Elixir: No. 1

 

elixir

A story by Soshinism

—–

Rating: PG 15

Genre: Romance, Action

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. And I don’t know who else, you’ll find it anyway.

—–

— “As the girl walks behind you with her longing heart, you bury her in the biggest flower bouquet she ever received.” -Elixir —

Kyuhyun memutar matanya malas ketika lagi-lagi yang dilihatnya pada televisi di hadapannya adalah berita yang sama. Perdana Menteri Hampir Terbunuh. Ibu jarinya terus menekan tombol-tombol pada remote control ketika sebuah berita menangkap perhatiannya –lega ketika setidaknya ada berita yang tidak membicarakan tentang perdana menteri negaranya yang hampir tertembak itu. Lelaki itu menyesap kopinya sambil tetap terfokus pada tayangan di depannya. Ia tersenyum kecil ketika membaca judul berita itu, Kantor Keamanan Nasional Kembali Terkena Serangan Hacker. Kyuhyun melirik jam pada dinding di sebelah kanannya, sembilan lewat tujuh menit. Ia menyesap kopi sekali lagi sebelum akhirnya keluar dari apartemennya.

Ia sampai di depan kantor kerjanya, sebuah kepolisian di tengah ibukota yang cukup besar, tapi tidak cukup nyaman –setidaknya begitu baginya. Ia langkahkan kakinya sedikit terlalu bersemangat sampai hanya membalas sapaan beberapa rekan kerjanya dengan, “Yes, yes, yes, good morning too,” tanpa ada niatan sedikit pun membalas tatapan mereka. Kyuhyun memasuki sebuah ruangan yang berada di tengah kantor itu tanpa mengetuk, sementara yang di dalam hanya mampu menghela napas sedikit kesal –meskipun ada pula bau kebanggaan karena tau siapa yang datang, “Ada apa kali ini, Kyuhyun?”

Kepala Polisi Lee yang baru saja mengangkat suara akhirnya memutar kursi untuk menatap Kyuhyun. Sejenak Kyuhyun diam dan mengernyit. Ia sempat membuka mulutnya tapi kemudian tertutup lagi. Kepala Polisi Lee hanya menaikkan satu alisnya seakan bertanya, “Ada apa sampai kau diam seperti itu?” tapi ia tidak bersuara.

“Sejak kapan kau jadi kurus seperti ini?” akhirnya lelaki yang lebih muda memecah keheningan –yang tidak awkward– di antara mereka. Hanya dibalas tawa renyah oleh sang kepala polisi.

Well, aku punya berita bagus untukmu, Sir,” tukas Kyuhyun cepat kemudian tersenyum cukup lebar hingga mampu menakuti sang kepala polisi.

“Kau tahu kan, soal hacker yang menyerang Kantor Keamanan Nasional beberapa hari yang lalu?” Kepala polisi mengangguk, meletakkan sebuah berkas yang sedari tadi berada di tangannya ke meja, kemudian beralih posisi –kepalanya bertumpu pada kedua tangannya yang disatukan, sementara Kyuhyun tetap berdiri jauh di depan mejanya.

“Ada apa dengannya?”

“Kupikir dia berhubungan dengan kasus penembakan perdana menteri kemarin.”

Sang kepala polisi terdiam, terhenyak. Kyuhyun mengerang kesal ketika tersadar sang kepala polisi itu hanya mampu menyatukan kedua alisnya, bibirnya sedikit melengkung ke bawah tanda ia tidak benar-benar mengikuti jalan cerita yang baru saja dikatakannya.

You know, Mr. Lee, I don’t think that she is just doing it for fun–“

Wait, hold up, Soldier. A she?”

Yes, a she, Sir, as expected. See, Sir, It was a DDoS attack and so I thought, this marvelous young woman is the one in charge as she and some of her friends meretas kantor keamanan dari sebuah tempat yang cukup jauh dari populasi kebanyakan ma–,” Kyuhyun tiba-tiba berhenti, bibirnya membentuk bulat sempurna, kedua matanya yang entah melihat ke mana membelalak seperti baru saja tersadar akan sesuatu. Ia menyatukan kedua telapak tangannya seperti hendak berdoa dan meletakkannya di depan bibirnya, “Oh, ooooohh.” Ia kemudian melonjak kegirangan dan merubah raut wajahnya menjadi seperti orang yang baru melamar seorang gadis dan diterima. Ia berlari ke arah kepala polisi, meletakkan kedua tangannya di bahu lelaki yang sudah mulai menua itu, dan berteriak kegirangan, “Aku tahu apa yang dilakukannya!  I didn’t know at first but now I know what she did! I know what she has done!”

Kepala polisi tiba-tiba berubah serius, “Kau tidak sedang berbicara tentang Summer Choi, kan?”

***

Beberapa hari sebelum peristiwa penembakan perdana menteri.

Di sebuah tempat lain, jauh di dalam sebuah kontainer yang ditanam di bawah tanah suatu kota di dekat Seoul, beberapa lelaki dan wanita sibuk dengan layar komputer besar dan keyboard canggih di hadapannya. Udara cukup pengap dan bau kopi, keripik kentang, serta snack lainnya membaur menjadi satu dalam ruangan itu. Yang merajai telinga orang-orang itu adalah suara yang tercipta dari hasil sentuhan antara jari jemari dan keyboard dengan cepat, sesekali ada juga suara tetesan air bocor dari langit-langit kontainer dan menghujam genangan di bawahnya.

“Yo, Summer, kau kalah telak,” seorang lelaki yang tidak terlalu tinggi dan cukup kurus berkata, raut wajahnya memendam kegelian dan ia berusaha keras untuk tak tertawa melihat teman wanitanya sibuk dengan jemarinya dan layar komputer di hadapannya dengan ekspresi yang tak mampu ia baca.

I have not.”

“Hah? Apa yang belum?” lelaki itu kembali berdiri di samping teman wanitanya, perlahan membungkuk dan melihat layar. Kemudian senyumnya mengembang dan tertawa cukup keras. Sementara teman wanitanya hanya tersenyum puas.

Who is this Kyuhyun guy actually?”

Sang wanita membenarkan letak kacamatanya dan mulai berujar, “Pensiunan dini polisi militer, diberikan dividen perdamaian oleh mayor-mayor dan jenderal-jenderal di atasnya. Tidak punya rumah tetap, hampir selalu berkelana, kecuali saat ini, karena kepolisian kita butuh dia. Pria yang pintar, instingnya luar biasa.”

This Kyuhyun guy, pastikan dia merasakan peluru menembus dadanya, meledak, dan jantungnya terkoyak-koyak,” kata wanita berkacamata itu lagi, masih menahan senyumnya.

“Oh ya, jangan lupa si kepala polisi,” tambahnya lagi ketika teman prianya sudah sejengkal dari pintu.

***

“Summer Choi sudah mati,” kepala polisi berkata dan melempar berkas pada Kyuhyun.

“Tau dari mana?” Kyuhyun membalas.

“Teknisi dari pihak Keamanan Nasional berhasil mendapatkan jejak hacker itu –meskipun sudah telat.”

Kyuhyun mengernyit ketika memfokuskan matanya pada berkas itu. Berkali-kali melihat pada sang kepala polisi dan kembali ke berkas. Kemudian ditutupnya map berwarna biru tua itu dan mengangkat suara, “Choi Sooyoung is her real name?”

Kepala polisi mengangguk, “Ya. Lahir di Portland, Oregon, Amerika Serikat. Summer Choi adalah namanya ketika di sana.”

Kyuhyun memundurkan kepalanya seakan-akan hampir terkena tamparan, wajahnya sungguh dipenuhi rasa bingung, “Summer Choi as in the secretary of the prime minister?”

Sang kepala polisi kembali mengangguk tidak benar-benar tahu apa yang harus dilakukan sampai akhirnya menjelaskan bagaimana seorang sekretaris perdana menteri mati terbunuh oleh komplotan hacker itu.

She is, as you have read on the file, dia tidak hanya seorang sekretaris. Dia seorang hacker and had been hiding her identity ‘til some nights ago. Tampaknya Nona Choi juga berhasil menembus jaringan Keamanan Nasional, and unfortunately, she found something.”

 “Unfortunately? Why unfortunately?

That’s what made her killed, Kyuhyun.”

“Apa yang dia temukan sampai terbunuh?”

“Biar aku jelaskan padamu. Duduk dulu, dari tadi kau hanya berdiri di situ,” ujar kepala polisi dan akhirnya Kyuhyun menyelaraskan pantatnya dengan kursi hitam yang lumayan empuk.

You see, she was actually the one who hacked Keamanan Nasional, dia menemukan ratusan nama akun orang-orang berkuasa di negeri ini. Isinya luar biasa. Money traffic. Miliaran. Triliunan. Kau tidak akan percaya, Kyuhyun,” sang kepala polisi akhirnya berdiri sambil memegang tepi meja, kakinya tidak cukup sehat, kemudian berjalan ke jendela yang mengelilingi ruangannya, dan menarik blinds hijau jorok keabu-abuan hingga tertutup rapat.

Those hackers, katanya menyebut dirinya ChoiSociety, menyerang Nona Choi dan meninggalkan pesan, ‘Turn against your Master.’, tapi dia tidak menggubris. Jadi, kata teknisi itu, perdana menteri bu–“

“Bukan target sebenarnya. Summer Choi is the actual target. And they succeed.

“Kemudian ChoiSociety berhasil meretas Keamanan Nasional hanya dua hari setelah menyerangnya.”

Kyuhyun tertawa kecil dan menatap langit-langit, “Ah… This is getting more and more interesting than what I thought,” ujarnya lagi.

***

Annyeong. Aku tidak akan basa-basi. Ada perlu penting, kau bisa bantu?” Kyuhyun mengangguk-angguk dan melanjutkan pembicaraannya dengan seseorang di seberang ponsel. Satu-dua kali alisnya mengerut seakan membayangkan sesuatu tepat di hadapannya.

Yes, thank you so much, Siwon, I’ll see you soon,” Kyuhyun menutup panggilannya dan memasukkan ponsel canggihnya ke dalam saku celana, mulai berjalan cepat tak memperhatikan jalan ketika tiba-tiba tubuhnya terasa menabrak seseorang.

 “Ouch!” Seorang wanita jatuh terduduk di depannya.

Agasshi, lain kali hati-hati kalau sedang berja–“

Ketika wanita itu mendongak, Kyuhyun membeku. Membeku oleh pandangan mata wanita itu yang seakan membiusnya untuk freeze on the spot saat itu juga. Dan bahkan Kyuhyun tak mengerti mengapa dirinya bisa seperti itu. Setelah kesadaran menampar pipinya secara virtual, lelaki itu melanjutkan perjalanan.

Kyuhyun kembali ke apartemennya malam hari setelah seharian di kantor polisi mengintrogasi beberapa drug dealer kelas bawah –benar-benar bawah, kau tahu, dengan kualitas obat-obatan yang dijual setara dengan produk palsu buatan negeri bambu, strategi underground yang payah, dan kemampuan fisik untuk menghindar dari predator yang sangat konyol. Kyuhyun menepuk-nepuk pelan bahunya untuk membersihkan debu. Digantungkannya jas hitam di dekat pintu masuk, kemudian langsung menuju ke depan televisinya. Dan diam.

Kesunyian yang sangat ia puja menghampirinya atas perintahnya. Jarum jam detik mungkin menjadi satu-satunya sumber suara yang tidak diprotesnya saat ini. Kyuhyun mengedip sekali, setelah melamun beberapa saat. Neuron di otaknya menyambung satu sama lain dan ia mulai mengeluarkan suara.

“Orang-orang ini, tsk, mengerti negara saja tidak, tapi sok berlaga seperti pahlawan, mau membersihkan penguasa-penguasa kotor, para pemain Tuhan, mana mungkin? Tsk. Bodoh. You just don’t know that our government consist of that kind of people, do ya’? Berhentilah. Sebelum tidak berhasil dan kau-kau jadi dead meat di penjara,” Kyuhyun berkata, entah pada siapa. Udara di ruangannya terasa mendingin. Tubuhnya kaku. Matanya memandang lurus ke depan. Lalu televisi di hadapannya menyala tiba-tiba, tanpa perintahnya.

Sebuah suara melengking –kebetulan dia membenci sekali tipe suara yang seperti ini– keluar dari televisi itu. Bunyinya, “Welcome to ChoiSociety, ChoiSociety. Welcome to ChoiSociety, ChoiSociety. Where everything is in Red. Where everything is in Red.

Kyuhyun tetap memandang lurus. Awalnya ia hanya diam, terlanjur malas mendengarkan suara itu, namun tiba-tiba layar di televisi menampakkan animasi yang pixelated dan menunjukkan temannya, sang kepala polisi. Naked. Buah pelir dipotong begitu saja menggunakan pisau dapur. Kemudian ditembak dengan sebuah pistol glock, lima belas kali. Layar berubah menjadi merah seluruhnya, dan suara kembali terdengar, ”Welcome to ChoiSociety, Cho Kyuhyun.”

Benar-benar ia tahu hal seperti ini akan terjadi, namun tidak se-ekstrim ini. Kyuhyun berdiri dari duduknya, lalu mencabut kabel televisi dengan santai, dan menggumam pada dirinya sendiri, “You guys aren’t just some elite hackers, are you?”

Ia baru saja hendak berganti pakaian dalam seluruh ketenangan pada dirinya, sebelum dirasanya sebuah peluru menembus dadanya, dan meledak. Jantungnya benar-benar terasa terkoyak, serta kesakitan yang luar biasa sampai Kyuhyun tertawa sarkastik. Gema tembakan masih terngiang di telinganya.

Holy shit, you idiots,” katanya. Tangannya berusaha meraih ponsel di saku celananya, tapi dihentikan oleh sebuah kaki.

You really are not giving me any chance, huh?” tambahnya lagi dan kembali tertawa, kali ini dengan tersengal-sengal. Dan pelan-pelan cahaya memudar, seolah musim panas telah berganti menjadi musim dingin, orange juice menjadi kopi, sinonim antonim. Kyuhyun hanya merasa kedua kakinya ditali, lalu tubuhnya ditarik ke atas, terbalik.

Hal terakhir yang didengarnya hanya, “Selamat datang di ChoiSociety.”

Kemudian semua hilang.

***

Secercah cahaya matahari terik memaksa menerobos jendela pada sebuah ruang kecil dan pengap. Di ruangan itu hanya ada sebuah ranjang yang hanya muat untuk satu manusia, meja kayu yang terlihat baru setelah dicat ulang, lemari tinggi yang hampir-hampir menyentuh langit-langit ruangan, dan seorang manusia di atas ranjang. Lelaki, seorang lelaki. Perlahan kedua matanya mengerjap-erjap untuk menyesuaikan pada cahaya. Ditambah suara beberapa furnitur di lain ruangan yang bergerak cukup mengganggunya.

Sang lelaki berdiri dan membuka pintu hanya untuk dikejutkan dengan adanya sesosok manusia lain yang juga berada di ambang pintu. Awalnya ia ragu, namun kemudian matanya membelalak saat menyadari wanita yang berdiri beberapa sentimeter di hadapannya itu adalah wanita yang ditabraknya tadi di jalan. Dengan gerakan yang tersendat, telunjuknya mulai mengudara dan mengarah pada wanita itu.

N-nu-nuguseyo?” tanyanya dan berjalan mundur dengan langkah kecil.

“Jika kau sudah bangun, let’s go to the business, Kyuhyun-ssi,” balas sang wanita. Kyuhyun memiringkan kepalanya dan menaikkan satu alisnya, belum pernah ia merasakan yang seperti ini sebelumnya pada seorang wanita. Jika bertemu seorang asing begini, biasanya tubuhnya akan langsung dalam keadaan siap tempur dan berbagai macam pertanyaan ia keluarkan untuk mencecar orang asing tersebut. Namun, tidak kali ini, tidak pada wanita itu.

Dan sang wanita menyadari sikap Kyuhyun, diulurkannya tangan kanannya yang bahkan hanya sebuah tangan namun terlihat sangat menawan di mata Kyuhyun, kemudian berujar, “Summer Choi imnida,” dan sukses! Perkenalannya yang begitu sederhana itu sukses membuat Kyuhyun kembali terperanjat dan speechless. Lelaki itu masih terlihat tidak percaya dan hanya terdiam. Sang wanita, yang mengaku sebagai Summer Choi itu akhirnya membalikkan badan, berjalan ke dekat jendela yang hampir penuh debu dan menatap ke luar beberapa saat.

Naega Summer Choi. Or should I say, Choi Sooyoung? Seorang wanita lugu yang terjebak dalam dunia peretas bawah tanah Korea Selatan. Lahir pada tanggal 10 Februari, dua puluh tujuh tahun yang lalu, right? Lahir di Portland, Oregon, di sebuah negara adidaya yang mungkin menurut sebagian orang negeri ini, terdengar keren. Keluarganya sudah habis, tinggal seorang kakak lelaki yang tinggal di Jerman,” ia berhenti sebentar, tetap tidak mengalihkan pandangan dari jendela dan tetap memunggungi Kyuhyun.

Setelah mengatur napas, kembali ia lanjutkan, “Orang-orang bawah tanah jenderal-jenderal atasanmu itu tahunya Summer Choi Sang Sekretaris Perdana Menteri Korea Selatan, yang mati karena membocorkan sebuah rahasia besar milik negara. Ugh, if I think about it again, beruntung wartawan-wartawan maniak itu tidak mengetahui jika aku juga seorang hacker. If they knew about it, I’m done,” ia berhenti lagi. Kali ini membalikkan badan menghadap Kyuhyun, dan tersenyum padanya seakan bertanya, “apakah masih kurang bukti jika aku memang Choi Sooyoung?”

Kyuhyun memutar matanya malas, ia paling tidak suka seseorang melakukan kontak langsung seperti ini, apalagi menyangkut sebuah kasus yang sedang ditanganinya, kecuali jika benar-benar penting dan harus bertemu tatap mata dengannya. Sebenarnya rasa penasarannya yang terbesar tertuju pada satu, yaitu bagaimana dirinya yang ia pikir sudah mati, masih ada di tempat itu sekarang, bersama seorang wanita, yang mengaku dirinya adalah Choi Sooyoung. Dan rasa penasaran pada beberapa hal lain yang entah mengapa sulit baginya untuk ia keluarkan.

Wait, how am I still here? Kupikir seseorang dari komplotan hacker itu telah menghabisiku. Bagaimana aku masih hidup?” ujarnya. Sooyoung tertawa pelan, dan membalas dengan ekspresi wajah yang sangat penuh kemenangan, “setelah kau setuju untuk bekerjasama denganku, akan kukatakan padamu sejelas-jelasnya bagaimana kau masih bisa hidup.”

“Kerjasama apa yang kau tawarkan?” Kyuhyun menumbukkan pandangannya pada satu-satunya manusia lain di ruangan itu. Angin masuk melalui jendela yang terbuka dan tirai penutup melambai-lambai anggun, seanggun pembawaan Sooyoung sejak tadi.

“Bantu aku membersihkan nama Summer Choi dan–,”

“Tsk,” Kyuhyun mendecih remeh pada Sooyoung dan memutar matanya malas, lagi. “Dan mwoya?” lanjutnya.

“Dan bantu aku menyapu habis ChoiSociety,” kali ini Kyuhyun menampakkan ekspresinya –terperanjat. Kepalanya menoleh cepat ke arah Sooyoung, sementara beberapa helai rambut wanita itu terbang pelan terkena angin yang berkunjung.

Kyuhyun menelan ludah, pandangannya tidak berubah dari lawan bicaranya yang jujur saja, mampu menghipnotis dirinya dengan wajahnya yang menawan. Sesaat kemudian ia kembali mampu menguasai dirinya, “Mengapa kau mau menghabisi ChoiSociety?”

Sooyoung memutar matanya malas, segala keseriusan dan keformalan pada dirinya tiba-tiba menghilang, badannya ia bungkukkan dan mengeram kesal, kemudian menegakkannya lagi, “Ugh, Cho Kyuhyun! Come on, just say yes!” ucapnya.

Lelaki itu kemudian duduk di pinggir ranjang, memangku dagu dengan memposisikan kedua siku lengannya di paha, dan menatap intens pada wanita itu, “Beritahu alasanmu, dan aku akan percaya kalau kau adalah benar Summer Choi,” ucapnya. Sooyoung menyerah, pasrah. Untuk saat ini, ucapan persetujuan dari Kyuhyun lebih penting ketimbang egonya untuk mengerjai lelaki itu. Ditariknya kursi kayu yang menjadi pasangan meja di ruangan itu dan mendudukinya. Kakinya yang panjang ia silangkan dan matanya membalas tatapan Kyuhyun padanya.

“Kau benar. ChoiSociety bukan hanya sekadar kumpulan hackers elit. Mereka tidak hanya meretas berbagai sistem di dunia, tidak hanya memenjarakan pejabat-pejabat itu, they also kill people. Sometimes the innocent ones.”

They also kill innocent people?” tanya Kyuhyun sambil membetulkan letak duduknya. Ia turun ke lantai dan secara tak sadar Sooyoung mengikutinya untuk duduk di lantai.

Wanita itu hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan yang dilontarkan lawan bicaranya, kemudian melanjutkan, “Awalnya memang mereka hanya memenjarakan atau membunuh pejabat-pejabat kotor itu, para koruptor, dan segala kaki tangannya yang membuat jijik negara ini. Namun, mereka berubah. They became greedy of people’s lives. You know, ada sebuah rasa bangga yang didapatkan ketika kau berhasil memenjarakan seseorang yang memang pantas untuk dibui, ada juga rasa lega yang datang ketika mereka yang pantas mati itu berhasil dibunuh. But they became greedy. Tanpa melakukan investigasi mendalam, mereka asal menghabisi nyawa orang-orang yang sebetulnya tidak terlalu pantas untuk dipenjara, atau dibunuh. Satu kesalahan yang menurut mereka melanggar norma, and they are going to chase those people, bahkan sampai ke ujung dunia. Mereka merasa superior dengan kemampuan yang dimiliki –hacking, pengancaman, sampai pembunuhan. Dengan itu mereka menyalahgunakannya, dan yeah, this is it now.”

So you are saying that, kejadian menghebohkan kemarin itu karena kau tidak lagi sejalan dengan mereka, kau berubah haluan, dan mereka menganggapmu berkhianat?”

Wanita itu mengangguk pelan tanda setuju pada Kyuhyun.

“Dan penembakan perdana menteri kemarin itu hanya untuk mengelabui media dan masyrakat awam agar tidak mengetahui fakta jika kau lah yang diburu, right?”

Sooyoung mengangguk lagi, menyetujui deduksi mengangumkan yang diajukan lelaki itu. Sementara Kyuhyun nampak memejamkan matanya beberapa saat, berpikir. Tiba-tiba kepalanya mendangak cepat dan mengejutkan Sooyoung. Kedua tangannya ia tangkupkan, sesuatu yang khas ketika Kyuhyun menyadari akan suatu hal, “Hokshi… ChoiSociety tidak mengetahui jika kau masih hidup sampai sekarang?”

Correct. Mereka tahunya aku sudah hilang dari peradaban ini, without a single trace. They don’t know where I am, where I was buried. Dan aku harus berperan sebagai seorang yang sudah mati, demi kerjasama yang kutawarkan. Ini adalah sebuah keberuntungan, Kyuhyun-ssi. Akan lebih mudah bagiku untuk mencapai tujuan ketika mereka percaya jika aku sudah mati,” ujar Sooyoung. Ia berdiri cepat, membersihkan celananya di bagian pantat dari debu yang menempel, kemudian mengulurkan tangannya lagi pada Kyuhyun.

Deal?” tanyanya. Kyuhyun mendongak, yang dilihatnya dengan jelas hanya tangan dan wajah wanita itu ditambah background langit-langit warna abu terang berbintik gelap. Diterimanya tangan Sooyoung dan mengikuti wanita itu berdiri. “Deal,” ujarnya kemudian tersenyum tipis.

Wanita itu balas tersenyum. Hampir saja ia balikkan badan dan meninggalkan Kyuhyun sambil bergumam pada dirinya sendiri, tapi masih mampu Kyuhyun dengar, “Let’s go to business then!”, sebelum sebuah tangan menahannya. Sooyoung melirik pada pergelangan tangannya yang dicengkeram Kyuhyun cukup kuat, dan mendengar lelaki itu berkata, “kau sudah bejanji akan menceritakan padaku bagaimana aku masih bisa hidup jika aku menyetujui tawaranmu.”

***

Kyuhyun berjalan pelan di bawah guyuran hujan. Coat yang diberikan Sooyoung untuknya sebelum berpisah mulai tak kuasa menahan rintik air yang berkali-kali menghujamnya. Salah satu saku pakaiannya terasa bergetar ketika sebuah notifikasi masuk di smarthphone-nya. Kyuhyun meraih benda cukup berharga tersebut sambil berlari kecil ke depan sebuah toko mini yang sudah tutup di malam tersebut.

Ne, Choi Siwon, how’s the investigation?” ujarnya setelah mengangkat panggilan tersebut.

Kyuhyun menganggukkan kepala beberapa kali sebagai respon pada apa yang lawan bicaranya katakan, sambil memandang apa yang bisa dipandangnya di suasana yang tak cukup cahaya itu.

Thank you so much, brother. I’m still gonna bother you for the next few weeks if it’s alright.”

Ada sebuah perasaan yang dirinya tak mampu gambarkan dan bayangkan ketika panggilan terputus. Angin bertiup menghempas wajahnya dan Kyuhyun menatap lurus pada pedestrian di depannya. Pikirannya melayang pada sebuah hal dan tepat di tikungan jalan, ia tertawa sarkastik.

***

Uap panas mengebul-ebul dari cangkir kopi kecil di meja sang kepala polisi. Kantor polisi dengan bangunan tua itu perlahan mulai kehilangan nyawa, hanya tertinggal beberapa polisi yang kedapatan jam jaga malam dan sang kepala polisi sendiri. Cahaya remang-remang masuk ke ruangan sang kepala lewat ventilasi-ventilasi kecil di atas pintu dan bertambah ketika pintu itu terbuka. Menampakkan sosok Kyuhyun yang terlihat cukup basah dan berantakan.

“Summer Choi masih hidup,” tanpa basa-basi kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Kyuhyun yang sedikit pucat.

Kepala polisi berdiri dari duduknya. Matanya membelalak penuh rasa tidak percaya. Beberapa saat berlalu dalam keheningan dan ia putuskan untuk menyeruput kopinya, dan sedetik kemudian merutuki dirinya sendiri karena melupakan fakta bahwa kopi itu masih bertemperatur panas. Sementara si lelaki muda satunya tetap diam, wajahnya datar tanpa ekspresi, kedua tangannya mengatup dan terletak di depan tubuhnya. Si pria tua itu akhirnya kembali pada kesadarannya. Kulit-kulit di dahinya merapat membentuk sebuah lekukan-lekukan kecil, ia menatap Kyuhyun, “So you are not saying a lie? She is still alive?” dan yang diajak bicara mengangguk mantap.

And how do I know you are not lying?” ujarnya lagi. Kyuhyun memutar mata malas, sebuah geraman kecil terdengar, tangannya yang semula di dalam saku celananya saat ini sudah keluar.

Well, jika kau berlaku seperti itu aku tidak bisa percaya pada uca–,”

I met her.”

Cahaya dari lampu utama di ruangan itu mengenai dahi sang kepala polisi dan cukup membuat silau karena banyaknya minyak yang ada di bagian tubuhnya itu. Perut buncitnya berhenti memantul seperti bola voli seiring dengan tubuhnya yang benar-benar terdiam.

“Dan bagaimana bisa kau bertemu dengannya, Cho?”

—–

End of Elixir: No.1

—–

Author’s Note

Halo! Tidakkah rasanya agak sedikit awkward jika kalian harus membaca Author’s Note ini lagi dalam cerita yang beda namun hari yang sama? LOL yea, saya pun merasa awkward saat menulisnya. Okay, I’m not gonna waste your time reading my blabbering here, and just go to the point.

So this is a story about a man and a woman, yang sebenarnya pernah bertemu dalam suatu kesempatan, namun salah satu di antaranya doesn’t remember anything. And yea, clearly it’s casts are our lovely Mr. Cho and Mrs. Choi. Sebenarnya ide cerita ini dan beberapa paragraf pertama cerita ini sudah saya tulis sejak saya masih di… high schoolYes, and I’m not even lying. Hanya saja… ada satu dua alasan mengapa saya tidak pernah memikirkan untuk posting cerita ini secepatnya. Salah satunya adalah, karena cerita ini sejatinya saya buat hanya sepanjang seribu dua ratus kata. Hehe. Dan cerita ini sangat terinspirasi dari TV Series milik Amerika dengan judul Mr. Robot. Anyone knows or maybe even watch it?

Honestly I don’t know if this story is gonna be a series or just two to three chapters, karena saya tidak terlalu prepare untuk cerita ini. Don’t get your hopes too high! I might make the ending not the way you want it to be hehehe.

Thanks for reading!

Soshinism’s out.

Advertisements

10 thoughts on “Elixir: No. 1”

  1. Awalny kagak ngerti jalan ceritany, tp lama” ngerti. Menarik banget, suka gayany yg d tambahin english. D tunggu next chatper

  2. sama kyk komen pembaca lainnya, lil bit confuse with the beginning of this story 😁
    suka sama cara penulisan cerita2 author 🙂
    ditunggu keterlanjutannya!

  3. Here we comeee 😀 Dah lamaaa banget ga baca dan ngomentarin FF KY pair.
    Genre gini cocoknya ga terlalu panjang serinya, soalnya dikit aja udah bikin greget dan penasaran 🙂 apalagi kalo updetnya sering hahaha

    Dan aku mempertaruhkan perasaan dan ekspektasi aku soal alur dan endingnya, ga happy ending ga papa kayaknya asal great ending yang masuk akal :v klo cocoknya happy ending dengan great alur apalagi itumah bonus bangeet XD

    Kyuhyun bukan robot kan? atau semacam mutan bikinan manusia :v aku ga relaaaaa Kyu ga menghirup O2 kayak kita #abaikan
    Pencampuran antara kalimat/paragraf asing sama indonya masih ricuh klo menurut aku *mian baiknya klo mau asing sekalian dalam 1 kalimat/paragraf, misalnya ini

    “You see, she was actually the one who hacked Keamanan Nasional, dia menemukan ratusan nama akun orang-orang berkuasa di negeri ini. Isinya luar biasa. Money traffic. Miliaran. Triliunan. Kau tidak akan percaya, Kyuhyun,”
    ^^
    Overall, ditunggu kelanjutannya, hwaiting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s