A Game of Power [Four: Abduction and an Old Truth]

soshinism-139

A story by Soshinism

—–

Rating: PG 17

Genre: Romance, Action

Starring Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Jung Yunho. Shim Changmin. Kwon Yuri. Kim Jaejoong

—–

Previous Chapter

Start Off | Meetings | One Important Clue

—–

                    Abduction and an Old Truth

 

 

“Kita berkumpul lagi.” Suara Yuri menggema di gudang bekas itu. Senyumnya perlahan mengembang. Kyuhyun menatap sinis teman se-team-nya itu kemudian berkata, “Heh bocah. Aku ketua misi ini, seharusnya aku yang berbicara duluan.” Yuri kembali mengulum senyumnya. Paling tidak, usahanya untuk meredakan aura-aura pembunuh yang keluar dari dua orang lain di ruangan itu mulai berhasil.

“Kyuhyun-ah, just tell her what will we do.” Changmin memasukkan kedua tangannya di saku celana kainnya. Santai namun tetap siaga.

Kyuhyun mengangguk, “Yul, there’s a new mission for us.” Yuri mengerutkan kulit-kulit dahinya.

New mission for us? But you guys know.. Aku sedang menjalankan misiku juga saat ini,” ujarnya.

“Misi kita kali ini tidak akan mengganggu misimu untuk menjaga Sooyoung, Yul-ah. Kau tidak perlu khawatir, kita hanya akan pergi selama satu minggu,” ujar Kyuhyun. Mencoba meminimalisir kekhawatiran yang sangat kentara di wajah Yuri. Ia tahu akan jadi seperti ini.

Mwo?! Satu minggu?! Itu waktu yang cukup lama, Kyuhyun. Lalu bagaimana dengan Sooyoung? Siapa yang akan menjaganya? Sesuatu bisa saja terjadi saat aku tidak bersamanya, ini misiku, Kyu.”

Changmin menghela nafas sedikit kesal. “Someone from my division will take care of your mission. There’s no need to worry. Eunhyuk akan mengawasi Sooyoung dari jauh selama seminggu kita pergi.”

“Apakah Eunhyuk bisa menjaga keselamatannya?” Changmin melayangkan tatapannya pada Yuri. Changmin benar-benar kesal pada kekeras kepalaan yang ada pada diri wanita itu.

“Yuri-ah, biarkan divisiku menangani misimu selama kau pergi bersama kami. Kumohon,” ujarnya dengan beberapa penekanan.

Wanita itu mengendikkan bahu dan berkata, “Baiklah.”

“Nah! Sudah-sudah!” Clap! Clap! Kyuhyun berusaha untuk meredakan ketegangan yang terjadi di antara dua rekannya tersebut. Changmin tersenyum meremehkan ketika Yuri menatap lelaki itu kesal.

“Lebih baik membahas detail mengenai misi kita daripada terus bertengkar seperti tadi. Kalian ini benar-benar.” Kyuhyun menarik salah satu kursi yang berada di samping-samping meja di tempat itu, diikuti Yuri dan Changmin yang juga melakukan hal yang sama dengan Kyuhyun.

“Yuri-ah­, Changmin-ah, dengarkan penjelasanku baik-baik. Kita akan berangkat besok pagi, pukul 12 lebih tepatnya. Kita akan menggunakan kendaraan kita seperti biasanya. Peralatan sudah disiapkan Changmin tadi. Nah, aku akan membagi tugasmu masing-masing.” Kyuhyun tetap melanjutkan perkataannya sampai-sampai ia merasa kekurangan udara.

Pembicaraan itu berakhir saat tiga telapak tangan bersatu kembali untuk melakukan sebuah misi. Dan mereka berteriak seperti dulu saat sebelum memulai misi, “Seong-gonghada!”

***

Sooyoung baru saja akan menuangkan susu vanilla ke dalam mangkuk serealnya ketika ponselnya berdering untuk yang ke-2 kalinya pagi ini. Dengan malas ia langkahkan kakinya hanya untuk mengangkat panggilan tersebut.

Wae?”

Kau kemana saja, huh?!

“Yul, baru sepuluh menit yang lalu aku bangun tidur dan kau sudah menghubungiku sebanyak dua kali.”

Aku akan pergi ke Busan selama satu minggu.

Sooyoung terdiam sebentar. Kemudian kembali berceloteh. “Lalu?” Sooyoung menghimpit ponselnya di antara telinga dan bahunya sambil menyendokkan sereal ke mulutnya. “Ya itu artinya kau akan sendirian selama satu minggu, bodoh!” Sooyoung mendengus kesal. Bukan karena Yuri mengatainya bodoh, tapi karena sahabatnya itu menganggapnya seperti anak kecil yang harus selalu ditemani.

“Kwon, Kwon, Kwon.. Aku ini wanita 25 tahun yang sudah mampu merawat diriku sendiri. Aku bukan anak kecil lagi, Kwon. Aku mampu menjaga diriku sendiri. Lagi pula, apa? Seorang villain pasti akan think twice sebelum dia mau menculikku karena aku terlalu rewel dan menyebalkan. Just, calm down, Yul.” Sooyoung kembali menyuapkan sesendok sereal ketika Yuri menggumamkan sesuatu yang masih sangat jelas ia dengar.

Kau.. tidak tahu, Sooyoung-ah..

“Hah? Apa? Apa yang tidak kuketahui?”

Annieyo.. Lupakan saja.

Geurae. Lalu, kau akan berangkat jam berapa?”

Masih nanti pukul 12 siang.”

Ding Dong. Ding Dong

Sooyoung menaikkan salah satu alisnya ketika ia mendengar bel rumahnya dua kali berbunyi. “Well, Yul, ada seseorang di luar. I will call you later!”

Yya! Choi Sooyoung! Jangan–“ Tut tut tut. Sooyoung sedikit berlari dan meninggalkan mangkuk serealnya di meja untuk mendatangi tamunya itu.

Cklek.

Nuguse–“

Sooyoung tersentak hingga badannya langsung kaku saat mengetahui siapa tamu di pagi harinya itu. Ia tak siap akan kedatangan orang itu ke rumahnya. Sooyoung perlahan berjalan mundur. Matanya tak pernah lepas dari mata tamunya itu.

Sambil menarik salah satu sudut bibirnya, tamu lelaki itu berkata, “Ohisashi buridesune, Choi Sooyoung.” Sooyoung tercekat. Nafasnya mulai tak beraturan saat lelaki itu mendekat ke arahnya. “Aah.. Aku seharusnya mengucapkan sesuatu yang lebih baik ya? Baiklah, biar kuulangi. Ohayo.. gozaimasu, Choi Sooyoung. Begitu?”

Ga..” lirih Sooyoung tak bertenaga. Suara hampir-hampir seperti hilang ditelan kegelapan. Badannya semakin terpojok akibat ulahnya sendiri –mundur perlahan. Mau bagaimana lagi, kedatangan orang itu bagaikan serangan bom atom ke Nagasaki pada tahun 1945.

“Sooyoung-ah, naze? Aku tidak akan menyakitimu. Shinpai shinaide.”

“PERGI!!!” Sooyoung menggerakkan tangannya menuju kantong jumper yang ia kenakan. Berusaha meraih ponselnya yang berada di dalam dan mengetikkan sesuatu.

“Ohoho. Kau mau menghubungi temanmu, huh? Yuri? Atau Kyuhyun?” tanyanya kemudian tersenyum sinis. Secepat kilat lelaki itu menyambar ponsel yang masih berada di genggaman Sooyoung. Lelaki itu kemudian mematikan telepon Sooyoung yang ia tujukan pada Kyuhyun.

“Oh Choi Sooyoung. Apa kau tidak tahu? Mereka sedang bersiap-siap untuk menjalankan misi saat ini. Bagaimana mereka bisa mengangkat telepon darimu, huh?” Lelaki itu maju selangkah, jaraknya kira-kira hanya tiga puluh senti dari Sooyoung. Ia mencengkeram dagu Sooyoung sangat erat.

“Pergi!” Teriak Sooyoung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha melepas cengkeraman tangan lelaki itu pada dagunya. Gagal. Yang Sooyoung dapat sebagai balasan hanyalah sebuah tamparan keras yang mampu membuatnya tak sadarkan diri seketika.

“Ada satu hal yang lupa kuberitahu padamu, Choi Sooyoung. Seharusnya, Changmin yang melakukan tugas ini,” ujar lelaki itu. Ia menuliskan beberapa kalimat di sebuah kertas dan meninggalkan kertas putih itu di meja. Kemudian dengan tingkat waspada yang tinggi, ia membawa wanita itu ke mobilnya. Entah ke mana tujuannya.

***

Kyuhyun menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil yang saat ini sedang ditumpanginya –bersama Yuri dan Changmin. Posisinya yang berada di pinggir membuatnya mudah untuk melihat jalanan. Sooyoung Sooyoung Sooyoung. Hanya nama itu yang ada di pikirannya saat ini.

Kyuhyun meraih ponselnya yang sudah sejak tadi ia matikan. Alisnya mengkerut saat mengetahui Sooyoung menghubunginya. Ia benar-benar tak mendengar panggilan tersebut. Seketika kegelisahan menguasai dirinya. Lelaki itu memiringkan kepalanya. Melihat Yuri yang dengan santai membaca detail misi yang harus mereka jalankan dalam kurun waktu maksimal seminggu. “Kwon Yuri,” panggilnya pada wanita itu.

Waeyo?”

“Eum.. Anniya.. Amugeotdo anniya..”

Yuri menatap malas lelaki yang baru saja mengajaknya bicara. Dirinya kemudian kembali berkutat dengan detail misi yang masih berada di genggamannya. Yuri mendecak kesal ketika baru sekitar lima atau sepuluh detik, Kyuhyun memanggilnya kembali.

Wae?!” bentaknya penuh kekesalan. Kyuhyun menunjukkan ponselnya pada Yuri kemudian berkata, “Sooyoung menghubungiku.” Ekspresi Yuri langsung berubah begitu Kyuhyun mengucapkan hal itu. Changmin yang sedari tadi tenang memandangi jalanan pun juga terpaksa menoleh saat nama seseorang yang sangat familiar di telinganya itu disebut.

Ketiganya terdiam cukup lama sampai Kyuhyun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. “Raut wajah kalian hampir-hampir seperti sudah mau memakan ponselku,” ujar Kyuhyun. “S-Soo-Sooyoung menghubungimu?”

Kyuhyun mengangguk. “Tapi dia memutuskan panggilannya dengan cepat. Aku tidak tahu kenapa.” Yuri mulai memikirkan hal-hal yang aneh menyangkut Sooyoung.

“Tadi pagi, sebelum kita berangkat, aku menghubunginya. Saat itu Sooyoung berkata ada seseorang datang berkunjung ke rumahnya.”

“Tadi pagi?” Kyuhyun menyahut dengan cepat. Pikirannya bertambah kalut, entah mengapa.

“Eum. Sooyoung juga cepat-cepat mematikan telepon dariku–“

“Sooyoung tidak biasa menerima tamu kan? Apalagi di pagi hari.”

Changmin tetap diam sambil kembali menyibukkan dirinya menatap jalanan. Ketenangannya memang sungguh luar biasa.

“Aku juga tidak tahu mengenai hal itu, Kyu. Tapi, kurasa itu hanya seorang kurir–“

“Bisakah kalian membicarakan hal selain Sooyoung? Aku bosan mendengar namanya disebut dalam pembicaraan kalian.” Kyuhyun dan Yuri menghela nafas berat. Berusaha memahami diri Changmin. Yuri memberikan Kyuhyun perintah untuk diam. Tak ingin terjadi keributan lagi di antara mereka hanya karena seorang wanita.

“Kita akan membicarakan hal ini nanti.” Kyuhyun menarik satu ujung bibirnya.

***

Yoku dekita ne, Jaejoong-ah.”

“Ini sudah menjadi pekerjaanku, Yunho-ah.”

Sooyoung mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha menyesuaikan dengan sinar yang temaram di ruangan itu. Pandangannya masih sedikit tak jelas karena kedua bola matanya terlalu lama ditutup. Samar-samar ia mendengar dua orang lelaki sedang berbicara dengan beberapa bahasa yang juga dikuasainya. Saat kedua matanya sudah terbuka sempurna, Sooyoung tersadar bibir dan kedua tangannya tak bisa bergerak bebas.

Wanita itu melihat ke sekitar. Ia berada di ruangan yang.. gelap, bau, kotor, dan tak mengenakkan untuk pernafasannya. Hampir lima menit berlalu dalam kebingungannya saat tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Menampakkan sosok garang yang sengaja mengajaknya pergi tadi pagi.

“Oh? Kau sudah bangun?” ujar lelaki itu.

Sooyoung diam. Jelas, ia berada di dalam kondisi yang sama sekali tak memungkinkannya untuk dapat berbicara. Tetapi, matanya menunjukkan berbagai emosi tercampur aduk. Lelaki itu menyulut Montecristo miliknya yang hanya berukuran sebelas kali satu sentimeter dan mengepulkan asap sedikit biru setelahnya. Kemudian ia, lelaki itu berkata, “Choi Sooyoung.. Kau mengingatku?”

Lelaki itu berjalan perlahan mendekati Sooyoung. Membungkukkan badannya untuk mensejajarkan kepalanya dengan kepala Sooyoung. “Jika kau lupa, aku adalah,” katanya, “Kim Jaejoong.” Ia mengepulkan kembali asap rokoknya dan menyeret kursi ke depan Sooyoung kemudian menjatuhkan diri ke kursi itu.

Jaejoong tertawa kecil –sedikit terdengar seperti meremehkan– sambil mengepulkan asap rokok panjang entah sudah untuk yang keberapa kali. “Changmin bodoh. Kau, Choi Sooyoung, kau. Menculikmu ternyata tidak sesulit yang ia katakan.” Kemudian lelaki itu tertawa lagi. Jaejoong terbatuk-batuk sedikit karena tawanya. Ia perlahan kembali ke kesadarannya.

“Kau beruntung, Yunho masih menginginkanmu untuk hidup. Sangat beruntung,” katanya. Jaejoong tersenyum sekilas sebelum ia meraih pisau lipat dari saku celananya. Perlahan ia membuka pisau lipat itu dan menggoreskannya di pipi kiri Sooyoung. Perlakuannya itu membuahkan sebuah erangan kecil dari Sooyoung. Satu tetes darah dan Jaejoong kembali tersenyum. “Kau tahu? Aku begitu menyukai permainan ini,” ujarnya dan kembali menggoreskan pisau itu di pipi kanan Sooyoung. “Mmmhhh!” erang Sooyoung ketika ia merasa goresan kedua itu mengenai permukaan kulitnya dengan kasar.

“Oh, oh, naze? Kau merasa kesakitan, huh?” Sooyoung bergetar saat luncuran-luncuran keringat terus saja terjadi di sekitar dahinya. “Ssshh, ssshh. Tenanglah, tenanglah, Sooyoung. Aku tidak akan melanjutkan ini. Tenanglah..” kata lelaki itu lagi sembari memundurkan badannya. Jaejoong menengok ke belakang saat pintu ruangan itu kembali terbuka.

“Oh? Yunho? Kau sepertinya datang di saat yang sangat tepat, Yunho-ah.”

Alis Yunho naik salah satunya. Tangannya ia gerakkan keluar dari kantong celananya kemudian terdengar suara pintu tertutup –cklek. “Wae? Kau tidak menyiksanya dengan berlebihan bukan, Jaejoong-ah?” tanyanya memastikan. Jaejoong menggeleng beberapa kali dengan tenang. “Dongsaeng-mu yang manis ini.. sepertinya sedang membutuhkan ketenangan dari kau, dari Oppa-nya.”

Yunho tersenyum kecil –lebih seperti tak percaya. “Apakah yang Jaejoong katakan itu benar, Sooyoung-ah, hm? Benarkah itu?” Yunho berhenti sejenak, sempat ragu saat akan melakukan suatu hal, tapi kemudian ia tetap membuka kain yang berada di antara kedua bibir Sooyoung. Wanita itu meringis kecil, menyadari kedua ujung bibirnya sedikit terluka.

Sooyoung tahu yang ada di hadapannya saat ini adalah Yunho, Jung Yunho. Maka dari itu ia sama sekali tidak mau mendongakkan kepalanya. Karena apa yang akan ia lihat mampu membuatnya kembali ketakutan. Sooyoung baru saja memikirkan hal itu ketika tangan besar Yunho mencengkeram dagunya. Memaksanya untuk menatap mata lelaki itu. Sooyoung berusaha dengan seluruh tenaganya yang ada untuk tak membuka matanya. Ia tak mau lagi melihat tatapan itu di mata Yunho. Ia tak mau lagi hancur karena sebuah arti yang ada dalam tatapan Yunho.

“Mengapa kau menutup matamu yang indah, nae dongsaeng?” ujar Yunho kemudian memberi isyarat dengan tangan kepada Jaejoong untuk meninggalkannya bersama Sooyoung.

A-andwe..” lirih Sooyoung benar-benar tak bertenaga.

Wae? Buka matamu dan tatap aku, Choi Sooyoung.”

Sooyoung menggeleng lemah. “Andweyo..”

What the hell happened with you?! Apa aku seorang monster sampai-sampai kau tak mau menatap mataku, Choi Sooyoung?! Ha?! Jawab aku!”

Oppa, andwe..”

Deg.

Tangan Yunho perlahan mengendur, menjauh dari dagu wanita yang ada di hadapannya itu. Tubuhnya mulai bergetar dan matanya sedikit berair. Memerah dan berair. Perlahan, ia teringat sesuatu yang masih sangat jelas terekam bagaikan film berputar di kepalanya.

Flashback

It was about.. Twenty one years ago.

Aku bangun dari tidurku. Sudah sejak pukul sembilan aku terlelap. Entah mengapa, aku sangat merasa haus. Aku berjalan keluar dari kamarku. Aku sedikit terkejut ketika kulihat lampu ruang tamu belum mati. Apakah itu Eomma? Aku melihat jam, pukul satu dini hari. Apa yang ia lakukan pada dini hari seperti ini?

Eomma?”

Eomma menoleh dan ia tersenyum padaku. Di meja di depannya, sebuah kopor besar berisi baju terbuka. Aku mengernyit. Apa Eomma akan pergi? Mengapa harus pukul satu dini hari?

Eomma.. eodigayo?” tanyaku padanya. Ia kembali tersenyum lembut. Kemudian ia menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya, memberiku isyarat untuk duduk di tempat itu. Aku menjatuhkan diri di sofa itu masih dengan bingung.

“Kali ini, jangan memotong apa yang Eomma katakan padamu, eoh?” Aku mengangguk dalam diam. Ia membelai lembut rambutku. “Sebentar lagi, akan ada seseorang yang menjemputmu. Dia seorang lelaki yang tampan dan berwibawa. Seseorang yang sangat kau nantikan kehadirannya. Seseorang yang benar-benar ingin kau temui. Yunho-ah, dia Appa-mu..”

Aku terdiam. Kata terakhirnya itu.. aku baru pertama kali mendengar Eomma mengatakan itu –mengatakan ‘Appa-mu’.

 Appa? Appa.. nugu?

Aku ingat Eomma selalu mengatakan bahwa Appa sedang bekerja dan tak ada waktu sekedar untuk menjengukku. Aku ingat Eomma selalu mengatakan Appa tidak pernah berhenti bekerja hanya untukku dan Eomma. Aku ingat Eomma selalu mengatakan Appa adalah seseorang yang baik dan tampan. Aku ingat Eomma selalu mengatakan itu semua. Dan sekarang Appa akan menemuiku? Tiba-tiba?

“Yunho-ah, neo Appa akan membawamu ke suatu tempat yang benar-benar aman. Kau akan bebas dari tempat ini selamanya, kau tidak akan lagi berurusan dengan Park Ahjumma yang selalu menyuruhmu untuk mencuci piring di tempatnya berjualan. Kau tidak perlu lagi berurusan dengan hal-hal kotor di tempat menjijikkan ini. Yunho-ah, kau akan aman bersama Appa.. Sebentar lagi..” Eomma berkata dengan senyum menghias wajahnya. Ia terlihat bahagia. Tapi, entah ini hanya perasaanku saja atau memang ya, pandangan Eomma terlihat begitu sedih. Tak seceria dan segembira senyumnya. Kemudian Eomma kembali menata bajuku yang ada di kopor dalam diam. Sampai suara sebuah mobil terdengar.

Eomma memandangku sejenak saat kemudian ia bergegas untuk membuka pintu. Ia terlihat berbicara dengan seorang lelaki yang lebih tinggi darinya. Tapi, aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Eomma kembali terlihat tergesa-gesa masuk ke dalam rumah dan meraih kopor yang sudah siap dengan isinya sambil menarikku untuk mengikutinya.

Saat aku sudah berada di hadapan lelaki itu, ia tersenyum. Eomma menepuk bahuku pelan dan ia berbisik pelan, “Appa.” Aku tak tahu apa yang harus kulakukan hingga aku hanya membungkuk hormat padanya. Masih dengan membungkuk aku berkata, “Annyeonghashimnikka.. Aabbeoji.”

Lelaki –anni, pria itu mengacak rambutku pelan. Ia membungkuk kemudian menuntunku untuk kembali tegap. Masih tersenyum. “Jangan terlalu formal padaku, Yunho-ah. Panggil saja aku, Appa. Ne?”

Ne, AAppa.” Masih canggung untuk memanggil pria yang benar-benar asing wajahnya.

Aku terkejut saat tiba-tiba seorang gadis kecil keluar dari mobil yang menjemputku sambil berteriak. Ia membawa sebuah boneka di tangan kanannya.

Oppaaa!” teriaknya.

Oppa? Apa katanya? Oppa?

Keterkejutanku bertambah saat ia memelukku dengan tiba-tiba. Aku hanya bisa terdiam sambil membelalakkan mata. Sementara pria yang Eomma bilang Appa-ku itu hanya tertawa-tawa senang. Aku mendongakkan kepalaku ke kiri atas dan melihat senyum Eomma yang hanya segaris. Ia tidak terlihat begitu bahagia ketika gadis kecil yang masih dengan riang memelukku ini datang.

Neo dongsaeng, Yunho-ah,” kata Eomma pelan. Terkadang, saat Eomma tersenyum seperti itu, garis-garis penuaan sangat terlihat di wajahnya.

Ne Yunho-ah, ini adalah dongsaeng-mu,” kata pri– Appa, “Youngie, perkenalkan dirimu,” lanjutnya sambil melihat ke arah gadis kecil.

Oniichan, watashi wa Choi Sooyoung desu!” ucapnya masih dengan keriangan yang sangat kentara di wajahnya. Tunggu, untuk apa ia memakai bahasa Jepang?

Kudengar Appa tertawa dengan suaranya yang berat, “Sooyoung memang suka seperti itu, memamerkan keahliannya pada orang yang baru saja ia temui. Maafkan dia, ne, Yunho-ah?”

Appa annieyo! Aku hanya ingin memamerkan pada Yunho Oppa jika aku juga bisa berbahasa Jepang! Sama sepertinya hihihi.” Gadis kecil itu tersenyum lebar sampai-sampai giginya yang jelek terlihat.

“Nah, sudah-sudah. Kalian harus segera berangkat. Jangan membuang waktu di tempat ini,” kata Eomma. Kemudian Eomma membisikkan sesuatu lagi padaku, “Apapun yang terjadi, Eomma akan selalu menyayangimu, Yunho-ah. Jeongmal saranghae.”

Aku mengerutkan kening. Mengapa terasa seperti Eomma tidak akan ikut bersamaku?

Eomma.. tidak ikut bersamaku?”

Eomma lagi-lagi tersenyum, “Ne. Tapi, meskipun kau akan jauh dari Eomma untuk waktu yang lama, bahkan sangat lama, kau tidak perlu khawatir, Yunho-ah. Eomma akan selalu bersamamu.” Lalu Eomma menunjuk bagian hatiku dan mencium keningku lama.

Setelah itu, Eomma mengantarku untuk masuk ke mobil Appa bersama dengannya dan gadis bernama Sooyoung tadi. Aku duduk di belakang bersama Sooyoung. Dan Appa di depan. Aku berada di sisi kiri mobil. Mudah untukku melihat Eomma.

Aku tidak tahu mengapa air mataku menetes perlahan saat mobil melaju dan meninggalkan Eomma yang sedang melambaikan tangannya dan tersenyum padaku.

Yang kutahu, sejak saat aku dijemput oleh mobil mewah itu, aku menjadi seorang lelaki kecil yang kaya dan tak perlu lagi berjalan jika ingin pergi ke tempat apapun.

Saat itu, usiaku delapan tahun.

End.

 

OOppa?”

Sooyoung menangguk.

“Aaaarrghhh!!! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Kau tak punya hak! Tak punya sama sekali, Choi Sooyoung!”

Ooppa..”

Plak!

“Sudah kubilang jangan memanggilku Oppa! Aku bukan Oppa-mu!”

Dan Yunho kembali melayangkan tamparan kerasnya pada pipi Sooyoung. Wanita itu terkesiap. Perlahan ia menatap Yunho tak percaya. Lelaki yang sebenarnya benar-benar ia sayangi itu menamparnya. Matanya berair, tapi Sooyoung berusaha dengan keras untuk tak mengeluarkan cairan bening itu sekarang.

Yunho kembali mendekat ke arahnya kemudian lelaki itu berbisik dengan penekanan di setiap katanya. “Listen, Choi Sooyoung. Jangan pernah berani kau memanggilku dengan sebutan itu lagi. Kau, aku, tak pernah punya hubungan apa-apa. Camkan itu dalam hatimu.” Kemudian lelaki itu keluar sambil membanting pintu.

***

Hyung, bagaimana keadaan di sana?”

“…”

Eoh. Aku sedang bersiap untuk mengintainya sebentar lagi.”

“…”

“Aah, belum. Kurasa Kyuhyun belum akan menangkap dan membunuh target kami saat ini. Mungkin nanti malam, hanya tinggal menunggu perintah darinya saja, Hyung.”

“…”

“Kau tahu ini hanya alibiku, Hyung. Hahaha.”

“…”

Anniya! Aku akan tetap melaksanakan tugasku, meskipun itu hanya lima menit. Aku.. akan tetap menyiksanya seperti ia dulu menyiksa batinku.”

“…”

M-mwo? Waeyo?”

“…”

“Aah.. Pantas saja.. Yunho Hyung memang mudah sekali naik pitam jika Sooyoung memanggilnya dengan sebutan itu.”

“…”

“Biarkan saja. Biarkan saja Yunho Hyung berbuat seperti apa yang ia inginkan. Aku mendukungnya. Tapi, ijinkan aku untuk sekali saja membuatnya terluka.”

“…”

Ne. Aku akan memberitahumu kapan aku bisa. Akan kupastikan masih dalam kurun waktu seminggu ke depan. Dia belum mati kan?”

“…”

“Hm, baguslah.”

“…”

“Ne, Choi Sooyoung, gidaryeo.”

“Siapa yang baru saja kau sebut namanya?”

Changmin benar-benar terkejut. Ia membalikkan badan dan menemukan Kyuhyun menyatukan alisnya di sana. Sedikit khawatir jika Kyuhyun mendengar pembicaraannya tadi.

Nugu? Siapa yang harus menunggumu, Changmin-ah?”

Changmin tersenyum paksa –tapi ia berusaha untuk tak terlihat terpaksa– sambil memasukkan ponselnya kembali. “Ahahah, anni, Kyuhyun-ah. Anniya.”

“Kau yakin?” Shim Changmin tertawa, tadi terdengar tidak benar-benar tertawa. “Kau tidak percaya padaku, Kyuhyun-ah?”

Kali ini giliran Kyuhyun yang tersenyum. Tubuhnya yang lumayan tinggi berjalan mendekati Changmin. Sekarang posisinya berada di sebelah kiri sahabatnya itu. “Tentu, aku mempercayaimu.”

Hening.

Wajah Changmin tampak tegang ketika Kyuhyun memulai berbicara lagi. “Aku boleh bertanya padamu?” Itu setengah pertanyaan dan setengah pernyataan.

Kyuhyun menghirup napas panjang, kemudian dengan tegas ia bertanya pada Changmin. “Apa kau sama sekali tak bisa memaafkan Sooyoung?”

Sejenak Changmin menyesal karena tak sejak tadi saja ia pergi dan meninggalkan Kyuhyun dengan alasan ingin berdiskusi sedikit dengan Yuri –tapi itu alasan yang terlalu konyol, apalagi yang dihadapinya kali ini Kyuhyun, seseorang yang otaknya bahkan lebih cerdas ketimbang kepala divisinya, yang sangat sulit untuk mengelabuinya.

“Memaafkan? Atas semua kesalahan yang telah ia perbuat selama ini?” katanya sinis.

Kyuhyun mengusap rambutnya yang tebal ketika Changmin mengubah posisi kakinya.

“Semua? Kesalahan? Kupikir semua kesalahannya tidak ada sangkut pautnya denganmu, kecuali yang satu itu.”

“Ya, tapi yang satu itu mempengaruhi semuanya.” Kyuhyun mengubah arah pandangnya. Ia lihat lantai terang itu sama sekali tak menggubris pandangan putus asanya.

Changmin menyadari kalimatnya terlalu menyakitkan. Ia berjalan ke arah jendela. Menutupi cahaya yang masuk mengenai bagian depan tubuh Kyuhyun. “Jika kau adalah aku, atau Yunho Hyung, kurasa kau juga akan melakukan hal yang sama dengan kami.”

Ruangan itu kembali hening untuk waktu yang cukup lama. Changmin menghentikan ketukan jemarinya pada jendela ketika Kyuhyun berdiri, berjalan keluar sambil membelakanginya, tanpa kata, dengan wajah yang tak dapat tertebak beremosi atau tidak.

“Kita mulai bergerak nanti malam. Periksa lagi persiapanmu. Jika kau ingin bebas dari tugas ini secepatnya, maka kita juga harus menghabisinya secepatnya. Terima kasih atas waktu yang kau berikan, Shim,” katanya dingin sebelum kembali menutup pintu ruangan Changmin.

***

“Changmin, lakukanlah tugasmu di blok keempat setelah jalan ini. Pastikan tak ada yang curiga dengan identitasmu. Yuri, kau, tunggulah di sini dan sadaplah panggilan-panggilan yang ada hubungannya dengan Ahn Gil Kang dengan baik. Aku akan melakukan hal yang sama dengan Changmin, delapan blok dari sini. Setelah kau selesai dengan tugasmu, kembali ke tempat ini.” Kedua orang lainnya mengangguk tak ragu mendengar perintah pimpinannya itu.

Yuri menutup dan mengunci pintu van hitamnya sementara Changmin dan Kyuhyun sudah melesat ke arah yang berlawanan. Sesaat jantungnya berdebar-debar ketika sebuah panggilan berhasil disadapnya. Ia mendengarkan sejenak, kemudian langsung memberitahu Kyuhyun isi sadapan itu.

Ada kabar baru?” tanya lelaki yang mungkin sudah benar-benar jauh darinya.

“Babi kurang ajar itu akan berada di rumah seorang wanita sekitar sepuluh atau lima belas menit lagi. Kau di mana?”

Blok ketiga dari jalan tempat kita akan bertemu nanti.”

“Rumah wanita itu berada dua blok setelah blok tempatmu sekarang. Nomor 143. Si bodoh itu tadi menyebutkan ulang nomor dan blok rumahnya, mungkin agar tidak keliru.”

Kerja bagus, Yuri-ah. Akan kuberitahukan pada Changmin. Biar dia menyusulku.

“Selamat menginterupsi orang bercinta, Kyuhyun-ah.”

Orang yang mereka cari-cari ternyata sedang berbaring di atas seprai putih di sebuah rumah yang sebenarnya tak terlalu bagus. Datang lebih awal dari yang ia janjikan di teleponnya pada wanita itu. Ia hanya memakai jubah mandi yang biasa ia kenakan ketika berkunjung ke rumah itu. Ia pandangi langit-langit kamar kecil tapi memuaskan itu dan membayangkan akan seperti apa malamnya nanti.

Pintu kamar terbuka dan wanita manis yang biasa ia panggil Chagi itu terlihat. Rambutnya tergerai di pundaknya dan ia mengenakan gaun yang terkancing di lehernya tetapi terbuka di bawahnya. Sembari wanita itu berjalan, gaunnya tersingkap. Rupanya ia telanjang di balik gaun tersebut. Ahn Gil Kang menopang diri dengan lengannya, menunggu wanita yang sudah berkali-kali memuaskan hasratnya itu sampai di pelukannya.

Namanya Hyuna, wanita itu memandang Ahn Gil Kang tanpa suara. Ahn Gil Kang mengulurkan tangannya dan dalam sekali tarikan, gaun itu jatuh tanpa suara di lantai. Menampakkan payudara dan kewanitaan Hyuna tanpa ragu.

Wanita itu duduk di dekat –sangat dekat– dengan Ahn Gil Kang. Ia mengencangkan otot lengannya untuk menyatukan payudaranya dengan celah dalam di antaranya. Kemudian dengan paksa mendorong kepala Ahn Gil Kang untuk menciumi buah dadanya.

“Masuki aku,” katanya menggoda.

***

Kyuhyun harus benar-benar menutup telinganya sembari menunggu kedatangan Changmin yang masih belum terlihat batang hidungnya. Ia sungguh merasa jijik karena harus mendengar suara-suara hina yang berasal dari balik pintu yang saat ini sedang bersiap untuk ia masuki. Kyuhyun tambah bergidik ketika masih saja ia mendengar teriakan, erangan, atau desahan kepuasan saat dua orang di dalam itu mencapai orgasmenya, entah untuk yang keberapa kali, mungkin tiga, atau lima.

Ia bernapas lega ketika rambut hitam kecoklatan milik Changmin terlihat menyembul-nyembul, lelaki itu berlari. Tentu saja.

“Kau harus menutup telingamu ketika kita meringsek ke dalam, Changmin-ah.” Kyuhyun berkata sambil berbisik. Tak mau barang sedetik pun suaranya terdengar Ahn Gil Kang dan wanita simpanannya.

“Kurasa aku tidak terlalu suka mengganggu acara mereka kali ini, Kyu.”

Kyuhyun member isyarat agar mereka dapat mendobrak pintu itu bersama. Dan..

BRAK!

Pintu terlepas dari engselnya. Kedua lelaki itu langsung menuju ke kamar dan menemukan Ahn Gil Kang dan wanita simpanannya sedang tergesa-gesa mengenakan jubah mandi dan gaun mereka yang tersebar di lantai. “Jangan bergerak!”

Ahn Gil Kang terlihat tenang kembali setelah jubah mandinya terpasang dengan benar, berkebalikan dengan wanitanya yang masih ketakutan dengan dua makhluk yang berada di hadapannya yang membawa senapan pembunuh dan mengarahkan senapan itu ke dirinya dan lelaki di sampingnya.

Ahn Gil Kang tersenyum remeh. “Kali ini, siapa yang mengirimmu?” tanyanya tenang.

Kyuhyun mulai geram. “Kau tak perlu tahu, bodoh. Pemimpinku menyuruhku untuk membunuhmu langsung saat aku menemukanmu. Seharusnya begitu, tapi aku sedang ingin sedikit bermain-main denganmu,” katanya membalas.

Sementara Kyuhyun mengalihkan perhatian Ahn Gil Kang pada Changmin, Changmin siap dengan bidikannya tepat di jantung lelaki itu. Senapan hitamnya hampir saja mengeluarkan peluru jika Hyuna, wanita simpanan itu tidak mendorong Changmin jatuh dan menyelamatkan Ahn Gil Kang dari tembakannya.

Kyuhyun terkesiap. Bukan ini yang ia inginkan. Ia tersadar saat Changmin berteriak kepadanya, “Akan aku urus wanita menjijikkan ini! Cepat kau bunuh Ahn Gil Kang!”

Terlambat, Ahn Gil Kang keburu memukul senapan Kyuhyun hingga terjatuh. Membuat lelaki itu tak bersenjata lagi. Ahn Gil Kang hampir saja memukul dada Kyuhyun jika ia tak menghindar. Kyuhyun kemudian menendang betis lelaki yang kembali siap menyerangnya itu, membuatnya jatuh tersungkur.

Kyuhyun kemudian melayangkan pukulannya pada dada Ahn Gil Kang, tepat di bagian jantung Ahn Gil Kang berada. Seketika itu Ahn Gil Kang tak bergerak. Matanya membelalak dan jantungnya berhenti. Pukulan keras Kyuhyun masih tanpa ampun menerjang lelaki itu.

“Hentikan, Kyu! Dia sudah mati!” Teriak Changmin lagi menyadarkan Kyuhyun dari kegilaannya.

Kyuhyun berhenti. Ia menoleh dan melihat Hyuna bersimbah darah di bagian perutnya. Rupanya Changmin menembaknya tepat di perut. Ia menghubungi Yuri dan menyuruh wanita itu ke tempatnya untuk membawa mayat-mayat dua orang menjijikkan untuk ia serahkan pada Yunho.

***

“Aku tidak menyangka misi ini hanya akan selesai dalam dua –hampir tiga hari.”

Yuri menyesap kopi panasnya, menghirup aroma kopi itu sebelumnya. “Ahn Gil Kang tak terlalu susah untuk dibunuh. Sebenarnya aku bingung mengapa Yunho Sajangnim memberikan tugas yang lumayan mudah seperti ini kepada kita.”

“Entahlah, aku tak peduli lagi pada lelaki hobi menyuruh itu. Oh iya, dimana Changmin?”

“Ia tak memberitahumu, Kyu?” Kyuhyun menggeleng.

“Tadi pagi ia pergi kembali ke Seoul. Katanya ia ada beberapa urusan, entahlah, laporan mengenai misi-misi mandirinya yang belum ia serahkan.”

Kyuhyun mengangguk ragu. Bukan itu sebenarnya yang ada di pikirannya. Ia melihat matahari yang semakin meninggi.

 “Kurasa aku akan pulang hari ini, Yul.”

“Aku juga, sudah tak ada kewajiban kita di sini.”

“Bukan, bukan itu masalahnya.”

“Lalu?”

Kyuhyun berpikir kembali. Ragu.

“Aku mengkhawatirkan Sooyoung.”

Namun pada akhirnya ia mengatakannya juga.

—–

TBC

Some Japanese vocabs

Ohisashi buridesune: Sudah lama tidak bertemu/berjumpa

Ohayo gozaimasu: Selamat pagi (biasanya disingkat jadi cuma Ohayo)

Naze: Kenapa?

Shinpai shinaide: Tidak perlu khawatir/ tenang saja

Yoku dekita ne: Kerja bagus

Onii-chan: Panggilan ke kakak laki-laki

Watashi: Saya (biasanya dipake buat ngenalin diri)

Author’s note

Hai guys-_- Udah lama banget sejak saya update chapter ketiga ff ini. Sebelumnya, saya mau minta maaf dengan sangat karena udah buat kalian nunggu sekian lama dengan update-an yang uhh kayak gini-gini aja. Pertama, saya sangat sangat sangat sangat sangat sangat sibuk dengan sekolah saya (buat yang belom tau, kelas saya sekarang itu menuntut sebuah kecepatan dalam belajar, oke jangan dibilang sombong ya, cuma mau curhat aja-_-), kedua waktu buat sekedar buka folder berjudul FANFICTION aja ngga ada, gimana saya mau ngelanjutin ff ini gitu. Nah thank God tadi itu pulang sekolah lebih cepet dari biasanya karena anak reguler di sekolah saya lagi pada UTS, saya sendiri malah lagi UAS sekarang ini-_- Terus juga ditambah kesibukan beberapa subsie (atau biasanya namanya ekstra) yang benar-benar menyita waktu. Udah ah itu aja alesannya haha-_- Maaf ya kembali lama banget ditambah curhat segini panjang kagak penting pula.

FIghting guys! xD

Advertisements

55 thoughts on “A Game of Power [Four: Abduction and an Old Truth]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s