THE TARGET 1 OF 2

Cover - The Target 2

Title:

The Target

Rating:

PG-17

Genre:

Action, Romance

Author:

Soshinism

Cast:

Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Choi Siwon, Shim Changmin and others

Disclaimer:

Inspired by BAP’s Oneshot MV. FF ini jujur aja terinspirasi dari MV-nya BAP yang Oneshot. Jadi kalo ada kesamaan adegan mohon dimaklumi ya hehe.

Note:

Haloooo XD Kita bertemu lagi hahaha. Aku kembali bawa Twoshoot nih.  Semoga bisa diterima ya ceritanya~ Oh ya, gimana Sarangiya yang kemaren? Duh liat komennya sih ada yang bilang nangis, ada yang bilang nyesek lah aduuuhh maaf yaaa ngga maksud gitu, sumpah deh._.v Ada yang minta AS juga ya? Maaf ya, aku ngga suka bikin AS. Kalo udah selesai, ya selesai aja gitu hehehe /alesan males ngetik/ Oke, kayanya cukup itu aja deh aku bingung mau ngomong apa lagi.

Silahkan dinikmati~

December 2010

SPECIAL AGENT ORGANIZATION

 Oh! Zelle my ace! You’ve come!

Why did you call me?

Hey, chill… No need to be that serious!

Okay I’m sorry, but I have to kill some stupid people after this so, better you tell me what’s the reason you called me earlier.

Okay okay… I have a new mission for you.

What is that?

Here it is. Just read it carefully. I don’t wanna hear any words related to fail-mission. Go.

I got it.

Do it quickly. Even you have much-much-much time to do that mission.

Okay, Vegas, okay.

Oh Zelle wait, one more thing you need to know… Ford will be your partner, again.

 

 

March 2013

PHOENIX HEADQUARTERS

“Hey, aku punya sesuatu yang baru untukmu.”

“Mwoga?”

Well, jika kau benar-benar ingin mengetahui apa isi flash-disk ini, berikan aku satu kali kesempatan untuk berbicara dengan pacarmu itu.”

“Kalau begitu aku tidak jadi tertarik.”

“Oh jinjja? Kau benar-benar tidak tertarik?”

“Pergi saja jika tidak ada hal penting yang ingin kau katakan, Siwon-ssi.”

“Apakah Sooyoung termasuk hal tidak penting?”

Lelaki yang sedari tadi hanya memandang laptopnya itu kini menatap tajam orang yang mengajaknya berbicara. Maklum, jika sudah berhubungan dengan kekasihnya –Sooyoung, Choi Sooyoung. Wanita muda berkaki jenjang dan bermata bulat besar serta wanita yang dengan mudahnya membuat Kyuhyun kehilangan harga dirinya– apapun akan Ia lakukan.

“Ckckck. I know Sooyoung is your weakness.

“Hyung, berikan flash-disk itu.”

“Hyung? Jangan kau pikir karena kau memanggilku dengan sebutan itu aku akan terlena, Bos.”

Please…”

“Bahkan kau mengatakan please! Hahaha! Okay, I will give it to you. Tapi kau juga harus menyetujui syaratku tadi.”

“Baiklah.”

“Silahkan dinikmati, Kyuhyun-ah.”

“Tunggu.” Siwon sudah hampir menyentuh gagang pintu ruangan bosnya itu jika saja suara Kyuhyun tidak menginterupsi langkahnya. Siwon hanya membalikkan badannya dan memasang tampang ada-yang-bisa-kubantu-bos-?

“Kau dapat dari mana flash-disk ini?”

“Oh! Sekitar pukul setengah 9 tadi sekelompok lelaki berbaju hitam memberikannya padaku, kebetulan aku yang sedang berada di luar, jadi yah kuterima saja.”

“Mengapa tidak kau tanyakan dulu dari siapa?!” Oh tidak, Kyuhyun mulai emosi.

“Tidak sempat, bos. Mereka langsung melenggang begitu saja setelah melemparkan flash-disk itu.”

“Ck! Yasudah, keluar!”

Siwon membungkuk kemudian keluar dari ruangan yang sungguh besar itu. Senyum puas sekaligus licik menghiasi wajahnya saat Ia sudah di luar ruangan itu. Sesaat setelah Siwon keluar, Kyuhyun langsung membuka isi flash-disk itu.

Sebuah video.

 

PIP

‘Oh annyeong, Cho Kyuhyun. Apa kabar? Kuharap tidak baik-baik saja, karena yah kau lihat sendiri kan kekasihmu itu? Pasti kau langsung lemas saat melihat keadaan kekasihmu saat ini…’

Di video tersebut, penampilan tak karuan wanitanya terpampang: Sooyoung duduk di sebuah kursi putih dengan tangan dan kaki terikat. Oh, bersyukurlah bibir wanita itu tidak tertutup kain atau semacamnya. Wanita itu sungguh tak karuan. Sudut bibirnya berdarah dan tampak beberapa –mungkin tiga atau empat– bekas goresan penknife di wajah mulusnya. Rambutnya sangat berantakan tidak seperti Sooyoung biasanya. Kyuhyun bisa merasakan keputusasaan Sooyoung dari wajahnya meskipun wajah wanita itu sedikit tidak terlihat karena Ia menunduk.

‘Hehehe bagaimana? Bertambah cantik bukan? Ah ya, maafkan aku Kyuhyun-ah. Semalam pisau lipatku tidak sengaja bermain di wajahnya, tidak apa-apa kan?’

Sooyoung meringis kesakitan. Ia yang awalnya menunduk sekarang menatap kearah kamera dan mengucapkan sesuatu. Tidak jelas, tentu saja. Karena Sooyoung tidak bersuara. Namun –karena kepekaan Kyuhyun– Kyuhyun tau apa yang wanita itu baru saja ucapkan. Oppa. Dan sayangnya, lelaki dalam video itu juga menyadari pergerakan bibir Sooyoung.

‘Oh kau ingin berkata sesuatu pada Kyuhyun? Katakanlah, aku tidak akan melukaimu kali ini, Sayang.’

Lelaki yang sedari tadi tersenyum sinis dan penuh kemenangan itu berbicara kepada Sooyoung, masih dengan senyumnya Ia menampar Sooyoung habis-habisan hingga membuat Kyuhyun ingin memakannya hidup-hidup karena sudah berani memperlakukan seseorang yang Ia cintai hingga seperti itu.

Kyuhyun bisa saja, langsung melacak di mana video tersebut dibuat kemudian langsung menyerang tempat itu dan menyelamatkan Sooyoung-nya. Namun, dia tidak bisa bertindak gegabah. Salah satu langkah saja mungkin Sooyoung sudah tidak bernyawa lagi. Dan benar saja, lelaki gila dalam video itu memasangkan kalung –jangan kalian pikir kalung emas atau semacamnya, ini hanya kalung yang dibuat dari potongan kardus bekas dan dua buah tali tambang yang kusam– bertuliskan 100.000.000 won.

‘Kau mau wanita kesayanganmu ini kembali? Kau pasti sudah tau caranya, tinggal beri kami uang sejumlah yang tertera di kalung itu, dan kami akan  kembalikan Sooyoung-mu yang cantik ini. Selesai!’

‘Bagaimana? Apa kau setuju? Jika iya, datanglah ke subway tengah kota pukul 2 dini hari. 4 hari lagi! Ketika kau sampai, tanyakan saja pada seorang Ahjusshi penjaga subway itu di mana orang bernama Zelle berada. Annyeong!’

PIP

Kyuhyun, dengan amarah menguasai dirinya, segera memanggil seluruh bawahannya untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting. Kalian bisa sebut sesuatu yang sangat penting itu adalah… Operasi Penyelamatan Sooyoung. Haha, konyol.

“Hentikan pekerjaan dan latihan-latihan kalian sekarang juga. Segera ke ruanganku. 2 menit dari sekarang.”

Suara Kyuhyun menggema lewat intercom markas besar itu. Mau tidak mau seluruh bawahannya yang hanya berjumlah sekitar 13 orang itu langsung menghentikan aktivitas yang sedang mereka lakukan dan segera menuju ruangan bos mereka. Tamat riwayatmu jika terlambat sepersekian detik saja, itu kata mereka. Mengerikan, bukan?

Setelah lelaki-lelaki kekar itu berkumpul semua, Kyuhyun segera memulai rapat dadakannya. Masih dengan amarah yang bisa saja tiba-tiba meledak.

“Kalian tau mengapa aku mengadakan rapat dadakan seperti ini?”

Tidak ada yang menjawab. Semua terlihat tegang kecuali seseorang. Oh, beruntungnya dia karena Kyuhyun tidak menyadari ketenangan orang tersebut.

“Sooyoung diculik. Dan sialnya dia dijadikan tawanan oleh sebuah entahlah apa namanya. Aku tidak pernah melihat lambang mafia lain yang seperti itu, seperti di video maksudku.”

“Bisa kau tayangkan bagaimana video itu?”

Kyuhyun menoleh dan menatap tajam kepada seseorang yang baru saja mengajaknya berbicara. Berani sekali orang itu. Keterkejutan manusia-manusia berotot besar tersebut berlanjut ketika Kyuhyun dengan relanya memperlihatkan video yang sedari tadi mereka bicarakan.

Dan setelahnya, video itu bermain di layar LCD ruangan Kyuhyun.

“Bos, kurasa kita harus bertindak cepat.” Ujar Eunhyuk, salah satu bawahannya setelah video tersebut selesai ditampilkan.

“Memang. Menurutmu apa yang harus kita lakukan untuk mendapat uang sebesar itu?”

“Ya Tuhan, kau kan ketua masa untuk mengatasi hal seperti ini saja kau tidak tau.”

“Jika kau tidak punya saran, diamlah.” Kyuhyun lagi-lagi menatap tajam seseorang yang Ia panggil Siwon itu. Dari awal lelaki itu masuk Phoenix memang Kyuhyun sudah tidak menyukainya.

“Bagaimana jika kita merampok mobil-mobil pengantar uang? Maksudku, kalian tau kan jika setiap bank memiliki beberapa  mobil untuk membawa uang yang akan dimasukkan ke dalam mesin ATM. Bagaimana?” Ujar Siwon memberi usul.

“Ide yang bagus. Kapan kita akan melakukannya?”

“Besok malam.”

“Baiklah akan aku bagi tugas kalian. Siwon, Kangin, Shindong, Eunhyuk, dan Donghae kalian lumpuhkan supir mobil uang itu. Yesung, Sungmin, Ryeowook, kalian ambil kantong-kantong uang di dalam mobil itu. Dan aku, akan menunggu di bagian yang tersembunyi. Ah ya kau, Siwon-ssi, tolong cek jadwal mobil-mobil itu, terutama untuk besok malam. Kalian mengerti?”

“Mengerti, Bos.”

“Keluar.”

Mendadak ruangan Kyuhyun menjadi sepi dan hanya menyisakan dua orang di dalamnya. Kyuhyun sendiri, dan salah satu bawahan barunya. Kyuhyun lagi-lagi menatap tajam orang tersebut. Meminta penjelasan mengapa dia masih saja berada di ruangan Kyuhyun padahal perintah keluar sudah Kyuhyun ucapkan sekitar 3 menit yang lalu.

“Kau tidak ingin mengucapkan terimakasih atas usulku, Bos?”

“Tidak akan pernah. Mengapa sih kau masih di sini?!”

“Mungkin memang bukan keberuntunganku, Kyuhyun-ah. Tadinya aku akan pergi menemui pacarmu yang sehari lalu kau bilang berada di apartemennya sebelum kau memanggil kami. Namun, melihat kenyataan bahwa Sooyoung diculik, bagaimana bisa aku berbicara dengannya? Huh, menyebalkan.”

“Apa sebenarnya yang akan kau bicarakan dengan Sooyoung?”

“Umm… kau benar-benar ingin tau?” Ucap lelaki itu dengan senyum jahilnya. Ia sungguh senang menggoda Kyuhyun yang amarahnya cepat naik. Apalagi jika berhubungan dengan Sooyoung dan Kyuhyun tidak mengetahuinya. Tatapan tajam dari mata elang Kyuhyun sama sekali tidak membuat nyalinya tenggelam. Malah lelaki itu –lelaki yang dipanggil Siwon oleh Kyuhyun– semakin gencar mengerjai Bos-dengan-segala-kesempurnaan-seperti-Dewa-Yunani itu.

Tepat di telinga kiri Kyuhyun, bawahan dengan segala ketenangan dan kejahilannya itu berbisik…

Well well, it’s about my feelings for her.

“KUBUNUH KAU CHOI SIWON!”

Dengan tertawa puas Siwon yang ternyata bermarga Choi itu keluar dari ruangan Kyuhyun. Sungguh Ia puas bisa mengerjai Kyuhyun sampai seperti itu.

SPECIAL AGENT ORGANIZATION

03.30 P.M. KST

Seorang lelaki melangkahkan kaki jenjangnya memasuki sebuah gedung mewah-dalam-penyamaran. Maksudku, dari luar gedung itu hanya terlihat seperti gedung biasa seperti gedung-gedung lain yang berada di Seoul. Namun, sekali kau masuk kujamin kau tidak akan pernah bisa keluar karena luasnya gedung tersebut, tersesat lebih tepatnya.

Okay, kembali ke lelaki tadi. Lelaki itu memang menarik, lihat saja agen-agen wanita kelas bawah yang melihatnya bak seorang dewa sedang berjalan dengan sayapnya. Astaga, betapa kampungannya mereka. Lelaki itu masih saja berjalan ke sebuah ruangan jika saja tidak ada interupsi dari suara seseorang yang sangat dikenal oleh telinganya.

“Ford?!”

“Ford! Oh My God what are you doing here?!” Ujar orang itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang Ia temui sekarang  memang benar-benar Ford.

“Hanya mengunjungi kantor. Apa tidak boleh? Sekaligus mengunjungimu, partner.”

Well, aku hanya terkejut karena kau kan jarang sekali kemari apalagi jika sedang bertugas. Terimakasih untuk kunjungannya, anyway.

Okay, so… I need to see Vegas. Is he in his room?

“Yep. Oh ya, akhir-akhir ini dia sering berbicara dalam bahasa Korea. Kurasa karena kemampuan berbahasa Inggrisnya berkurang.”

“Ck ada-ada saja kau. Ya sudah, aku mau melaporkan beberapa hasil kerjaku dulu. Setelah ini kau mau ke mana?”

“Eum… Tidak tau. Sepertinya aku akan berlatih menggunakan senjata baru buatan Jessica, kau tau kan… Walther jenis baru yang Ia kembangkan sendiri…”

“Ah… I see. Oh ya, sekitar jam 5 sore nanti kita bertemu di taman belakang tempat latihan menembak. Bisakah kau? Ada beberapa hal penting mengenai target kita yang akan kukatakan padamu.”

“Jam 5? Aku bisa saja.”

Good. Pergilah, Jessica sepertinya menunggumu. Bye, Zelle.”

“Bye.”

Lelaki yang dipanggil Ford oleh partnernya itu masih berdiam diri memandangi punggung seseorang yang baru saja berbicara dengannya. Setelah punggung partner –bisa dikatakan partner seumur hidup karena hampir di setiap kasus yang lelaki itu tangani, partnernya selalu orang itu– semakin menghilang, Ia bergegas ke ruangan yang sedari tadi ingin Ia tuju.

Ford mengetuk pintu ruangan atasannya itu tanpa keraguan. Ia memperlihatkan wajah tampannya di intercom dengan kamera di pintu kayu berlapis baja dan kaca anti peluru ruangan itu. Setelah mendapat persetujuan dari sang pemilik ruangan, dengan otomatis kaki jenjangnya melangkah masuk.

“Laporan tentang targetmu dan Zelle?” Ujar seseorang di balik kursi besar yang membelakangi pintu masuk ruangan itu, Ia kemudian memutar kursi yang didudukinya menghadap orang yang baru saja memasuki ruangannya.

“Begitulah.”

Lelaki itu menyerahkan laporan tugasnya dan hanya diam sembari menunggu Vegas selesai membaca laporannya yang tidak banyak kali ini. Karena memang hanya ada satu hal penting yang harus Ia laporkan.

“Besok malam? Jadi Kyuhyun akan merampok mobil pembawa uang besok malam? Dan uang hasil merampok itu Ia gunakan untuk menukar Sooyoung?”

“Ya.”

“Ah Ya Tuhan, terima kasih… Penantian selama 3 tahun ini akhirnya hampir mendekati kata berhasil.”

“Berpuas-puaslah. Aku yang mengusulkan hal itu saat rapat bersamanya tadi. Bagaimana?”

Well, I think it’s a good idea. Nanti malam akan langsung kubicarakan dengan sebuah bank, kita akan bekerjasama dengan bank itu. Kebetulan sekali kau yang disuruh Kyuhyun untuk mengecek jadwal keberangkatan mobil uang itu.”

“Entahlah, I can say it is… A luck in disguise? Hahaha. Oh Vegas, bagaimana dengan–“

“Kau tenang saja, Ford. Bilang saja pada Kyuhyun jadwal pemberangkatan mobil uang itu pukul 12 malam… Midnight. Lalu soal tim yang akan menangkap Kyuhyun dan tikus-tikusnya, aku dan Zelle sudah mempunyai rencana, kau tau kan video yang harus Kyuhyun lihat dengan perantara dirimu itu? Kita akan menyergap Kyuhyun dan tikus-tikusnya saat menukarkan Sooyoung dengan uang beratus juta dolar itu.” Ujar Vegas memotong ucapan lelaki di depannya itu, seakan tau pikiran apa yang ada dalam otak bawahannya –meskipun dirinya, Ford, dan Zelle bersahabat, tetap saja Vegas merupakan salah seorang petinggi– itu.

“Ah aku mengerti sekarang. Jadi kita akan menyergap Kyuhyun saat menukar Sooyoung dengan uang itu?”

“Begitulah. Kalau sudah tidak ada hal penting yang ingin kau katakan atau tanyakan, keluarlah. Aku masih ada urusan dengan beberapa petinggi dari divisi Forensic DNA Analyst setelah ini.”

Ford mendecih mendengar perintah atau lebih tepatnya kalimat mengusir dari bosnya itu.

“Tidak perlu mengusirku, Vegas.”

Lelaki itu segera keluar dari ruangan Vegas dan menuju tempat janjiannya bersama Zelle. Lelaki itu terkejut ketika mendapati Zelle sudah duduk di salah satu bangku taman kantor mereka yang sepi sambil memakan beberapa makanan ringan. Lelaki itu segera menghampiri Zelle dan mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah kanan partnernya itu.

“Cepat sekali kau datang?”

Walther baru Jessica tidak terlalu enak, Ia membuat senjata itu khusus untuk pertarungan jarak dekat. Hah, padahal lebih asik jika menembak jarak jauh apalagi objek yang kau tembak itu tidak diam di tempat.”

Well, kupikir memang benar apa yang dikatakan agen lain tentang short range weapons is not your forte. Kurasa kau lebih sering memamerkan jurus judomu daripada menggunakan senjata saat bertarung jarak dekat. ”

“Oh? Apakah begitu?”

“Ya Tuhan, kau kan yang melakukannya!”

“Heheheheh… Aku sering tidak sadar saat melakukannya.”

Kemudian keduanya terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing. Sampai Ford membuka suaranya terlebih dahulu.

“Kau tau hal penting apa yang akan kukatakan padamu?”

“Jika aku tau mana mungkin aku akan kemari, bodoh?!” Ford hanya tersenyum cengengesan mendengarnya.

“Besok malam Kyuhyun akan merampok mobil uang sebuah bank. Sebenarnya ini rencanaku, alias aku yang menjebaknya. Akulah yang mengusulkan ide merampok mobil uang itu, dan kebetulan sekali Kyuhyun yang menyuruhku mengecek jadwal keberangkatan mobil-mobil itu. Barusan tadi aku ke ruangan Vegas dan menceritakan rencanaku itu. Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya, tugasku dan kau hanyalah menyergapnya bersama beberapa tim lain saat penukaran. Bagaimana?”

Brilliant! Wait, jika begitu kau tentu sudah tau maksud video itu kan?”

“Ya, Vegas menjelaskan detailnya padaku tadi. Aktingmu sungguh keren!”

“Cih! Sungguh, Chang– maksudku Vegas, dia itu benar-benar gila sampai membuat video seperti itu. Dia benar-benar menggoreskan pisau lipat itu di wajahku, kejam! Oh dan bahkan dia benar-benar menamparku!”

“Pantas saja wajahmu seperti itu, hahaha! Kupikir karena kau bertarung judo lagi dengan Kris.”

“Berhentilah tertawa, tidak lucu tau.”

Seketika lelaki itu –maksudku Ford– menghentikan tawanya. Tatapannya berubah serius kemudian. Seperti ada suatu hal yang benar-benar ingin Ia ketahui kebenarannya.

“Soo–“

“Bodoh! Ini kantor! Kau mau mati jika Vegas sampai mendengarmu memanggilku dengan nama asli?!”

“Ini sudah semakin sore, tenang saja jam-jam sekarang ini sudah sepi agen yang berlatih, bukan? Vegas? Kau tau lah kebiasaannya yang tidak pernah keluar ruangan hingga pukul 8 malam?”

“Ya ya ya. Terserah kau saja lah.”

“Begini, dengarkan aku baik-baik.”

“Apa?”

“Sooyoung-ah, ada sesuatu… Hal penting yang ingin kutanyakan padamu…”

What?

Ford menghembuskan nafasnya sedikit kasar, kebimbangan menguasai dirinya saat ini. Keheningan melanda kedua manusia itu sekali lagi. Didukung sifat seorang Zelle yang tidak akan menyela ketika ada orang lain akan memulai ceritanya.

“Tidak sekali dua kali kau seperti ini Oppa, ayolah tanyakan saja.”

“Berat Soo-ah, jujur saja ini menyangkut masalah perasaan.”

“Perasaan? Ugh, apakah Oppa sedang jatuh cinta?” Wanita yang dipanggil Sooyoung oleh Ford itu tertawa kecil, tak menyangka masalah penting yang ingin Ia tanyakan merupakan masalah perasaan.

“Yya! Bukan seperti itu!”

“Lalu apa? Kau memikirkan Tiff–“

“Kyuhyun benar-benar mencintaimu.”

Sooyoung terdiam. Ada banyak Sooyoung di Korea, jangan anggap Zelle adalah Choi Sooyoung kekasih tercinta seorang Cho Kyuhyun.

“Kau bilang apa?” Wanita itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa telinganya masih berfungsi dengan baik.

“Bodoh. Kubilang Kyuhyun benar-benar mencintaimu. Dia bahkan tidak memikirkan matang-matang usul yang kuberikan dan langsung menyetujuinya.”

Dan sayangnya, Zelle memang Choi Sooyoung kekasih tercinta Cho Kyuhyun, ketua mafia paling dicari dan paling berbahaya di Korea.

“Soo, apakah kau… tidak merasakan hal yang sama padanya?”

“Maksud Oppa? Aku tidak mengerti.” Sooyoung tertawa hambar.

“Jangan berpura-pura bodoh, Soo. Aku tau kau juga… mencintainya.” Wanita itu terdiam. Matanya menyiratkan kebingungan yang luar biasa.

“Oppa benar. Aku mencintainya. Lalu jika sudah begitu, apa yang bisa kulakukan, Oppa?”

Salah, Sooyoung tau mencintai Kyuhyun merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Kesalahan terfatal yang pernah Ia buat, sangat fatal. Namun, siapa yang bisa melarang hati manusia untuk merasakan sebuah kata yang bernama, cinta?

“Kumohon Soo-ah… Hilangkan perasaanmu itu, kumohon…”

“Awalnya aku tidak pernah berpikir akan tunduk pada pesona seorang Cho Kyuhyun, tidak pernah. Mungkin karena itulah aku… mencintainya. Karena kesombonganku Oppa, karena keyakinan pada diriku sendiri yang tidak akan mencintainya, beginilah sekarang.” Tidak ada emosi dalam setiap ucapannya. Dingin.

“Soo-ah, kau tentu tau resiko apa yang harus kau terima…”

“Tanggung jawabmu lebih besar daripada tanggung jawabku dalam kasus ini, jadi kau tau sendiri…”

Wanita itu terdiam lagi, mencerna semua kata yang diucapkan seseorang di sampingnya baru saja. Ia mengingat semua hal yang terjadi pada seseorang yang juga berarti dalam hidupnya, semuanya.

Pikirannya memutar kembali apa yang terjadi 8 tahun lalu.

 

May 14, 2005

“Kau tau, katanya Seunghyun-ssi akan dieksekusi besok.”

“Oh? Jinjja?! Maksudmu Seunghyun si Special Agent kelas atas itu? T.O.P?”

“Ya ya ya! Anak paling tua dari keluarga Choi itu. Katanya dia dieksekusi karena ja–“

“Eksekusi?” Suara seorang gadis berumur kurang lebih 15 tahun memotong gossip session kedua agen wanita kelas bawah itu.

“O-oh, C-Choi S-Sooyoung-ssi!” Kedua agen wanita itu langsung menunduk hormat begitu tau siapa yang memotong acara gosip-menggosip mereka. Bagaimana tidak, Choi Sooyoung adalah adik bungsu seseorang yang baru saja mereka gosipkan.

“Bisa kalian beritau apa yang sebenarnya terjadi pada Seunghyun Oppa? Aku kan adiknya, setidaknya aku berhak tau.” Tanya gadis itu dengan polosnya.

Ada ketakutan terpancar di matanya ketika mendengar kata eksekusi.

Ketiganya terdiam dan tidak ada yang berkeinginan untuk membuka suara. Entah kedua agen wanita itu yang terlalu takut untuk memberitahukan apa yang baru saja mereka gosipkan atau memang Sooyoung yang terlalu pendiam sampai tidak bertanya lagi. Sampai akhirnya salah satu agen wanita itu berbicara.

“I-itu… T.O.P-ssi akan diek–“

“Choi Sooyoung.” Lagi-lagi sebuah suara memotong pembicaraan mereka. Kali ini suara lelaki.

“Oh! Seunghyun Oppa!” Sooyoung tersenyum cerah dan seketika itu juga melupakan hal yang baru saja akan Ia ketahui.

“Hey gadis kecil, bisakah kau memanggilku tidak dengan nama asli? Ini di kantor, arraso?”

Sooyoung mengerucutkan bibirnya pertanda sedikit tak suka dengan peraturan organisasi di mana Appa, Eomma, Oppa-Oppanya bekerja dan juga dirinya dilatih; tidak boleh memanggil nama asli ketika berada di kantor kecuali memang belum mendapatkan identitas palsu alias nama samaran.

“Aku akan memanggil Oppa dengan nama aneh itu jika Oppa mengabulkan satu permintaanku.”

“Oppa akan mengabulkan permintaanmu, namun sebelumnya kita pergi ke taman belakang dekat lapangan untuk latihan menembak dulu ya?” Lelaki itu mendaratkan tatapan mahadahsyat-nya ke arah agen-agen wanita yang tadi menggosipkan dirinya dan Sooyoung yang menyadari hal itu kemudian ikut memandangi arah yang dituju Oppanya. Seakan mengerti arti tatapan itu, Sooyoung langsung menarik tangan Oppanya menuju taman belakang.

Setelah sampai, keduanya duduk di salah satu kursi di taman itu.

“Jadi, apa yang kau minta, Nona Choi?”

“Ah ya hampir saja aku lupa! Aku minta Oppa untuk tidak menatapku seakan-akan aku ini musuh bebuyutan yang baru bisa Oppa tangkap setelah mengejar musuh itu selama 5 dekade dan sering-seringlah tersenyum padaku!”

Seunghyun tertawa kecil dan mengacak rambut gadis itu dengan sayang kemudian tersenyum senang. Tidak Ia respon dengan kata-kata permintaan adiknya itu.

“Respon macam apa itu? Kuambil tertawa, mengacak rambut, dan senyuman Oppa sebagai iya, ya?”

Lagi-lagi Seunghyun hanya tersenyum seakan mengiyakan semua permintaan Sooyoung. Semua. Sooyoung yang kesal sendiri dengan kelakuan aneh Oppanya itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Seunghyun sendiri di taman itu. Belum sampai dua langkah gadis itu berjalan, dua buah lengan besar menarik tubuh Sooyoung ke dalam pelukan hangat. Gadis itu tidak terkejut, tentu saja. Sudah biasa hal ini terjadi.

Keduanya terdiam dalam posisi seperti itu. Sampai Seunghyun mengatakan sesuatu yang dilupakan Sooyoung tadi.

“Sooyoung-ah. Mulai besok Oppa sudah tidak bisa menjaga dan melindungimu lagi. Tenang saja, masih ada Siwon. Dia juga sangat menyayangimu kan?”

Sooyoung diam dan tak dapat berkata apa-apa. Badannya menegang seketika, apalagi saat mendengarkan kalimat Oppanya yang berbunyi ‘tidak bisa menjaga dan melindungimu lagi’. Kalimat itu terus menerus berputar di telinganya. Ia bahkan tidak tau apa yang harus Ia katakan untuk membalas ucapan kakaknya.

Seunghyun melepas pelukan mereka dan menatap dalam mata indah adiknya. Kedua tangannya beralih memegang bahu Sooyoung yang kecil. Lelaki itu tidak perlu terlalu menunduk untuk menyamakan tingginya dengan tinggi Sooyoung. Bahkan tinggi gadis itu sudah mencapai 167 cm ketika usianya masih 15 tahun seperti sekarang.

“Dengarkan Oppa baik-baik, ne?”

Sooyoung hanya mengangguk sebagai balasannya.

“Oppa ulangi lagi, mulai besok… Hanya akan ada Siwon yang menjagamu dan melindungimu. Juga tidak akan ada lagi Seunghyun Oppa yang selalu membelikan susu pisang atau ice cream rasa chocomint untukmu, Oppa… sudah tidak bisa. Kau harus bersenang-senang terus dengan Siwon, arraso?”

Masih berupa anggukan halus balasan yang Sooyoung berikan.

“Oppa juga tidak bisa lagi mengajarimu menjadi sniper handal yang selalu kau idam-idamkan. Oppa juga tidak bisa lagi mengajarimu judo seperti biasanya. Sekali lagi, tenang saja. Siwon bisa mengajarimu itu semua. Dia sangat handal, bahkan melebihi Oppa. Mulai besok dan seterusnya, carilah orang-orang hebat seperti Siwon yang bisa mengajarimu itu semua, arraso?”

Anggukan.

“Sooyoung harus menjadi Special Agent seperti yang Appa dan Eomma inginkan, itu juga keinginan Sooyoung, bukan? Menjadi seorang Special Agent yang melebihi Oppa, Appa, Eomma, benar seperti itu kan?”

Anggukan.

“Jika begitu, mulai besok Sooyoung harus berlatih lebih keras lagi, seperti Siwon yang terus berlatih setiap hari. Sooyoung harus bisa menjadi Special Agent yang melebihi Siwon juga. Dia saja baru lulus ujian menjadi Agen namun langsung mengatasi sebuah kasus besar kan? Jika Siwon bisa memulai karir sebagai Agen saat umur 18 tahun, Sooyoung harus bisa memulainya sebelum umur 18!”

Anggukan.

“Sooyoung tau kan SAO –singkatan dari Special Agent Organization– itu masih dalam lingkup pemerintahan yang artinya, semua juga masih harus di atur pemerintah, termasuk hukuman-hukumannya. Nah, jika suatu saat Oppa harus menerima salah satu hukuman itu, Sooyoung berjanji tidak akan menangis kan?”

Anggukan.

Sooyoung tau arah pembicaraan ini. Matanya mulai memanas ditambah keringat yang mulai membasahi dahi, punggung, dan telapak tangannya. Seunghyun terdiam agak lama sebelum memulai kalimatnya yang terakhir.

“Oppa akan menyusul Appa dan Eomma besok.”

Air mata.

Cairan bening sebening kristal itu sukses meluncur bebas di permukaan wajahnya yang cantik. Sooyoung tidak mampu berkata apa-apa. Dirinya bahkan hanya menangis dalam diam, tidak ada isakan yang keluar. Hanya air mata yang terus menerus meluncur membasahi wajahnya.

“Hey, Oppa mohon jangan ada air mata Youngie-ah…”

Dengan lembut lelaki itu menghapus air mata-air mata yang masih saja berjatuhan dari mata indah Sooyoung. Seunghyun tersenyum sangat lembut dan menarik Sooyoung ke dalam pelukannya sekali lagi. Sangat erat, pelukan itu sangat sangat erat. Ia berusaha memberikan ketenangan pada Sooyoung yang Ia tau pasti sedang sangat terpukul. Gadis kecil itu belum pantas menerima semua ini, ditinggalkan seluruh keluarganya dan hanya mempunyai satu perlindungan, Siwon.

 

Mungkin pelukan ini, pelukan terakhirku untukmu, Sooyoung-ah…

 

 

March 2013

“Kau, adikku satu-satunya Sooyoung-ah… Kau satu-satunya keluargaku yang tersisa.” Siwon tersenyum sedih.

“Siwon Oppa… aku mengerti maksudmu. Kau tidak mau hal buruk itu terjadi padaku juga kan?”

“Aku tidak mau kau seperti Seunghyun Hyung.” Kali ini ekspresi lelaki itu berubah lebih serius. Meskipun sebenarnya, ada kesedihan yang Ia tahan di dalam hatinya.

“Aku… akan berusaha menghilangkan nama Kyuhyun, memori bersamanya, dan hal-hal mengenai dirinya dalam hidupku.” Ujar Sooyoung masih tanpa emosi.

Siwon tersenyum penuh arti, setidaknya senyum itu menunjukkan betapa seorang kakak laki-laki sangat menyayangi adiknya.

TBC

Ah akhirnya part 1 dari twoshoot ini selesai! Ngehehe gimana? Puas nggak? Semoga pada bilang bagus ya hahaha. Lanjut atau enggak? Kalo responnya bagus sih bakal aku lanjut~ Makasih udah baca 😀

Advertisements

2 thoughts on “THE TARGET 1 OF 2”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s