodoh dan terhina yang pernah Ia lakukan.

Siwon menghela nafas sedikit kasar. Ia tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Pertemuannya dengan Changmin memang sebenarnya hanya untuk memberitau pesan dari Sooyoung untuk adik iparnya itu.

“Sooyoung menitipkan pesan untukmu.”

Changmin hanya menatapnya penuh harap. Seolah jika Changmin mengerjakan pesan Sooyoung untuknya, Sooyoung akan kembali dan menemani Changmin untuk selamanya.

“Aku tidak akan mengatakannya. Bacalah sendiri.”

Siwon menyerahkan sebuah buku berbentuk seperti diary berwarna sedikit kemerahan. Lelaki itu segera beranjak meninggalkan meja Changmin. Sebelum benar-benar meninggalkan meja, Ia mengatakan sesuatu pada Changmin.

“Bacalah dengan baik apa yang Sooyoung tulis di buku itu. Di halaman terakhir ada alamat tempat peristirahatan terakhirnya. Goodbye dan… Selamat ulang tahun, adik ipar.”

Lelaki tinggi itu kemudian meninggalkan mejanya bersama Changmin. Sementara Changmin? Lelaki itu masih diam dan beberapa detik kemudian Ia juga meninggalkan coffee shop itu dan mengendarai mobil menuju rumahnya bersama Sooyoung.

Setelah sampai, Changmin langsung menuju kamarnya dan sekaligus kamar Sooyoung, dulu. Ia segera mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur king size berseprai putih bersih masih sama saat terakhir kali Changmin menjejakkan kaki di rumah besar itu. Setelah menguatkan hatinya, Ia –dengan sedikit bergetar– membaca buku berisi pesan Sooyoung tadi.

Changmin Oppa, apa kabar? 😀

Aku baik, semoga Oppa juga baik haha. Aku hanya ingin memberitahumu beberapa ‘Kiat Hidup Sehat dan Bahagia’ hehehe. Baca baik-baik, Oppa!

  1.  Kau harus selalu bahagia, aku tidak suka melihatmu terpuruk. Eww, bukan Shim Changmin yang kukenal.
  2. MAKAN SAYUR DAN BUAH! Jebal Oppa, jika tidak begitu, aku takut kesehatanmu akan menurun…
  3. Terus bekerja untuk hidupmu!

Ehm Oppa, mianhaeyo hanya tiga pesan yang kutulis untukmu. Habis aku benar-benar bingung apalagi yang harus kutulis untukmu ._.v

Kau tau Oppa? Sangat menyebalkan rasanya koma hampir 20 hari itu. Uhh benar-benar tidak enak. Aku juga tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Seingatku, waktu itu, kalau tidak salah hari terakhir bulan Januari, aku sedang berada di apartemen Siwon Oppa. Dan saat aku bangun, aku berada di sebuah kamar rumah sakit! Dan kau tau, aku bangun di hari ke-18 bulan Februari yang artinya itu hari ulang tahunmu! SAENGIL CHUKHA SHIM CHANGMIN!

Woooow kereeennn!!! Aku sangat senang saat itu, aku terus memaksa Siwon Oppa untuk mengantarku menuju ke tempatmu, apartemenmu. Namun, dokter menyebalkan dan Siwon Oppa melarangku, mereka bilang kondisiku masih kurang sehat. Aku menyesal aku tidak bisa datang untuk mengucapkan ucapan ulang tahun untukmu. Jadi, maafkan anaemu ini yang hanya bisa mengucapkan lewat tulisan 😥

Ah ya, soal hadiah, aku tidak sempat membelikannya untukmu Oppa L Maaaaaaffffff.

Oppa, sepertinya hanya ini yang bisa kusampaikan, ingat baik-baik pesanku, ne? Aku sudah merasa sebentar lagi aku tidak akan bisa bersamamu untuk selamanya, entahlah Oppa aku juga bingung mengapa ada perasaan semacam ini. Baiklah, sekali lagi, SAENGIL CHUKHA NAE NAMPYEON! Aku mencintaimu, sangat :*

Annyeong hihi.

PS: Sebenarnya aku juga sedikit sedih kau tidak memberikan ucapan selamat saat ulang tahunku kemarin L

 

Tanpa ada aba-aba air mata Changmin jatuh membasahi pipi putihnya. Ia benar-benar merasa bersalah setelah membaca tulisan Sooyoung. Ia tidak tau apa yang harus Ia lakukan, Ia gila. Tangisannya bertambah deras ketika Ia membuka halaman terakhir buku itu. Buku yang hanya 2 setengah halaman terisi.

Hey. Ini Siwon.

Sooyoung sudah.. pergi. Ia akan ditempatkan di peristirahatan terakhirnya besok. Datanglah, jika kau mau. Dan yah, kuharap kau mau untuk datang ke acara pemakamannya. Mungkin, Sooyoung akan sedih jika kau, nampyeonnya, tidak datang di acara terakhirnya. Jadi, kumohon dengan sangat, datanglah.

Pemakaman Uireung, Seokgwan-dong.

Itu tempatnya. Aku sangat berterima kasih jika kau mau datang.

 

Winter, February 2013

Today

12.34 P.M. KST

Setelah hampir 5 jam Changmin di taman itu, Ia memutuskan untuk kembali ke Seoul. Sebenarnya Changmin akan ke makam Sooyoung, tidak hanya sekedar kembali ke Seoul. Changmin berdiri dari bangku yang sedari tadi didudukinya. Ia mengambil cup Darjeeling dan tempat plastik segitiga Sandwich yang tadi dibawanya kemudian membuang dua benda itu di sampah terdekat. Ia berjalan menuju tempat parkir taman itu kemudian masuk ke mobilnya. Tentunya bukan mobil hitam yang sudah menjadi pecahan logam dan zat lain akibat kecelakaannya dulu.

Perjalanan Incheon-Seoul memang sedikit memakan waktu. Ia menyetir dengan kecepatan sedang. Tidak terburu-buru untuk menemui istrinya. Changmin melirik sekilas beberapa benda yang berada di kursi sebelah kanan mobil. Lily dan beberapa helai daun dari pohon Sasunyu yang Changmin sangat susah mencarinya, karena pohon itu melakukan tidur panjang saat Musim Dingin seperti ini. ia tersenyum sekilas. Setidaknya Changmin ingin Sooyoung bahagia dengan membahagiakan dirinya sendiri. Bukankah itu pesan Sooyoung?

***

Akhirnya.

Changmin –dengan langkah tegas sekaligus sedikit sedihnya­– berjalan mendekati salah satu nisan yang masih bersih rupanya. Maklum, baru sekitar seminggu raga di dalamnya diistirahatkan. Lelaki itu terdiam sejenak, masih dengan tangan kanannya menggenggam Lily dan beberapa helai daun Sasunyu. Ia menatap nisan putih itu sendu. Sedikit, ah anni, luar biasa banyak pancaran kerinduan terlihat di matanya. Kemudian dengan gerakan lembut seakan tidak ingin merusak naungan terakhir istrinya di dunia, Ia meletakkan barang yang tadi dibawanya.

Changmin mencium nisan wanitanya itu agak lama. Seluruh rasa tercampur aduk menempel di dinding hatinya. Mulai dari perasaan rindu hingga benci. Oh tentu saja, Changmin membenci dirinya sendiri. Air matanya hampir keluar lagi jika saja Ia tidak menahannya. Ya, Changmin tidak akan menangis lagi. Bukan, bukan. Bukan karena Ia takut dengan bisikan orang lain tentang betapa cengengnya dirinya, Changmin tidak ingin Sooyoung melihatnya menangis. Memalukan. Istrinya Ia tinggal saja tidak menangis. Uh-oh wajar, Sooyoung meninggalkan lelaki itu selamanya sementara Changmin meninggalkan Sooyoung-nya hanya untuk sementara waktu.

Lihatlah, Changmin seperti ingin berbicara sesuatu.

“Sooyoung-ah, bagaimana di sana? Kuharap di sana tidak membebanimu. Tahukah kau aku begitu merindukanmu? Dengarkan Sooyoung-ah, aku sangat merindukanmu.. Bogoshipda..”

Oh, pernyataan rindu. Dengarkan lagi, mungkin kali ini Ia akan berbicara sedikit lebih banyak.

“Sooyoung-ah, aku juga mencintaimu. Sangat. Kau dengar kan? Itu balasanku untuk tulisanmu..”

“Sooyoung-ah.. ada beberapa hal yang ingin aku katakan padamu..”

“Oppa minta maaf.. Karena telah menyuruhmu untuk tidak menemuiku dan juga meninggalkanmu.. Oppa benar-benar sangat menyesal telah berbuat seperti itu kepadamu tanpa mau tau segala alasanmu.. Oppa benar-benar menyesal Sooyoung-ah, maafkan Oppa, maukah kau?”

“Sooyoung-ah, Oppa mencintaimu. Jangan bosan mendengarnya, karena aku akan lebih sering mengucapkan kalimat ini mulai sekarang, arraso? Aku mencintaimu.”

“Hiduplah dengan tenang di sana Sooyoung-ah, aku akan berbahagia demi dirimu.. Aku akan mengikuti semua pesanmu, aku berjanji akan terus memakan sayur dan menjadi direktur yang baik. Aku berjanji, Sooyoung-ah..”

“Ah ya, satu lagi.. Jangan berkencan dengan lelaki manapun selain aku di sana! Aku akan menyusulmu suatu saat, tunggu aku, ne?”

Changmin terdiam kemudian menundukkan kepalanya. Ia lega telah berhasil mengatakan beberapa kalimat yang Ia ingin utarakan pada Sooyoung. Dengan senyum bahagia, lelaki itu kembali mengecup nisan makam istrinya. Lama. Dirinya sudah berjanji tidak akan menangis lagi dan terus hidup bahagia meski tanpa hadirnya seseorang yang sangat Ia cintai. Raut wajahnya terlihat sangat lepas, tidak ada lagi kesedihan yang mengganjal di hatinya.

“Aku mencintaimu, Sayang.” 

END

Oke, ceritanya selesai-_- Maafkan saya karena membuat ff ini jadi sad ending, abis jujur aja ya, sad ending itu lebih gampang dibuat daripada happy ending, buat aku sih kayak gitu ngehehe. Gimana? Kurang memuaskan ya? Hehehe maafkan author abal-abal ini, bahkan sepertinya belum bisa disebut author. Oke, tolong kasi saran ya 😀 Makasih udah mau baca

Advertisements

8 thoughts on “It’s Love”

  1. halo dek aku mampir di wp mu lho *tebar confetti*
    selain soal oppa-jagi-nampyeon-anae-yeobo-bahasa-korea-yang-nyempil-di-tengah mungkin aku bakal suka banget sama ini. Well, bukan salah kamu juga sih ini subjektifitas reader.
    The good thing is, walaupun aku udah menduga sejak awal kalau Sooyoung bakal meninggal (mostly sesuatu yang sudah hilang diceritakan dengan alur maju-mundur) kamu berhasil bikin aku terusin baca sampai selesai. Kamu harus seneng lho, kadang aku suka nutup novel di tengah jalan karena udah ketauan endingnya. It was not easy.
    Ah, tapi kenapa kamu pakai attention seeker as blocker sih 😦 /eh/ but I really lose my respect for her after the changtoria scandal.
    Oya, lain kali mungkin kamu harus nulis surat terakhir lebih tersirat karena surat terakhir harus punya makna yang dalam. Walaupun dia punya perasaan kuat dia bakal pergi, orang yang ceria mereka tend to hide their sadness (ini menurut survei lho). Always remember, biarkan tokoh kamu mencari jalan hidupnya.
    I know you can write better! YAY! I’m waiting your next fic.

  2. sbnernya aku ga suka changsoo , aku tadi gabaca cast nya siapa aku kira bakal ada kyuhyunnya -_- aaah tapi udh terlajur bacakan , jadi harus komen hihi
    tapi tetep ceritanyaaaaa bisa bikin terharu :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s