Pastel Pistol: Hemlock

pastelpistol

A comeback story by Soshinism

—–

Rating: PG 15

Genre: Romance, Psychological

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Shim Changmin.

—–

— I present to you the best from me—

“Cho Kyuhyun, ne?” tanyanya.

Nuguseyo?

Kyuhyun mengangguk tanpa suara setelah membalas lelaki yang mengajaknya bicara itu dengan pertanyaan. Dalam hati ia bertanya-tanya siapa dokter lelaki itu yang mengetahui namanya. Baru saja hendak ia buka bibirnya saat sang dokter kembali berujar, “Bisa ikut sebentar? Ayo, Cho Kyuhyun-ssi.” Untuk beberapa detik Kyuhyun ragu apakah harus mengikuti dokter itu dan meninggalkan Sooyoung sendiri.

“Ah, Choi Songsaengnim akan aman di sini,” ujar lelaki itu lagi meyakinkan Kyuhyun sambil menunjuk pada Sooyoung yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dan pada akhirnya Kyuhyun melangkahkan kaki mengikuti sang dokter.

Keduanya kemudian sampai di salah satu taman yang ada di rumah sakit tersebut. Angin menyambar bangunan dan dedaunan pohon rumah sakit berkali-kali dan menyebabkan suara dentuman pelan yang menenangkan. Selama beberapa saat berjalan dalam gemuruh suara angin, sampai Kyuhyun akhirnya membuka suaranya terlebih dahulu, “Nuguseyo, Songsaengnim?” Siwon yang memunggungi Kyuhyun kali membalikkan badan dan menatap lelaki itu tepat di kedua matanya dengan tajam dan serius.

“Bisakah kau menjauh dari Sooyoung?” ujar Siwon. Salah satu tangannya ia masukkan pada saku celana formalnya. Kyuhyun yang terhentak dengan kalimat itu hanya mampu membelalakkan matanya.

Ne. Tinggalkan dia, jangan berada di hadapannya lagi, bisakah?” ujar Siwon lagi dengan seluruh ketegasan yang ada pada dirinya.

Kyuhyun menghela napas berat, tertawa dengan rasa tidak percaya, kemudian membalas, “Mwo? Siapa kau sampai bisa mengatakan itu pa–,”

Oppa. I am her brother,” putus Siwon sebelum Kyuhyun dapat melanjutkan kalimatnya. Kyuhyun kembali terkejut, ia mengerutkan kening, “yya, apa yang kau katakan?” Siwon masih terdiam, raut wajahnya masih serius seperti sebelumnya.

“Aku sahabatnya sejak kecil dan aku tahu Sooyoung tidak memi–“

Arra, Cho Kyuhyun-ssi, arra. Aku tahu dia tidak memiliki kakak lelaki kandung,” putus lelaki berbadan besar itu lagi dan Kyuhyun kembali tertawa sarkastik.

“Lalu? Siapa kau?” ujar Kyuhyun.

“Aku menjadi kakak lelakinya sejak kau meninggalkannya,” dan dengan itu Kyuhyun mengubah ekspresi wajahnya menjadi tak terbaca –lebih seperti terkejut, marah.

Mwoya?”

Dan Siwon menghela napas sebelum memulai kalimat-kalimat panjangnya.

***

Desember, 2000

Eomma!” teriakan seorang gadis kecil terdengar begitu kencang saat Siwon kecil menyantap makan malamnya. Ayahnya yang berada satu meja dengannya juga membelalakkan mata, sementara ibunya yang masih memakai apron berlari kecil dari dapur. Siwon dan orang tuanya tahu dari mana sumber suara itu berasal, kemudian ketiganya cepat-cepat berlari keluar dan menghampiri rumah yang terletak persis di sebelah rumah mereka untuk memastikan apa yang terjadi.

Eomma, ireona!” suara itu terdengar lagi saat ketiganya sampai di dalam rumah itu dan menemukan seorang gadis kecil yang tengah memukul-mukul tubuh ibunya dengan air mata bercucuran dari dua matanya. Ayah Siwon langsung berlutut di samping wanita yang tergeletak di lantai parket rumah itu kemudian mengecek pernapasannya.

Yeobo, hubungi ambulans sekarang juga,” ujar lelaki itu pada istrinya dan dengan sigap wanita itu menghubungi petugas yang dibutuhkan.

Siwon yang saat itu berusia tiga belas tahun hanya mampu menyaksikan yang terjadi di hadapannya. Saat tangis sang gadis kecil bertambah kencang dan napasnya mulai tak beraturan, sementara kedua orang tuanya sibuk mengurus sang ibu dari gadis itu, ia tarik lengan kecil sang gadis dan memeluknya dengan kedua lengannya. Dan saat itu pula ambulans datang.

Kemudian, beberapa bulan berlalu sejak kejadian mengerikan itu terjadi. Orang tua Siwon pada akhirnya memutuskan untuk merawat sang gadis. Keduanya –Siwon dan gadis kecil– sedang berada di halaman belakang rumah saat salju kembali turun di hari yang petang itu.

“Sooyoung-ah, ayo masuk, palli,” ujar Siwon pada gadis itu. Namun yang dipanggil tidak menggubris dan masih pada lamunannya.

“Sooyoung-ah,” panggilnya lagi dan tetap tidak ada jawaban.

Siwon mendekat pada Sooyoung dan berdiri di belakangnya. Ia singkirkan salju yang jatuh di atas kepala gadis itu dengan lembut dan berkata, “Kajja, Sooyoung-ah. Di sini dingin sekali,” kemudian ditariknya tangan gadis itu masuk ke dalam rumah.

Dan itulah yang terjadi, selama berbulan-bulan, bertahun-tahun lamanya. Sooyoung yang menjadi seorang gadis pemurung dan Siwon yang selalu menemaninya. Terus berulang, apa yang terjadi di atas, seperti pada suatu musim panas di dua tahun berikutnya.

Saat itu musim panas datang cukup terlambat, yang harusnya ia datang pada bulan Juni, tahun itu datang pada bulan Juli. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Siwon untuk menggunakan waktu berlibur musim panasnya –yang akan datang beberapa hari lagi–  dengan baik.

Pada sebuah siang di musim panas itu, kira-kira pada minggu pertama bulan Juli, saat libur musim panas belum dimulai, Siwon menyibukkan diri bermain basket di lapangan sekolah. Usianya saat itu sudah memasuki usia remaja dan ketampanan serta kharismanya mulai muncul, menyebabkan gadis-gadis di sekolahnya menggilainya.

Di sisi sebelah kiri lapangan gadis-gadis itu berteriak dan bersorak dengan ekspresi imut yang terlalu dibuat-buat, sementara di sisi lain seorang gadis yang tak lain adalah Sooyoung, juga turut menonton pertandingan kecil ala siswa sekolah menengah itu. Ia tersenyum kecil saat Siwon berhasil memberi skor pada timnya melalui tembakan jarak jauh. Belum sempat ia mengubah lagi ekspresi tersenyumnya, Siwon terlanjur mendapatinya dengan senyum manis itu, dan lelaki itu membalas dengan hal yang sama. Sooyoung yang kikuk dengan cepat kembali merubah senyumnya menjadi sebuah garis lurus. Sekali lagi Siwon mencetak skor untuk timnya dan Sooyoung menghela napas seraya membalikkan badan untuk kembali ke kelas. Tidak begitu suka keramaian, begitu pikirnya. Belum sampai sepuluh langkah dari lapangan itu, sebuah tangan menepuk bahu kanannya dan secepat kilat ia menoleh karena terkejut. Setelah mengetahui siapa orang yang berani menyentuhnya tersebut, ia kembali menghela napas lega.

“Ah mian, Sooyoung-ah. Kau pasti terkejut. Hehe,” ujar lelaki itu dan sedetik kemudian meletakkan lengannya untuk merangkul Sooyoung. Sementara gadis itu menaikkan satu alisnya dan melirik pada Siwon sebentar, untuk kemudian kembali menatap ke depan. Yang tak diketahui Siwon, gadis itu sempat kembali tersenyum kecil menyadari rangkulan yang ada pada bahunya.

“Kau tahu Sooyoung-ah, kalau kau adalah seorang perempuan yang sangat beruntung?”

Wae, Oppa?” Siwon kali ini menoleh untuk melihat gadis itu, matanya membesar dan bibirnya terbuka sedikit karena rasa terkejutnya yang amat besar. Kemudian keduanya berhenti dari langkahnya dan saling menghadap satu sama lain. Sooyoung masih nyaman dalam diamnya dan Siwon merubah letak tangannya, kali ini berada di kedua lengan atas –hampir dekat bahu– gadis itu.

Omona! Omona! Omona!” ujar Siwon terlihat begitu girang. Lelaki itu berputar pada tempatnya sekali-tiga untuk mengekspresikan rasa bahagia yang baru saja didapatnya, kemudian kembali meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Sooyoung –tentu saja wanita itu hanya memperhatikan tingkah laku Oppa-nya tersebut dalam diam.

I’ve been waiting for this time to come! I’ve been waiting for this for so long, Sooyoung-ah!” ujarnya lagi dan tepat saat itu bel tanda waktu istirahat telah berakhir, dan kelas berikutnya akan mulai, berbunyi. Siwon berbalik arah dan melangkah menuju ruang kelasnya, memunggungi gadis itu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Dan sang gadis yang masih dalam kenyamanan dunianya, dengan kasual juga melangkahkan kaki menuju kelas berikutnya.

Sang surya mulai menutup diri malu-malu di balik awan saat kumpulan remaja berbondong-bondong keluar dari gedung sekolah. Begitu pula Sooyoung yang berjalan sendiri di tengah-tengah lautan manusia, membawa tas sekolahnya dan memasang earphone pada kedua telinganya, kemudian mendengarkan sebuah lagu yang paling ia sukai. Mendadak dunia hanya miliknya dan suara yang didengarnya hanya yang berasal dari earphone-nya. Saat sebuah tangan menarik earphone yang ada di telinga kirinya.

“Aah… Goo Goo Dolls’ Iris?” tanya pemilik tangan tersebut setelah meletakkan earphone yang diambilnya pada telinganya sendiri. Sang lelaki yang ternyata tak lain adalah Siwon kemudian tetap pada posisinya dan berjalan berdampingan dengan Sooyoung. Dan keduanya sampai pada sebuah taman yang terlihat segar di musim panas itu.

Lelaki itu merogoh tas biru tuanya yang sudah luntur dan berusaha meraih sesuatu. Sesaat kemudian sebuah mp3 player sudah berada di tangannya. Ia cabut bagian yang menancap dari earphone milik Sooyoung dan menyambungkannya dengan mp3 player miliknya. Tangannya sibuk mengutak-atik alat itu dan pada akhirnya sebuah lagu mulai terdengar di telinga Sooyoung.

Ia sedikit melebarkan kedua matanya saat lagu itu mulai bermain. Tatapannya tertumbuk pada Siwon yang berada di hadapannya, dan beberapa kali ia mengerjapkan kelopak matanya, sementara lelaki itu masih terus mempertahankan senyumnya sembari menunggu lagu untuk selesai bermain.

Saat lagu telah selesai, Sooyoung melepas earphone yang melekat pada telinganya perlahan, dan bersamaan dengan itu Siwon berujar, “Lagu itu dinyanyikan oleh The Carpenters. Lagu yang cukup tua, namun entah mengapa lagu itu sangat indah dan menenangkan. Judulnya Yest–“

Yesterday Once More,” potong Sooyoung sebelum Siwon menyelesaikan kalimatnya. Lelaki itu menatap Sooyoung tepat di kedua matanya, menarik salah satu ujung bibirnya, dan menahan rasa terkejutnya supaya tetap terlihat cool di hadapan gadis itu.

Ne. Yesterday Once More. Kau tahu, Sooyoung-ah?” ucapnya lagi setelah mampu menguasai diri.

Sooyoung mengangguk dan memberikan senyum terindahnya lagi pada Siwon, entah untuk yang keberapa kali hari ini. Ia tahu lagu itu. Ia sangat tahu lagu yang baru saja berputar kembali di pikirannya setelah beberapa lama tidak ia dengar.

Gomawo, Oppa,” ujar Sooyoung masih dengan senyumannya. Siwon menatap gadis itu dengan tatapan yang sama saat ia bertingkah kegirangan di sekolah tadi.

“Aku yang seharusnya berterima kasih, Sooyoung-ah. Gomawo telah membalas kalimatku padamu, dan gomawo telah memanggilku Oppa,” ujar lelaki itu kemudian mengacak rambut Sooyoung.

Dan begitu yang terjadi selama beberapa bulan, beberapa tahun, hampir lima tahun, Sooyoung yang berubah total menjadi seorang gadis pemurung dan selalu diam jika tidak ada yang penting untuk ia katakan dan Siwon yang tak pernah menyerah untuk mengembalikan Sooyoung yang dulu, Sooyoung yang selalu tersenyum dan selalu membagi keceriaannya pada siapapun. Dan usahanya tidak sia-sia, setidaknya setelah Sooyoung mulai membuka dirinya lagi pada tahun keenam mereka bersama.

***

Juni, 2017

“Sejak Ahjumma pergi meninggalkan Sooyoung selamanya, sejak saat itu, secara ofisial aku menjadi kakak lelakinya. Dan… butuh waktu hampir lima tahun untuk membuatnya kembali menjadi wanita yang seperti sekarang, Kyuhyun­-ssi,” ujar Siwon kemudian tersenyum. Tersenyum karena mengingat masa kecilnya bersama wanita itu yang begitu tertanam di memorinya.

Kyuhyun meletakkan posisi duduknya dan berkata, “Ah… sekeras itu hidupnya.” Raut wajahnya tak mampu dibaca lagi kali ini, jantungnya serasa melemas dan seluruh tubuhnya seperti ditusuk jarum di seluruh tempat. Rasa bersalah dan penyesalan tiba-tiba menghantam hatinya tanpa ampun. Ia memejamkan mata kemudian langsung membukanya kembali, dan berujar, “hokshi… pernahkah Sooyoung menceritakan hidupnya sebelum ia pindah ke sebelah rumahmu?”

Siwon menatap langit, mengerutkan kening, “Tidak pernah, sama sekali. Berapa kalipun kucoba untuk bertanya akan hal itu padanya, dia tidak pernah menceritakannya. Bahkan sampai saat ini.”

Kyuhyun kembali terlarut dalam lamunannya. Ia betul-betul tidak menyangka jika sahabat kecilnya itu akan mengalami sebuah kejadian yang merenggut kebahagiaannya di usianya yang masih sangat muda. Lelaki itu masih terlihat berpikir dalam, kemudian tersadar dan mengatakan, “Lalu… apa yang terjadi pada Sooyoung tadi?”

Hyperventilation syndrome,” jawab Siwon dengan cepat.

“Sooyoung memiliki hyperventilation syndrome, Kyuhyun-ssi,” ujar Siwon lagi dan kali ini Kyuhyun menatap lelaki itu. Keterkejutan Kyuhyun hari ini rasanya tidak akan berakhir.

Hyperventilation syndrome banyak disebabkan karena faktor-faktor psikologi. Yang memilikinya seringkali merasakan pusing, sakit pada dadanya, dan susah untuk bernapas, seperti merasa kekurangan oksigen untuk dihirup, dan jika sudah benar-benar parah, bisa seperti apa yang baru saja terjadi pada Sooyoung. Pada banyak kasus, sering juga ini terjadi menyertai panic attack,” Siwon menghela napas beberapa kali, ia melirik pada Kyuhyun yang tak bisa ia baca raut wajahnya, kemudian melanjutkan, “Sooyoung mulai sering mengalami sindroma ini sejak kalian berpisah,” ujarnya dan lagi-lagi membuat Kyuhyun terperanjat.

Kyuhyun memalingkan pandangan ke arah lain, dahinya membentuk keriput-keriput kecil, dipejamkannya matanya beberapa saat sembari menata kembali pikirannya. “Kau bilang Sooyoung mulai sering mengalaminya setelah aku meninggalkannya, bukan karena kepergian Ahjummeoni?” tanya Kyuhyun pada akhirnya. Siwon mengangguk sekali dan setelah itu bangkit dari duduknya.

“Kuharap apa yang kukatakan cukup jelas untuk kau pahami, Kyuhyun-ssi. Dan kuharap setelah ini kau tidak akan muncul di hadapan Sooyoung lagi,” ujarnya sambil mulai melangkah pergi dari taman tersebut. Belum ada tiga langkah kakinya bergerak, Kyuhyun memanggilnya.

Hokshi… apakah lagu yang kau putarkan untuk Sooyoung berjudul Yesterday Once More?” yang diajak berbicara dengan cepat membalikkan badannya. Siwon tampak cukup terkejut dengan pertanyaan yang diajukan lelaki itu.

Eottoke arraseo?” balasnya masih dengan ekspresi yang tertanam di wajahnya.

Kyuhyun tersenyum kecil setelah mendengar apa yang dikatakan Siwon, ia berdiri dari kursi kayu di taman itu, berjalan mendekat pada Siwon, dan meletakkan kepalanya cukup dekat dengan indera pendengaran Siwon, kemudian berkata dengan tegas, “Aku tidak akan menghilang. Aku tidak akan pergi dari hadapannya, Siwon-ssi,” dan ia tinggalkan lelaki itu sendiri.

***

“Changmin eodiga?” sekitar dua puluh menit setelah Kyuhyun menyelesaikan perbincangan dengan Siwon yang mengguncang dirinya, ia menghubungi sekretarisnya. Lelaki di seberang menjawab bahwa dirinya baru saja memarkir mobil di garasi rumah Kyuhyun.

“Jemput aku di rumah sakit, sekarang,” ujarnya dan terdengar keterkejutan dari Changmin yang bertanya-tanya bagaimana bisa sampai bosnya itu berakhir di rumah sakit.

“Aish cepatlah, now, Changmin,” ujarnya lagi dengan tegas kemudian menutup panggilan itu tanpa mendengarkan jawaban lain dari yang diajaknya bicara.

Untuk beberapa saat yang tak terhitung seberapa lama, Kyuhyun berdiri tepat di bagian luar pintu utama rumah sakit. Baru saja hendak ia membeli satu cup kopi untuk menghangatkan tubuhnya ketika mobilnya muncul. Cepat-cepat ia masuk dan langsung mengucap pada Changmin, “Antar aku bertemu Abbeoji.”

N-ne?” Changmin kembali memastikan yang didengarnya tidak salah dan bukan sebuah imajinasinya. Ini kali pertama sejak beberapa bulan Kyuhyun meminta untuk bertemu ayahnya. Sudah beberapa bulan lamanya lelaki itu tidak menemui ayahnya, dengan alasan yang tidak diketahuinya.

“Antar aku bertemu Abbeoji atau kau mau kembali ke desa terpencilmu itu dan menikah dengan wanita yang orang tuamu jodohkan denganmu itu, ha?”

N-ne, Kyuhyun-ssi,” balas Changmin dengan cepat mendengar ancaman yang keluar dari bibir Kyuhyun, ancaman yang sangat mengerikan baginya.

Changmin melirik pada jam yang ada di pergelangan tangan kirinya, kemudian menyadari sesuatu, “Chogi, Kyuhyun-ssi, sepertinya waktu kunjungan akan habis sesampainya kita di sana,” ujarnya pada Kyuhyun. Sekarang giliran Kyuhyun yang mengecek jam pada ponselnya, ekspresinya tidak berubah dan pandangannya kembali pada jalan di depannya, “gwenchana. Aku hanya butuh lima menit bertemu dengannya.”

Sesampainya mereka di tempat yang dituju, buru-buru Kyuhyun melangkah ke dalam bangunan yang terlihat gelap itu. Setelah mendapatkan ijin dari petugas dan terjadi sedikit perdebatan dengan sang petugas, ia berhasil masuk di ruang tunggu. Ia memposisikan tubuhnya di salah satu set meja dan kursi yang ada sembari menunggu seseorang yang ingin ditemuinya untuk datang. Lelaki itu mengetuk-ketukkan jemarinya di atas meja dan beberapa saat kemudian, seseorang yang ditunggunya muncul.

Lelaki dengan baju penjara berwarna biru dongker itu tersenyum padanya sambil melangkah pada Kyuhyun. Rambut berubannya yang sudah botak di sebagian area kepalanya terlihat cukup basah –mungkin baru saja dibasuh. Diposisikannya tubuhnya di kursi yang terletak di seberang Kyuhyun. Napasnya yang terlihat lelah terdengar berat namun raut kebahagiaan tetap tidak menghilang dari wajahnya.

“Kyuhyun-ah,” ujar lelaki itu masih dengan senyum terpatri di wajahnya.

Lelaki yang lebih muda yang berada di hadapannya mendangakkan kepalanya dan menatap dua mata tua itu. Udara terasa cukup pengap di ruangan itu karena sirkulasi yang kurang. Pergerakan jarum detik pada jam dinding terdengar begitu jelas di telinga Kyuhyun dan cat kusam ruangan itu seolah-olah seperti menatapnya dengan intens. Memaksa pikirannya untuk membuat kerancuan dan membingungkan bibirnya.

Aigoo nae adeul, bagaimana ini bi–,“ kembali lelaki yang rambutnya sudah mulai berubah tersebut bersuara. Kedua tangan dengan kulit keriputnya hampir ia gunakan untuk menyentuh lengan Kyuhyun yang Nampak dibalut armsling namun Kyuhyun langsung menahannya dan mengembalikannya di atas meja –dengan gerakan sehalus mungkin.

Appa, aku tidak mau berbasa-basi,” ungkapnya tegas. Sementara seseorang yang dipanggilnya Appa tersebut hanya memberikan pandangan bingung sebagai balasannya.

Kyuhyun beberapa kali mengalihkan pandangan dari lelaki yang dipanggilnnya Appa tersebut, ke langit-langit ruangan kemudian lantai sambil berusaha mengatur napas dan ketenangannya. Kedua matanya terlihat serius dan lawan bicarannya tahu itu.

Appa, apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu?” ujar Kyuhyun masih dengan keseriusan dan ketegasan mewarnai dirinya saat ini. Sang lelaki yang ditanya menaikkan salah satu alisnya dan sedikit menarik ujung bibirnya ke bawah, masih sambil menatap anak lelaki satu-satunya tersebut, kemudian membalas, “Saat itu… eonje?”

Kyuhyun menghembuskan napas sedikit kesal dan memejamkan matanya sekali selama beberapa saat. Tangannya yang tidak terbalut armsling mengepal di bawah meja dengan keras. “Kejadian yang membuatmu berada di sini sekarang, apa yang terjadi sebenarnya?” tanyanya lagi berusaha menguak hal yang menjamur di kepalanya beberapa saat terakhir ini.

Ayah Kyuhyun tertawa kecil dan mengangguk pelan, “Ada apa kau bertanya mengenai hal itu lagi, eoh? Belum cukup rasa penasaranmu?” Kali ini kesabaran Kyuhyun mulai meluntur. Wajahnya mulai memerah karena emosi.

“Kau tahu kita tidak punya banyak wak–,” belum selesai Kyuhyun dengan kalimatnya, ayahnya sudah memutusnya.

Arraseo, Kyuhyun-ah. Dan Appa sudah menceritakan semuanya padamu sa–,” ujar lelaki yang lebih tua namun belum sempat menyelesaikannya dan Kyuhyun kali ini balas memutus kalimatnya dengan berkata, “aku tahu kau berbohong, Appa.” Lelaki itu terkejut. Kepalanya mundur beberapa senti seperti menghindar dari sebuah tamparan. Setelah mampu menguasai dirinya lagi, lelaki yang hampir mencapai kepala enam itu kembali tertawa kecil, “bagian mana dari kisah itu yang merupakan sebuah kebohongan, berdasar tuduhanmu, Kyuhyun-ah?” responnya pada Kyuhyun.

Dwasseo. Aku akan mencari tahu sendiri,” ujarnya dengan ketus.

Kemudian dengan cepat ia melengos dari tempatnya dan meninggalkan ayahnya tanpa berbalik arah atau mengucap salam perpisahan. Ia tahu jika bertambah lama di tempat itu dengan segala kebohongan yang disimpan rapat oleh lelaki yang telah membesarkannya itu, dirinya akan hilang kendali. Dan hal yang tak diinginkan akan terjadi.

***

Sooyoung mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan pada cahaya terang yang berasal dari lampu di langit-langit ruangan di atas ranjangnya. Saat akhirnya kesadarannya benar-benar pulih, seseorang memanggil namannya dan membantunya untuk duduk. Wanita itu menatap sang lelaki dan sedikit bingung ketika ekspektasinya tidak sesuai realita.

“Eoh, Oppa? Keunde…

“Cho Kyuhyun? Sekitar dua jam yang lalu dia pergi dan terlihat buru-buru,” ujar Siwon dengan tenang dan Sooyoung hanya mengangguk-angguk. Suasana di antara keduanya mendadak hening saat kemudian Sooyoung kembali membuka suara, “aku pingsang lagi, ya?” tanyanya pada Siwon. Kali ini gantian lelaki itu yang mengangguk. Senyumnya mengembang di wajah tampannya, “maka dari itu, jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang dapat memicu sindroma yang kau miliki untuk muncul,” ujarnya.

Arra. Mian, hehe,” balas wanita itu lagi.

Sooyoung membelalakkan mata ketika samar-samar ia dengar kegaduhan yang sudah sangat biasa di telinganya. “Emergency Patient! Collaps at–,” mendadak ia alihkan pandangannya pada Siwon dengan penuh keterkejutan, dan lelaki itu berkata dengan pelan, “andwe, Choi Sooyoung. Sudah ada dokter bedah lain yang menangani, kau–,” ucapannya terputus bersamaan dengan Sooyoung yang mencabut dengan paksa jarum infus di punggung tangannya dengan kasar dan berlari menuju sumber suara. Sementara lelaki itu hanya bisa menghembuskan napas dan mengetuk dahi dengan tangannya.

Ketika langkah kaki Sooyoung mencapai ruang UGD rumah sakit, benar saja, dugaannya tidak keliru. Antrean pasien yang harus ditangani membludak. Ia sempatkan bertanya pada salah satu perawat yang terlihat terlalu sibuk tentang apa yang terjadi.

“Ada kecelakaan besar terjadi di daerah Samseondong dan mayoritas korban dialihkan ke rumah sakit kita,” ujar perawat itu dan kembali menyibukkan diri dengan urusannya. Sooyoung berdiri terdiam beberapa saat. Matanya mengikuti pergerakan para korban dan perawat yang mondar-mandir di ruang UGD tersebut.

Wanita itu menghembuskan napas dengan mulutnya, kemudian saat sebuah suara seorang perawat terdengar menyatakan bahwa ada seorang pasien yang harus ditangani, secepat kilat ia ambil alih pasien itu dan membawanya ke ruang operasi. Dan tanpa sepersetujuannya, malam itu menjadi salah satu malam tersibuk dalam kehidupannya sebagai dokter.

***

Keesokan harinya, saat keadaan rumah sakit sudah cukup kembali tenang, dan pasien serta korban kecelakaan malam sebelumnya sudah ditangani, Sooyoung yang sedang mengistirahatkan badannya sejenak di kursi hitam besar ruangannya dikejutkan dengan sebuah suara yang memanggilnya. Ia membalik kursinya dan menghadap pada seseorang yang memanggilnya tersebut. Seorang residen tahun kedua, anak buahnya yang cukup setia dengannya. “Ne, Minho-ssi?” tanyanya pada lelaki itu.

“Aku memanggilmu tiga kali, Choi Songsaengnim,” balas Minho dan tertawa canggung. Sooyoung yang menyadari hal itu cepat-cepat meminta maaf padanya. “ah, jeosonghamnida,” Minho hanya tersenyum membalasnya dan setelah itu ia menyerahkan sebuah berkas.

“Ini perkembangan pasien yang menjalani operasi pengangkatan tumor di matanya. Sejauh ini sudah membaik dan pasien sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat inap,” ujar Minho lagi. Kembali kali ini ia mendapati Sooyoung melamun, pandangan matanya kosong dan lurus menatap berkas yang diberinya tadi.

Songsaengnim?” panggilnya pada Sooyoung hingga beberapa kali dan baru wanita itu tersadar.

Jeosonghamnida. Ne, pindahkan ke ruang biasa dan kontrol perkembangannya sampai keadaannya baik untuk dipulangkan. Segera jika ada tanda-tanda kankernya kembali menyebar ke mata, laporkan padaku,” balasnya pada Minho. Lelaki itu mengangguk dan mengambil berkas sang pasien.

Sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu, Minho kembali mengeluarkan suaranya, “Akhir-akhir ini kau sering sekali melamun, Songsaengnim,” Sooyoung sedikit terkejut dengan perkataan residennya itu dan hanya memasang ekspresi seperti sedang bertanya.

“Ah, anni… Jika ada apa-apa, jangan disimpan sendiri, Songsaengnim. Fighting!” Minho tersenyum pada wanita itu, membungkukkan badannya, kemudian setelah mendapat balasan sebuah senyuman dari Sooyoung, ia pergi. Dan Sooyoung kembali memutar kursinya menghadap jendela besar yang ada di ruangannya.

Tak lama pintu ruangannya terbuka lagi dan suara seorang wanita kali ini terdengar. “Residen itu tampan juga ya. Aish beruntung sekali dirimu Choi,” ujar sang wanita. Sooyoung kembali tersenyum saat mendengar suara itu, ia tahu suara siapa itu. Secepat kilat dibaliknya kursinya dan berkata, “wae, kau suka?” tanyanya pada wanita itu.

Sang wanita yang menggelung rambut panjangnya itu hanya tersenyum kecil dan berjalan mondar-mandir di ruangan Sooyoung. Dilihatnya satu rak Sooyoung yang berisi berbagai macam penghargaan dan beralih ke rak lain yang berisi foto-foto kenangan saat dulu sebelum menjadi dokter. “Neo wae, Sooyoung-ah?” Sooyoung yang tak paham maksud perkataan teman dekatnya itu hanya membalas, “naega wae?”

“Aku sempat mendengar obrolan terakhirmu tadi dengan si residen tampan. Katanya kau sering melamun akhir-akhir ini dan ya, dia benar. Kau sering sekali melamun akhir-akhir ini, setelah operasi, sebelum operasi, saat ada yang memanggilmu. Neo wae, Choi Sooyoung?”

Namja?” cecar wanita itu lagi sebelum Sooyoung mampu menjawabnya. “Kau tidur dengan seorang lelaki dan dia meninggalkanmu, begitu, eoh?” ujarnya lagi dan kali Sooyoung membelalakkan matanya karena begitu terkejut.

“Yya! Im Yoona!” bentaknya pada wanita yang dipanggilnya Yoona itu. Sementara yang dibentak tertawa geli akan reaksi yang diberikan Sooyoung. “Wae? Calm down, Choi. Di usiamu yang sudah hampir kepala tiga ini, hal tersebut sudah biasa kan? Tidur dengan lelaki, namun ketika esok harinya kau hubungi dia–“

Aish molla,” ujar Sooyoung kesal karena terus digoda.

Ia bangkit dari duduknya dan meraih coat-nya yang menggantung kemudian melangkah keluar. Beberapa sentimeter kakinya menyentuh ambang pintu, Yoona kembali berkata, “Cho Kyuhyun?” ujarnya. Dua kata itu sukses membuat Sooyoung berhenti di tempatnya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam sampai Sooyoung membuka suara, “aku mau pulang. Jika mencariku aku ada di rumah,” dan meninggalkan Yoona yang tersenyum kecil di belakangnya.

***

Sooyoung mengusap satu-dua bulir air yang masih tersisa di dahinya dengan handuk. Setelah pulang dari rumah sakit, ia memutuskan untuk membersihkan diri sekaligus membuat pikirannya kembali segar setelah berjam-jam menangani pasien. Wanita itu mengambil segelas air mineral dingin dari kulkas di dapur rumahnya dan membawanya ke kamar. Ia kemudian memutar sebuah piringan hitam yang berisikan lagu-lagu kesukaannya sejak dulu. Sembari musik mulai mengalun lembut di telinganya, diambilnya sebuah kotak yang hampir penuh tertutup debu dari atas lemari. Ia meniup debu-debu yang mengganggu tersebut dan membukanya perlahan. Senyumnya perlahan merekah saat melihat isi kotak tersebut; berbagai penghargaan saat dirinya sekolah dulu, foto-foto bersama teman-teman dan sahabat kecilnya, mirip dengan yang dipajangnya pada lemari display di ruangan miliknya di rumah sakit.

Beberapa lagu selesai dan sebuah lagu mulai bermain saat Sooyoung mendapati ada sekumpulan surat tanpa alamat tujuan, hanya ada namanya dan nama yang dituju. Lagu yang menenangkan itu perlahan menuntun Sooyoung pada beberapa tahun yang lalu.

Januari, 1997

Sooyoung kecil terus mengamati sahabatnya yang tak lain adalah Kyuhyun sembari ia menulis sesuatu di selembar kertas. Matanya yang besar dengan seksama mengikuti gerakan tangan dan pulpen Kyuhyun, dari kiri ke kanan, kiri-kanan, begitu sampai waktu yang tak terhitung.

“Kau menulis surat untuk siapa, Kyuhyun-ah?” tanyanya masih belum bisa menebak untuk siapa Kyuhyun menulis surat tersebut dengan sangat serius.

Kyuhyun menarik satu ujung bibirnya, dan tanpa beralih pandangan dari tulisannya, ia menjawab, “Untukmu,” ujarnya singkat.

Mwoya? Untukku? Wae?” tanya Sooyoung lagi makin tidak mengerti dengan jawaban yang dilontarkan Kyuhyun. Sementara temannya itu hanya mengangguk, masih dengan senyum yang terpatri di wajahnya.

Geurae. Kalau begitu aku juga akan menulis surat untukmu, Kyuhyun-ah,” ujar Sooyoung. Tepat saat itu, sebuah alat pemutar piringan hitam yang sedari tadi mengalunkan musik di rumah Kyuhyun, berganti lagu. Kyuhyun yang mendengar lagu berganti tiba-tiba menjadi sangat bersemangat. Kali ini ia menatap Sooyoung dengan gembira dan berkata, “Sooyoung-ah! Dengarkan lagu ini!” Dan Sooyoung yang sedang bersiap untuk menulis, berhenti beberapa saat untuk mendengarkan lagu yang dimaksud dengan seksama.

Eomma sering sekali memutar lagu ini saat aku sedang sakit, atau saat Appa pergi jauh untuk waktu yang lama. Lagu ini judulnya Yesterday Once More, Eomma berkata ada sekumpulan orang yang sangat pandai bernyanyi dan membuat lagu ini, mereka adalah The Carpenters,” ujar Kyuhyun, “dengarkanlah, aku sangat menyukai lagu ini, Sooyoung-ah,” tambahnya. Dan keduanya larut dalam keindahan lagu yang mengalun di telinga mereka. Sambil sesekali Kyuhyun bernyanyi pelan mengikuti lirik lagu tersebut.

***

Juni, 2017

Sooyoung tersenyum kecil kala mengingat saat itu. Sekumpulan surat yang mencantumkan nama sang sahabat kecil itu ia rapihkan kembali dan meletakkannya pada tempatnya. Kemudian ia terdiam, seperti sedang memikirkan suatu hal. Dengan sedikit keraguan diambilnya smarthphone miliknya dan membuka layanan pesan singkat. Ada sebuah pesan dari nomor yang tak dikenalnya, sehari yang lalu. Ia buka pesan itu dan benar dugaannya.

Setelah mengalami perdebatan kecil dengan dirinya sendiri, ia kuatkan tekad untuk mengirim pesan pada nomor tersebut. Beberapa menit dilaluinya dengan jantung berdebar saat kemudian sebuah bunyi notifikasi terdengar. Sooyoung melirik pada layar smartphone-nya dan tersenyum saat membaca balasan dari pesannya.

—–

THIRD PIECE: HEMLOCK DONE

—–

Author’s Note

Selamat menjelang tengah malam, para penggemar cerita fiksi yang hidup nokturnal. Saya minta maaf terlebih dahulu sebelumnya karena baru bisa mem-publish kelanjutan cerita Pastel Pistol ini sekarang, sejak hampir dua minggu yang lalu saya *cough* sakit *cough* karena cuacanya pun mendukung dan saya yang terlalu fanatik tidur setelah dini hari haha. Dan, saya ingin meminta maaf lagi karena part yang kemarin, alias part 2, alias Blue Curacao ternyata pendek sekali *90 degrees bow*, really I am so sorry. It was my mistake. I did check thru the story for like almost ten times but one thing I missed was jumlah words dalam satu part itu yang ternyata hanya sekitar 3000 minus sedikit, dan waktu itu saya berpikir kalau 3000 minus sedikit itu adalah 4000 minus sedikit, jadi I thought it was enough. Dan baru saya cek lagi setelah publish, ternyata… I was gonna edit the story but I thought, okay lah for this one chapter I’m gonna make it short and I’m gonna atone for it in the next chapter. So yeah, if you find the big difference of the total words between this and the previous chapter, I am so sorry again. 

Amteun, enjoy! Thank you very much 🙂

Soshinism’s out.

Advertisements

11 thoughts on “Pastel Pistol: Hemlock”

  1. Keluarga sooyoung sama keluarga kyuhyun punya masa lalu yg suram ya?
    Ceritanya bagus, author-nim..
    Udah kayak baca novel..
    Maaf juga baru komen di part ini karena bacanya sekaligus,
    *bow deeply*
    Semangat, author-nim..

  2. Semakin penasaran dgn masa lalu kyuyoung next di tnggu chigu jgn lama2 ne aku pertama bca ff ini di ksi eh pas cri ternyata nemu wp pribadi chigu makany part ini langsung bca di sini dan coment di sini

  3. Masa lalu biarlah masalalu. Jangan kau ungkit jangan hiraukan akuuu. Wkwkkwkwkw
    aduh soo. Jangan terjebak diruang masa lalu lh. Ayo terima kyu. Wong lagu kesukaannya . Kan saran nya kyuhyun hehehhe
    huahhh suka sm ff ini. Moga moga kyu. Bisa megetahui apa yang terjadi slama ini yah
    Ini pwanjang kok ffnya. 😁😁😁😝

  4. kaga bisa coment min!!!! feel’a dpet bnget, apalagi yng pas moment kyuyoung masa kecil’a…… Btw adaa apaa sma kluarga kyuyoung?? knpa dimasa lalu’a mereka seperti…. (?) ashhhh molla! poto’a d’lanjut min!!! kaga sabar pen baca next part’a 🙂

  5. Jalan ceritany makin kece aj..
    hnn ak prnasaraan hal ap yg mbuat ayah kyu harus berbohong soal masa lalu trus ap pnyebab beliau msk penjara ?

    Next part dtunggu bgt

  6. ah knp part ini juga blm kasih tau sih thor apa yg sbnrnya terjadi, ud penasaran bgt nih 😂 can’t hold my curiosity any longer XDXD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s