Pastel Pistol: Honeysuckle

pastelpistol

A comeback story by Soshinism

—–

Rating: PG 15

Genre: Romance, Psychological

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Shim Changmin.

—–

— I present to you the best from me—

Kyuhyun telah kembali ke kantor setelah beberapa hari tidak menunjukkan batang hidungnya. Jemarinya yang panjang sibuk ia gunakan untuk menandatangani macam-macam berkas yang menjadi tanggungjawabnya. Di tengah kesibukan dan konsentrasinya itu, sekretarisnya masuk ke ruangannya dan memberitahu jadwal-jadwal yang harus dilaluinya hari itu. Cukup padat, namun bersyukur hanya beberapa meeting lokal dan tidak mengharuskannya pergi ke luar negeri. Changmin kembali menghilang, Kyuhyun menyalakan smartphone miliknya dan menunggu, jarum jam mencapai angka tujuh ketika smartphone Kyuhyun berdenting, tanda sebuah notifikasi masuk. Diliriknya layar gadget tersebut dan matanya membelalak terkejut. Saat itu juga seluruh kesibukannya ia hentikan, hanya untuk memandang sebuah pesan yang baru saja masuk dan membacanya. Perlahan senyumnya merekah dengan lembut.

From    : Choi Sooyoung

To        : Cho Kyuhyun

Malam ini bisa bertemu?

Kembali ia tarik salah satu ujung bibirnya, bersamaan dengan beberapa rasa yang tak mampu didefinisikannya memenuhi dadanya. Sedetik kemudian ia tersadar dan melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit, dan langit sudah berubah biru menghitam. Secepat kilat ia balas pesan itu.

From    : Cho Kyuhyun

To        : Choi Sooyoung

Eodiga? Aku akan segera menujumu.

Tepat saat Kyuhyun meraih mantelnya yang terselampir pada kursi, sebuah panggilan masuk. Cepat-cepat ia angkat panggilan itu dan senyum kebahagiaannya terpancar lagi.

Eodiga, Sooyoung-ah?” Kyuhyun memasang raut wajah terkejut ketika suara di seberang itu menjawab pertanyaannya.

Ne. Jangan bergerak, aku menujumu,” ujarnya lagi kemudian berlari cukup cepat hingga beberapa pegawai kantornya menatapnya aneh.

Ia berhenti ketika matanya melihat sekilas sebuah figur wanita yang sangat familiar untuknya. Kedua matanya tertumbuk pada tampak belakang wanita itu ketika kemudian sang wanita membalikkan badan dan menyadari keberadaan Kyuhyun. Wanita itu tersenyum, sekali lagi mampu membuat Kyuhyun terjebak pada dunia penghambaannya pada senyuman khas sang wanita.

Mian…,” ujar wanita itu.

Kyuhyun sempat terdiam sebentar, kemudian saat kesadarannya kembali dengan ditandai beberapa kali kerjapan kelopak mata, ia membalas, “Mian untuk apa, Sooyoung-ah?”

Sementara wanita itu terlihat agak sedikit canggung, “Kau sepertinya sedang sibuk… dan aku mengganggu waktu kerjamu,” mendengar kalimat yang diucapkan Sooyoung itu, Kyuhyun tertawa kecil sambil menggeleng beberapa kali, “anniya, kau sama sekali tidak mengangguku,” balasnya kemudian Sooyoung kembali tersenyum padanya.

Kajja,” Kyuhyun katakan itu sambil menarik pergelangan tangan Sooyoung dengan tangannya yang masih sehat.

Eodi?” tanya Sooyoung, sementara lelaki itu hanya membalasnya dengan senyum sambil terus berjalan.

Keduanya kemudian sampai pada sebuah kedai kecil di pinggir jalan dekat kantor Kyuhyun yang menjual berbagai macam udon. Beberapa saat berjalan dalam keadaan cukup awkward karena dua manusia itu saling berhadapan namun tak saling bercakap-cakap. Kyuhyun melihat raut wajah Sooyoung yang tiba-tiba berubah dan akhirnya memutuskan untuk memecah suasana.

Wae? Kenapa kau terlihat sangat senang?”

Sooyoung menggigit bibir bawahnya masih sambil tersenyum, kemudian membalas, “Aroma udon-nya begitu menggugah indera penciumanku,” melihat itu Kyuhyun hanya tertawa kecil.

“Ada apa mengajakku bertemu?” tanyanya lagi pada wanita di hadapannya itu. Sooyoung balas menatapnya dan dengan gerakan yang cukup pelan ia hampir membuka bibir, namun fokusnya terpecah ketika ahjumma pemilik kedai mengantarkan udon pesanan mereka.

Kyuhyun lagi-lagi tertawa kecil dan berujar, “Makanlah, makanlah lebih dulu,” ketika menyadari jika wanita teman kecilnya itu sedang benar-benar kelaparan. Dan sesaat setelah itu, keduanya terlarut pada udon dalam mangkuk besar di meja bulat itu. Waktu berjalan cukup cepat ketika keduanya menghabiskan santapan tersebut dengan ditemani suara dentingan sendok-sumpit dan mangkuk. Sooyoung menyeka area sekitar bibirnya ketika suapan terakhir telah masuk ke dalam perutnya.

“Bagaimana kabarmu, Kyuhyun?”

Kyuhyun yang mendengar pertanyaan itu nampak sedikit terkejut dan bingung, namun masih mampu mengontrol ekspresi wajahnya. “Seperti yang kau lihat, Sooyoung-ah. Bagaimana lagi? Haha,” balasnya sambil tertawa.

Sooyoung tersenyum kecil, menundukkan kepala beberapa saat, kemudian kembali mengeluarkan suaranya, “Anni… maksudku, pekerjaan apa yang sekarang kau tekuni, bagaimana kabar Abbeoji, dan hal-hal semacamnya.”

Ekspresi Kyuhyun sedikit berubah ketika wanita itu menanyakan kabar ayahnya, namun sedetik kemudian ia mampu mengontrol dirinya dan terpaksa tidak mengatakan yang sebenarnya. “Aah okay. Well, Appa’s doing really well, lebih banyak istirahat di tempatnya saat ini dan sedikit mengontrol jalannya perusahaannya dari sana, dan aku yang mengambil alih perusahaan tersebut. Meskipun aku tidak cukup sering menjenguknya, everything’s still good, Soo. Bagaimana denganmu? Apa kabar Eommoni dan Abbeoji?”

Saat pertanyaan terakhir yang dilontarkan Kyuhyun sampai di telinganya, wanita itu kembali menundukkan kepala. Kali ini senyumnya perlahan menghilang. Beberapa saat kemudian wanita itu bangkit lagi dan kedua ujung bibirnya terlihat sedikit ia paksakan untuk kembali tersenyum. “Eomma dan Abbeoji sudah di surga, Kyuhyun-ssi,” ujarnya. Kyuhyun terperanjat. Matanya melebar karena tak mampu menahan rasa terkejutnya, meskipun ia sudah membaca riwayat hidup keluarga Choi Sooyoung itu beberapa saat yang lalu dan sudah mendengar cerita dari Siwon, namun mendengar sahabat kecilnya itu menceritakannya sendiri dari bibirnya sungguh terasa berbeda.

A-anniya. E-eonjae?” tanyanya dengan sedikit tergagap.

Sooyoung menghirup napas panjang dan melepasnya perlahan, “Hmm… tiga tahun setelah kau pindah? Atau dua, ya? Ah molla, it’s between tiga dan dua tahun setelah itu, Eomma pergi,” ujarnya namun tidak menjawab soal ayahnya. Kalimat-kalimat yang dilontarkan wanita itu memang cukup menggugah rasa simpati, namun senyum tetap tak lepas dari wajahnya. Sementara Kyuhyun hanya mampu terperangah mendengar kisah hidup teman kecilnya dahulu yang ternyata tak semulus apa yang ia bayangkan.

Mianhae, Sooyoung-ah,” ujar Kyuhyun. Tak mempunyai keberanian untuk menatap wanita itu.

Sooyoung membalasnya dengan sebuah senyuman yang sepertinya hari ini tak pernah lepas dari bibirnya. Suasana kemudian berubah hening untuk waktu yang tak sebentar. Sambil menunduk wanita itu berkata pelan, tapi masih cukup mampu didengar oleh Kyuhyun, “Aku memiliki hyperventilation syndrome, Kyu.” Kyuhyun hanya diam dan menatap kedua mata seseorang yang ada di hadapannya itu dengan intens.

“Ah, jika kau tidak tahu, hyperventilation syndrome adalah sebuah sindroma yang terjadi karena se–,”

Arra, Sooyoung-ah. Arraseo,” Sooyoung sedikit terkejut namun dapat kembali tersadar beberapa detik kemudian saat ia teringat sesuatu. Ia tertawa kecil, “ah, mian. Aku lupa saat itu kau juga ada di sana,” merujuk pada sindromanya yang kambuh pada sebuah malam ia bertemu dengan Kyuhyun.

Hokshi… Kyuhyun-ssi,” Sooyoung terlihat menahan kata-kata yang akan dikeluarkannya, sedikit ragu dan tidak yakin apakah Kyuhyun akan menerimanya nanti.

Lelaki itu masih nampak tenang, tanpa terlihat memburu-buru Sooyoung ia tetap diam, dan menunggu wanita itu menyelesaikan kalimatnya sendiri. Sooyoung kembali terlihat ragu, tawa kecilnya muncul kembali untuk beberapa detik, kemudian ia menatap lelaki di hadapannya, tatapannya penuh keraguan.

Wae, Sooyoung-ah?” ujar Kyuhyun sambil tersenyum. Entah mengapa suara dan senyum lembut lelaki itu seketika mampu membuat Sooyoung tenang. Dengan tetap menumbukkan pandangannya pada kedua bola mata Kyuhyun, wanita itu akhirnya berujar, “maukah kau membantu dan menemaniku mengingat masa lalu yang hilang itu?”

Pelanggan terakhir selain Kyuhyun dan Sooyoung terlihat meninggalkan kedai tersebut saat Kyuhyun merasa ada sebuah palu yang menghujam dadanya dengan keras. Ia berhenti bernapas beberapa detik. Matanya sedikit melebar. Ia masih menatap Sooyoung. Tepat di matanya. Sampai ketika ia berkedip beberapa kali dan berdehem untuk melegakan tenggorokannya.

Anni, keunde… kau tahu ini tidak akan mudah kan, Soo?”

Wanita itu terdiam sesaat. “Kau tahu aku memiliki hyperventilation syndrome, ne, Kyuhyun-ssi? Dan sejak pertama aku kembali bertemu denganmu saat itu, bayangan-bayangan kejadian saat itu kembali datang padaku, siang, malam, dan bahkan dalam mimpiku. Dan seperti bertambah banyak yang datang ketika kau berada di dekatku, and I don’t know how is that even happeningBut, what I know for sure is that you are something that triggers for those memories to come back to me. Kau seperti sebuah alarm yang memberi perintah pada memori-memori itu untuk kembali berkumpul di otakku. I know, I know, ini mungkin terdengar tidak menyenangkan untukmu, tapi…,” Sooyoung berhenti untuk mengatur napas. Ia lihat Kyuhyun yang ekspresinya hampir tak terbaca – meski masih ada sedikit raut terkejut pada wajahnya– dan menghela napas pelan, “tapi kurasa dengan adanya dirimu itu akan membantuku untuk mengingatnya,” lanjutnya dan setelah itu ia benar-benar berhenti.

Satu nampan berisi dua mangkuk udon baru saja sampai di meja sebuah pasangan yang masuk ke dalam kedai saat Sooyoung telah selesai dari kesibukannya mengeluarkan isi pikirannya pada Kyuhyun. Sementara lelaki itu masih dalam kesunyiannya. Jarum jam menunjuk pada angka sembilan lewat dan angin berhembus pelan dari celah-celah tirai kedai yang tak permanen itu.

Kyuhyun mengatur napasnya beberapa kali sebelum akhirnya membuka suara, “Okay, ta–“

“Okay?!” belum selesai lelaki itu berkata, Sooyoung sudah memotongnya dan memasang sebuah senyuman terlebar yang pernah diberikannya selama beberapa kali keduanya bertemu.

“Tapi… Beri aku satu minggu untuk memikirkannya,” lanjut Kyuhyun dan otomatis membuat Sooyoung terkejut.

“Seminggu? Tidakkah itu terlalu lama, Kyu?”

“Okay, lima hari,” tanggap Kyuhyun cepat.

Anni, tiga.”

“Lima, Soo.”

“Satu hari kalau begitu, Cho.”

“Okay, tiga hari,” ujar Kyuhyun lagi tidak mau merugi. Dan keduanya terdiam dalam suasana yang cukup canggung karena pembicaraan berhenti di saat yang kurang tepat. Setidaknya begitu sampai Kyuhyun tersenyum sendiri tanpa ia sadari. Sooyoung yang melihat itu tak kuasa menahan rasa penasarannya, “kenapa terlihat senang sekali?” tanyanya.

Lelaki itu menggeleng pelan, masih sambil mempertahankan sudut bibirnya naik ke atas, “Anniya. Aku hanya senang melihatmu kembali tersenyum seperti tadi.”

Seketika sebuah aura malu keluar dari wajah Sooyoung. Senyumnya ia tahan agar tak terlihat begitu senang ketika mendengar ucapan Kyuhyun barusan padanya. Matanya ia alihkan pada beberapa hal lain dan tak mampu untuk kembali menatap lelaki itu.

“Jangan malu, Soo,” dan sialnya ia menyadarinya.

***

Ruang tunggu rumah sakit terlihat cukup padat dan sibuk ketika Sooyoung mendaratkan kakinya di situ. Ia bergegas menuju rumah sakit setelah panggilan mendadak dan darurat diterimanya ketika ia sedang bersama Kyuhyun. Dengan cukup berat hati, ia memohon ijin untuk mengurus kembali pekerjaannya pada lelaki itu dan cepat-cepat mengemudikan mobilnya ke rumah sakit. Ia posisikan stetoskop pada lehernya dan seorang perawat menghampirinya yang sudah siap melaksanakan tugas.

“Persiapan sudah selesai dan pasien sudah siap, Songsaengnim,” ujar sang perawat. Sooyoung mengangguk pelan kemudian berjalan cukup cepat menuju ruang operasi.

Ia pasang masker hijau pada bagian mulutnya, berjalan ke dekat wastafel, menekan keran air dengan siku kanannya, kemudian mencuci tangannya hingga bersih dan mengeringkannya dengan selembar tisu. Dua orang perawat membantunya memasang jubah operasi berwarna hijau tua pada tubuhnya dan mengenakan dua pasang sarung tangan berbahan latex pada kedua tangannya.

Sooyoung berdiri di sisi atas tubuh sang pasien. Ia lirik sebentar jam digital yang terpasang di dinding ruangan operasi itu sebelum memulai tugasnya –pukul dua belas kurang tujuh menit. Tangannya yang lentik cekatan memainkan alat-alat operasi tersebut di kepala sang pasien yang tergolek lemah. Ia buat sebuah lubang pada tengkorak pasien tersebut dan membuang penutup tulang yang terdapat di lubang tersebut. Dengan pelan namun pasti ia masukkan sebuah selang yang berujung kamera untuk melihat di mana letak pendarahan tersebut, kemudian memulai aksinya. Lelaki yang otaknya sedang dijadikan target oleh Sooyoung ini, mengalami pendarahan otak parah karena sebuah kecelakaan tunggal yang menyebabkan dirinya terpental jauh keluar dari kaca depan mobilnya dan mendarat dengan posisi kepala terlebih dulu pada jalan beton keras.

Menit demi menit berlalu hingga hari baru akhirnya tiba. Suasana cukup hening dan serius pada dini hari di ruang operasi tersebut menambah para dokter dan perawat yang sedang melaksanakan operasi makin fokus. Hanya ada background suara alat-alat operasi yang tercipta secara manual maupun otomatis. Sooyoung memang tidak seperti beberapa dokter bedah lain yang seringkali melakukan sebuah operasi dengan iringan musik, biasanya jenis klasik. Menurutnya itu tidak cocok untuknya, dan suara detak jantung pasiennya lebih menarik untuknya.

Operasi selesai ketika Sooyoung menutup kembali kepala lelaki itu. Ia membungkuk sedikit pada asisten dokter dan perawat yang membantunya dalam operasi berjam-jam tersebut. Kemudian sang pasien dan ruangan dibereskan dan Sooyoung kembali ke ruangannya. Ia letakkan pantatnya pada kursi, memasang earphone pada kedua telinganya dan memutar sebuah lagu kesukaannya. Perlahan ia mulai terbawa ke dalam tidur dengan posisi kepala menempel di meja kerjanya.

***

Pintu ruangan Sooyoung kembali terbuka dengan cukup keras dan menyebabkan suara dentuman dinding-pintu yang mampu membangunkan Sooyoung dari tidur lelapnya. Ia mendengar langkah kaki berjalan cepat memasuki ruangan itu, namun karena kelelahan yang menyergapnya, dirinya tidak peduli, bangkit dari tidur saja tidak.

Ireona, Choi Sooyoung!” teriak seseorang yang suaranya sangat wanita itu kenal. Tapi ia tidak luluh, kepalanya masih setia pada meja dan matanya masih tertutup rapat.

Lelaki yang memanggilnya itu terdengar mendekat ke samping tubuhnya dan meletakkan tangan di bahu Sooyoung, “Oi, kau benar-benar tidur? Dengan posisi seperti ini?” tanyanya dengan nada tak percaya. Ketika wanita yang diajaknya bicara itu tidak membalas –dan bergerak pun tidak–, ia tarik kursi tempat sang wanita itu duduk dan membalikkannya ke arah belakang. Sooyoung hampir saja jatuh mencium lantai jika lelaki itu tak menahan beban tubuhnya yang cukup ringan dengan cekatan.

“Yya! Choi Siwon!” teriak Sooyoung pada akhirnya ketika lelaki itu dengan sengaja membuatnya hampir terjerembap.

Suara tawa terkikik terdengar dari Siwon dan menambah kekesalan pada Sooyoung yang sedang berpindah ke sofa di depan meja kerjanya. Wanita itu awalnya hanya duduk dan menatap Siwon dengan mata yang masih sayu dan sedetik kemudian tubuhnya sudah dalam posisi tidur. Sementara Siwon yang melihat itu memutar matanya malas, ia menghela napas dan berkata, “Okay then if you want to sleep. Aku pamit dulu untuk ke rumah Eomma-Appa.”

Seketika itu juga Sooyoung bangkit dari posisi terakhirnya, terduduk dengan kedua mata membelalak menatap Siwon lekat. Wanita itu terus begitu sampai waktu yang agak lama, kemudian beberapa kali mengerjapkan matanya. “J-jeong-jeongmal?” tanyanya terpatah-patah pada Siwon. Dan lelaki yang ditanya hanya mengangguk dengan penuh keyakinan.

Well, jika kau memang tidak mau ikut, gwenchana. Aku ke sana sendiri. Kemudian makan tteokbokki buatan Eomma, main ke sekitar pantai, menunggu sunse–,”

“Okay! Okay! Aku ikut!” potong Sooyoung sebelum Siwon selesai bicara. Tangannya melambai-lambai dengan tempo cepat dan matanya terpejam beberapa kali sembari ia mengatakan hal yang baru saja keluar dari bibirnya. Siwon tersenyum –sedikit dengan sentuhan kejahilan– dan berjalan keluar sambil berkata, “kajja.” Keduanya kemudian beriringan menuju parkiran rumah sakit. Siwon membuka pintu mobil mewah miliknya saat sampai dan duduk di kursi kemudi, sementara Sooyoung mengikutinya dan duduk di sampingnya.

Bogoshippeo…,” bisik Sooyoung pelan entah pada siapa. Matanya tertuju pada pemandangan di luar kaca mobil. Siwon mendengar suara kecil itu meski sedikit tertutup musik yang sedang bermain dari player di dalam mobil. Lelaki itu tersenyum kecil, tangan kanannya yang bebas dari kemudi ia gunakan untuk mengacak rambut Sooyoung pelan dan sang wanita hanya balas menatapnya sebentar.

Setelah itu perjalanan berlangsung cukup lama. Sesekali keduanya membicarakan hal-hal penting, di lain menit juga membicarakan hal yang tidak terlalu penting. Sang surya hampir tenggelam dalam bentang langit yang mulai berubah menjadi jingga dari biru muda. Hampir empat jam dua bersaudara itu berada dalam mobil dan sekitar pukul dua belas siang keduanya sampai pada tempat tujuan.

Suara burung-burung camar mulai terdengar dekat di telinga, beriringan dengan simfoni ombak cukup besar yang menenangkan hati siapapun yang mendengarnya. Sooyoung keluar dari mobil dan menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Beberapa saat kemudian setelah menikmati suasana, ia arahkan pandangannya menghadap sebuah rumah minimalis yang berada di tepi pantai tersebut –dengan muka rumah menghadap jalan. Sebelum ia dapat memandangi rumah itu lebih dalam, Siwon sudah mendahuluinya masuk dan ia berlari kecil mengikuti lelaki itu.

Pintu terbuka oleh tangan besar Siwon dan menampakkan kesunyian. Lelaki itu menatap Sooyoung yang juga sama-sama tengah dalam ekspresi bingung. Ia berjalan masuk dan menengok beberapa ruangan yang mungkin orang tua mereka sedang berada di sana, namun kosong. Sooyoung pada akhirnya berjalan cepat ke arah belakang rumah. Dan di situlah mereka, dua orang yang dicarinya sejak tadi, sedang duduk-duduk menikmati secangkir teh hangat yang nampak masih mengepulkan uap panas. Wanita itu berlari dan memeluk kedua orang yang sudah cukup berumur tersebut dari belakang.

Eomma! Appa! Bogoshippeo!” ujarnya mampu membuat terkejut yang dipanggil Eomma dan Appa itu. Sang wanita yang lebih tua berdiri dengan kekuatan yang masih dimilikinya dan kembali memeluk Sooyoung.

Siwon beralih dari sandarannya pada pintu pembatas ke ruang luar tersebut dan menghampiri lelaki tua yang sudah merawatnya sejak berpuluh tahun lalu. Ia rasakan tepukan-tepukan pelan tangan lembut sang ayah pada punggungnya. Ia kemudian kembali beralih pada sang ibu yang tampak hampir menitikkan air mata karena kunjungan surprise kedua anaknya tersebut. Dan setelahnya, acara melepas rindu itu terus berlangsung.

***

Malam menjelang dan suara ombak masih menemani Sooyoung yang tengah mengistirahatkan tubuh di ranjang kamarnya. Ia mengubah posisi menjadi menelungkup dan saat itu juga pintu kamarnya terbuka, Siwon berdiri di ambang pintu. Kemudian lelaki itu memposisikan tubuhnya di samping ranjang rendah millik Sooyoung dan duduk menghadap wanita itu. Keduanya berpandangan dalam diam cukup lama sampai Sooyoung memecah suasana.

“Jika kau mengajakku pulang malam ini, maka aku akan menolak dengan keras. Aku ingin di sini dulu sampai puas,” ujarnya dengan suara lemas.

Siwon tersenyum kecil dan membalas, “Sampai? Besok? Lusa? Seminggu lagi?”

“Sebulan lagi. Aku tidak ingin kembali ke Seoul,” ujar Sooyoung lagi dan mampu membuat Siwon tertawa kecil akibat tingkahnya.

“Bagaimana dengan pasienmu kalau begitu?” tanya Siwon padanya dan hanya mendapat balasan sebuah senyuman kecil.

Untuk beberapa saat hening tercipta dan yang terdengar hanya suara air dari laut dan dinginya malam. Sooyoung menumbukkan pandangannya pada wajah Siwon yang begitu menawan dan digilai banyak wanita. “Oppa. How was it for you back then?” tanyanya pada lelaki itu. Siwon menaikkan satu alisnya tanda kebingungan dan balas bertanya, “mwoga?”

Sooyoung menghela napas pelan dan merubah posisinya menjadi duduk bersila. Ia menepuk-nepuk ruang kosong di ranjang sebelah kanannya dan memerintahkan Siwon untuk duduk di situ, dan ia pun menurut.

“Dulu… apakah sulit untukmu tiba-tiba memiliki adik sepertiku? Dan bagaimana aku dahulu, Oppa? Am I a good sister… or am I a bad one?”

Senyum tulus terpancar dari wajah Siwon. Ia membenarkan letak duduknya hingga ia rasakan berada pada posisi duduk ternyaman untuknya, kemudian menghela napas kuat, dan memancangkan matanya pada wanita di hadapannya. Senyumnya tak pernah hilang.

Well, untuk menjawab pertanyaan pertamamu, aku memang sudah menginginkan seorang adik sejak sebelum mengenalmu, Choi,” lelaki itu berhenti beberapa saat, dahinya membuat kerutan-kerutan seraya ia terlihat seperti berpikir.

“Dan aku dulu memiliki seorang adik sepertimu bagaimana? Hmm… it was tough,” ujarnya lagi dan kembali berhenti untuk melihat ekspresi yang digunakan Sooyoung saat mendengar kalimatnya. Rasa bersalah terlihat paling kuat dari wajah wanita itu.

Detik jarum jam terdengar, Sooyoung meraih sebuah bantal dengan tangannya dan memeluk bantal itu ketika Siwon kembali melanjutkan, “It was tough, indeed. Tapi aku menyukainya. Aku senang memiliki kau, nae dongsaeng, Choi Sooyoung. Well, jika dikatakan kau tidak menyusahkan maka aku berbohong. Kau lebih suka menyendiri seberapa sering pun aku mengajakmu bermain bersama teman-temanku, kau jarang tersenyum –hampir tidak pernah bahkan dulu, kau jarang bicara denganku, but once again, aku senang bersamamu. Dan aku tidak pernah menyesalinya sekalipun seumur hidupku.”

Kedua bola mata wanita itu terlihat berubah sayu saat Siwon menutup bibirnya. Rasanya hatinya seperti dihantam bebatuan besar saat teringat kembali dirinya dulu cukup menyusahkan untuk Siwon, namun lelaki itu tak pernah kehilangan kesabarannya, bahkan di umurnya yang masih sangat muda.

Mianhae, Oppa, mianhaeyeo,” ujarnya sambil menundukkan kepala. Rasa bersalah menguasai dirinya dan kekuatan untuk menatap lelaki itu seperti hilang saat itu juga.

Siwon mengacak pelan rambut wanita itu kemudian tangan kanannya beralih pada lengan atas Sooyoung, mengelusnya lembut seakan berusaha menenangkan wanita itu. Tangannya yang satunya kemudian juga ia letakkan di lengan Sooyoung yang masih terbebas, ia kuatkan genggamannya pada tubuh wanita itu dan berkata, “Tidak pernah ada satu pun dari memoriku dahulu yang kusesali. You are a good dongsaeng, Sooyoung-ah. Gwenchana, it was so hard for you too back then, you needed time.”

Sooyoung menarik satu ujung bibirnya dan kali ini berhasil menatap lelaki itu, namun tak membalasnya dengan kata-kata.

Hokshi… Apa aku pernah bercerita padamu tentang dahulu sebelum aku bertemu denganmu?” tanya wanita itu lagi.

Siwon menggeleng pelan kemudian membalas, “Tidak pernah, sekalipun, satu kata pun tidak. And that’s okay, Soo.” Rambut-rambut Sooyoung terjatuh ke arah wajahnya seraya ia menundukkan kepalanya lagi.

“Hei, cheer up, Choi! Aku bahkan bersemangat menjadi seorang psikiatris untukmu!”

Wanita itu kembali tersenyum, “Mengetahui jika kau menempuh jalan hidup sebagai seorang psikiatris karena aku membuatku makin merasa bersalah, kau tahu?” tanyanya. Kali ini Siwon tak membalasnya dan hanya tertawa kecil.

“Sudah larut, tidurlah,” ujar Siwon akhirnya.

Sooyoung menidurkan tubuhnya, miring ke sisi kanan sementara Siwon menarik selimut untuk wanita itu. Langkah kaki lelaki itu mulai mengarah ke luar saat tiba-tiba Sooyoung kembali memanggilnya, “Oppa,” ujarnya. Siwon berdiri di ambang pintu, membalikkan badan untuk memenuhi panggilan sang adik.

Wae?” tanyanya lembut.

Gomawo, Oppa,” ujar Sooyoung lagi saat Siwon mematikan lampu kamar itu dan sebuah senyuman terbentuk pada wajah lelaki itu.

***

Satu botol soju kembali menumpuk mengikuti dua botol lain di meja makan dengan ukuran cukup besar di sebuah rumah. Berbagai kertas berisikan tulisan dan paragraf panjang berserakan pula di meja tersebut. Dan seorang lelaki dengan pakaian tidurnya –Kyuhyun– nampak sedang terlalu serius memperhatikan kertas-kertas tersebut sambil meneguk gelas-gelas sojunya.

Mian, gomawo,” ujarnya dan ketika itu juga sebuah alat perekam video dan suara dengan ukuran yang cukup kecil keluar dari bawah meja makan itu. Kyuhyun memang memasang alat tersebut untuk merekam segala hal yang menurutnya penting sehingga jika suatu saat ia tak mampu mengingat, ia bisa memutar ulang rekaman-rekaman yang telah dibuatnya. Sementara mian dan gomawo adalah kata kunci yang ia tetapkan agar alat perekam tersebut otomatis bekerja saat mendengar dua kata tersebut diucapkan olehnya.

Ia menelan ludah, berdehem kecil, kemudian mulai berbicara, “Awal bulan Juli, tahun 2017, pukul satu lebih tiga puluh tiga menit,” lelaki itu berhenti sebentar. Matanya terpejam sambil ia mengatur napas, dan setelah helaan napas terakhir, suaranya kembali terdengar, “yang kutahu selama ini adalah ayahmu yang membunuh ibuku di meja operasi itu, yang kutahu adalah Appa di balik jeruji itu karena korupsi di perusahaannya, yang kutahu adalah aku, Cho Kyuhyun, anak laki-laki yang meninggalkanmu karena rasa benciku pada ayahmu setelah membunuh ibuku, yang kutahu adalah itu,” ia menundukkan kepalanya lagi, otaknya tak mampu memberi perintah untuk melanjutkan kalimatnya, dan hatinya tak kuat mengetahui segala kebenaran akan kebohongan yang selama ini ia ketahui dan ia percaya. Bulir air mata hampir saja jatuh dari matanya namun ia berhasil menahannya, tangannya mengepal, kemudian ia kembali berkata, “keunde, aku salah kan, Soo? Apa yang kuketahui, semuanya adalah kebohongan konyol kan, Choi Sooyoung?”

Kyuhyun memasukkan tangannya yang masih belum cukup sehat pada saku celana bagian kirinya, ia berdiri dari duduknya dengan kepala menunduk, tangannya yang masih bebas ia gunakan untuk menumpu beban tubuhnya pada meja. Matanya tertumbuk pada satu potongan kertas koran yang ia dapatkan dari hasil investigasinya sendiri. Berkali-kali ia alihkan matanya dari kertas itu ke dinding, atau ke langit-langit, atau bahkan ke lantai dan kembali ke kertas tua itu, namun sekalinya ia melihat tulisan yang tercantum, tubuhnya serasa kaku di seluruh bagian, tangannya mengepal ingin menghabisi dirinya sendiri.

“Balasan Nyawa dari Cho untuk Profesor Choi,” bacanya lagi dalam hati. Ia memejamkan mata sekejap, berusaha membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Matanya kembali terbuka dan kali ini menatap pada sebuah potongan kertas koran lain yang juga menjadi perhatiannya. Napasnya mulai bertempo cukup cepat dan keras ketika ia baca tulisan itu. Raut wajahnya tak terbaca, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, dan matanya memerah karena marah.

“Kematian Sang Dokter di Tangan Sahabatnya Sendiri.”

—–

FOURTH PIECE: HONEYSUCKLE DONE

—–

Author’s Note

Hello again! After such a long time… I am so sorry that I didn’t post this series as fast as I could, and for killing your hopes slowly, I am so so so sorry… My schedule is sooo tight that I didn’t even have the time to re-read this story before I post it. FYI, I am a student majoring in architecture study and that’s the reason for my late-story-posting. Sorry again…

Anyway, I think that this series will be a little short because of the story-line that I made was, indeed, nggak terlalu panjang. And if you have kind of figured out how the story’s gonna be in the future… please tell me ’cause I’m kinda curious too of how’s the story will be in your version!

Ah yes, the next part is actually done and just need a little bit of finishing touch before I post it, so, be ready!

Thanks for reading!

Soshinism’s out.

Advertisements

7 thoughts on “Pastel Pistol: Honeysuckle”

  1. Masih banyak misteri dan teka teki antara kyuyoung berdua aku takut kalau masa lalu sooeoni terungkap kyuyoung akan canggung hubungan bahkan yg parah sooeoni bsa membenci siapapun di keluarga kyu oppa ah jinjayo next part di tnggu chigu

  2. Masih bayak puzzle yg belum sempurna di cerita itu.. dan itu membuatku makin penasaran…
    dan kala gak salah diakhir sapaan penulis tadi satu part lagi dan akan berakhir… its okay but I hope this is not sad ending….

  3. alasan/misteri yang author tulis msh vague bgt 😳 jd msh agak dikit bingung 😂 (mungkin saya ny aj yg krg peka karna jrg baca story genre begini hehe)
    jd yang memulai semua ini itu papa ny soo sendiri ? (“yang kutahu selama ini adalah ayahmu yang membunuh ibuku di meja operasi itu…)
    nah motif papanya soo itu apa ya ? 😕
    penasaran selanjutnya, ditunggu. author hwaiting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s